Harga Teh Tertekan Akibat Berlimpahnya Pasokan

0
harga teh
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Harga teh tertekan akibat berlimpahnya pasokan. Padahal, serapan teh dalam negeri hingga akhir 2019 diperkirakan meningkat 2%-3% dibandingkan realisasi pada 2018 yang mencapai 50% dari total produksi, yakni sebesar 140.000 ton.

Ketua Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo), Nugroho B. Koesnohadi mengatakan, saat ini tren harga teh masih cukup rendah. Hal ini disebabkan oleh banyaknya suplai teh secara global. Bagaimanapun, suplai tersebut tidak diimbangi dengan permintaan yang seimbang di pasar sehingga menyebabkan harga anjlok.

“Teh itu secara global memang sedang over supply untuk produksi. Untuk teh hitam, harga mencapai US$1,55/kg, sedangkan teh hijau sedikit lebih tinggi yaitu senilai US$2/kg.,” kata Nugroho.

Ketua Umum Asosiasi Teh Indonesia (ATI), Dede Kusdiman menambahkan, selain rendahnya harga, komoditas teh juga masih dibayangi berbagai permasalahan yang menghambat pertumbuhan teh di Indonesia. Di antaranya, biaya produksi teh dinilai terus naik sementara harga tetap. Padahal, harga jual teh ekspor tahun 2018 dinilai hampir relatif tetap. Harga teh tersebut berkisar antara US$ 1,5 hingga US$ 2 per kilogram (kg).

Sementara biaya upah tenaga kerja dinilai mengalami kenaikan mencapai 15%. Padahal upah kerja mendominasi biaya produksi teh. “Alokasi biaya upah umumnya mencapai 60% hingga 70% dari struktur biaya, sehingga perlu upaya efisiensi yang sangat tinggi,” ujarnya.

Efisiensi dilakukan dengan mengganti bahan bakar dengan menggunakan wood pellet. Sebelumnya untuk pengolahan teh oleh industri hulu menggunakan bahan bakar minyak dan gas. Namun, harga yang tinggi membuat biaya produksi tertekan.

Selain itu juga pernah menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar. Tetapi penggunaan kayu bakar menyebabkan kandungan anthraquinone (aq) tinggi. “Dampak kontaminasi aq telah menurunkan pangsa pasar sebanyak 50% di pasar Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir,” papar Dede.

Penggunaan wood pellet dinilai lebih menguntungkan. Hal itu karena wood pellet memakan biaya lebih murah dan bebas dari residu aq.

Selain tingginya beban biaya, kelebihan suplai pun dinilai menghantui produsen. Suplai yang tinggi akan membuat harga teh menjadi tertekan.

Produksi teh dunia tahun 2014 hingga 2016 berturut-turut adalah 5,2 juta ton, 5,28 juta ton, 5,5 juta ton. Menurut Dede, produksi teh dunia tahun 2018 diprediksikan akan melebihi dari 5,5 juta ton.

“Bayang-bayang over supply akan terus terjadi, karena itulah diperlukan upaya konkret untuk mengatasinya,” tegas Dede.

Padahal produksi teh Indonesia pada tahun 2017 mengalami penurunan. Produksi teh Indonesia pada tahun 2017 mengalami penurunan, dan hanya mencapai 118.000 ton. Sementara tahun sebelumnya produksi teh Indonesia dilaporkan mencapai sebanyak 142.100 ton.

Meski produksi turun, harga teh Indonesia ikut tertekan. Hingga bulan Februari harga teh Indonesia sebesar US$ 1,56 per kg.

Oleh karena itu, Dede meminta perlunya industri hulu dapat meningkatkan mutu produksi teh Indonesia. Selain itu biaya produksi pun perlu ditekan dengan efisiensi produksi agar daya saing meningkat.

Investasi seperti peremajaan pun perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi. Selain menjual teh, Indonesia pun dinilai perlu mengembangkan produk agar memiliki nilai tambah. Pengembangan pasar pun perlu ditingkatkan, baik pasar domestik maupun pasar ekspor.

“Peluang di pasar teh masih menjanjikan dan teh merupakan usaha yang profitable,” ungkap Dede.

Ketua Confederation International Tea of Smallholder (CITS), Rachmat Badruddin mengatakan, meski harga teh dunia belum membaik akibat kelebihan pasokan, keberadaan teh tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena 70 persen areal teh dunia dimiliki dan dikelola petani, sedangkan 60 persen produksi teh dunia dihasilkan petani.

Ditambahkan Rachmat bahwa perkebunan teh rakyat merupakan komponen yang penting. Karena 70 persen areal teh dunia dikelola petani. Sedangkan 60 persen produksi teh dunia dihasilkan dari petani.

“Maka jika terjadi masalah dengan petani teh, seluruh mata rantai (supply chain) akan terganggu,” ujarnya.

Rachmat mengungkapkan, kondisi teh yang berlebihan terjadi sejak 25 tahun lalu yang berakibat harga teh turun di pasar dunia. Di sisi lain, semua negara produsen teh selalu ingin meningkatkan produksi dan ekspornya. “Jadi di pasar dunia terjadi over supply sehingga harga turun,” tukasnya.

Kendati begitu, ujar dia, sebenarnya konsumsi teh dunia mengalami kenaikan. Namun prosentase kenaikan tidak secepat kenaikan produksi teh itu sendiri. China meningkatkan lahan hingga 1 juta hektar (ha). Sedangkan Indonesia hanya 115 ribu ha saja, yang terdiri dari PTPN, PBS, dan perkebunan rakyat.

Dia juga mengingatkan bahwa Indonesia sebagai ketua CITS harus mengambil manfaat. Karena hal ini merupakan kesempatan untuk mendekatkan hasil produksi dari petani dengan pasar. “Tujuannya untuk meningkatkan pola hidup petani teh kita yang jumlahnya terbesar yakni 47 persen dari luas areal yang ada,” pungkasnya. ***SH, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini