380 Ribu Ha Perkebunan Karet Terserang Penyakit Gugur Daun

0
penyakit gugur daun karet
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian dan Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat saat ini terdapat sekitar 381.000 hektar perkebunan karet yang terserang penyakit gugur daun yang disebabkan cendawan Pestalotiopsis sp.

Enam provinsi sentra karet terdeteksi terkena penyakit tersebut yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

“6 provinsi per 16 juli yang terserang 381.900 hektar atau 10 sampai 11 persen dari total perkebunan karet seluas 3,6 juta hektar,” kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono saat konferensi pers di Kemenko Perekonomian, Jakarta, baru-baru ini.

Akibat dari serangan penyakit ini, tanaman karet mengalami gugur daun berulang dalam periode yang panjang bahkan di luar periode gugur daun alami yang secara langsung menurunkan produksi. “Penyakit ini diperkirakan berdampak pada penurunan produksi karet Indonesia secara nasional pada tahun 2019 minimal 15 persen,” ucap dia.

Kasdi menyebutkan, eskalasi dan intensitas serangan penyakit gugur daun ini mengalami peningkatan yang signifikan sejak tahun 2017.

Pemerintah saat ini akan melakukan beberapa upaya untuk mengatasi hal tersebut. Antara lain, membantu petani untuk mengendalikan penyakit tersebut dengan menggunakan fungisida berbahan aktif heksakonazol atau propikonazol dan memberikan bantuan pupuk untuk meningkatkan ketahanan tanaman karet terhadap serangan penyakit tersebut.

“Munculnya penyakit ini dan juga penyakit lain terutama disebabkan menurunnya ketahanan tanaman akibat ketidakmampuan petani/pekebun untuk merawat kebun sesuai standar. Hal ini utamanya dikarenakan turunnya harga karet pada level rendah dalam rentang waktu yang lama,” papar Kasdi.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud mengatakan, perkebunan karet Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat (85%) dan mampu menciptakan lapangan kerja bagi 2,5 juta keluarga dengan rata-rata luas kepemilikan kurang lebih 1,25 hektar.

Karet merupakan salah satu andalan ekspor yang berkontribusi besar terhadap devisa negara. Volume ekspor mencapai 2,99 juta ton dengan nilai US$ 5,10 miliar.

Dia juga menjelaskan bahwa harga karet telah mengalami peningkatan sejak bulan Januari 2019. Saat ini, harga karetTechnical Specified Rubber (TSR) 20 di tingkat internasional berada di atas US$ 1,4 per kg.

“Pemerintah akan terus menjaga produktivitas dan harga karet alam, termasuk dengan menangani penyakit gugur daun karet ini, peremajaan karet rakyat, maupun upaya-upaya lainnya” ucap Musdhalifah.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), Moenarji Soedargo mengakui, akibat serangan penyakit gugurdaun tersebut pihaknya kini mengalami penurunan ekspor secara signifikan.

“Sepanjang sejarah baru pertama kali kita mengalami penurunan ekspor mencapai ratus ribuan. Selama Januari hingga Juni kami mengalami penurunan ekspor sebanyak 200.000 ton,” ucap dia.

Moenardji Soedargo menampik permintaan karet menurun akibat pertumbuhan ekonomi yang lambat.

Namun, ia memprediksi produksi karet dalam negeri turun 15% pada tahun ini dibanding 2018 karena penyakit jamur. Total lahan yang terjangkit jamur gugur daun mencapai 381,9 ribu hektar atau sekitar 10% dari total 3,6 juta hektar lahan karet di Indonesia.

“Orang mengatakan bahwa ekonomi global sedang slow, tetapi karet tidak hanya dijual untuk ban mobil baru, melainkan untuk mobil bekas,” kata Moenardji.

Pertumbuhan ekonomi yang lambat memang akan membuat orang menunda membeli mobil baru. Namun, mobil-mobil lama yang masih digunakan saat ini tetap membutuhkan ban baru.
“Orang boleh menunda membeli mobil baru, tetapi tidak akan menunda keselamatan dengan tidak membeli ban baru,” katanya.

Saat ini harga karet di pasar internasional dianggap rendah. Saat ini, harga karet di tingkat internasional sebesar US$1,4 per kg, padahal menurutnya bisa mencapai US$ 2 per kg. Selama ini, pembatasan ekspor karet tidak menaikkan harga karet. Selain itu, sebanyak 70% karet alam merupakan bahan baku untuk pembuatan ban kendaraan.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena produksi karet di Indonesia turun. Dampaknya, volume ekspor komoditas karet Indonesia semester I-2019 anjlok hingga 200.000 ton.

Penyebabnya tidak lain karena serangan jamur Pestalotiopsis sp atau gugur daun. Jamur ini menyebabkan pohon karet mengalami gugur daun dalam periode panjang bahkan di luar periode alami sehingga menurunkan produksi karet.

Kementerian Pertanian pun menduga bahwa jamur ini sudah muncul sejak 2017 silam dan meningkat pada tahun 2019 ini. Ketidakmampuan petani untuk merawat kebun menjadi faktor yang menyebabkan pohon karet terkena serangan jamur tersebut.

Namun, hal itu dimaklumi karena pendapatan petani karet pun tergolong rendah sehingga tidak cukup untuk membiayai perawatan pohon secara maksimal.

Atas fenomena ini, Moenardji mengatakan ada pelajaran yang bisa dipetik. Jika harga terus menurun dan tidak membalik, katanya, ini menjadi bahaya. “Saya kira dunia internasional paham tapi ini menjadi awal yang akan membuka mata dan pikiran. Perlu kemauan bagaimana platform market yang sehat,” kata Moenardji. **SH, NM, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini