Achmad Mangga Barani Raih BUN AWARD 2019

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tokoh perkebunan nasional Ir Achmad Mangga Barani, MM, meraih BUN Award dengan dinobatkan sebagai Tokoh Motivator Perkebunan. Selain Mangga Barani, BUN Awar juga diberikan kepada Dr Purwadi MS, Tokoh SDM Perkebunan dan Ir Gamal Nasir MS sebagai Tokoh Inspiratif Perkebunan.

Pengembangan komoditas perkebunan Indonesia perlu terus ditingkatkan. Hal ini mendesak dilakukan di tengah persaingan ketat dengan negara-negara lain yang juga tengah giat mengembangkan komoditas perkebunan mereka.

Salah satu upaya untuk mendorong pengembangan komoditas perkebunan di Indonesia melalui Bun Awards.

Bun Awards merupakan pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh perkebunan dan diharapkan dapat memotivasi generasi milenial untuk terlibat dalam mengembangkan komoditas perkebunan di Indonesia.

Praktisi Perkebunan, DR.Karyudi mengatakan, saat ini Indonesia masih yang terdepan dalam sejumlah komoditas seperti kelapa sawit, pala dan lada. Namun harus diakui juga bahwa negara lain sudah lebih baik di sektor lain seperti kakao, gula dan kopi. Padahal dulunya, Indonesia merupakan penghasil dan pengekspor komoditas tersebut di dunia.

“Meski begitu, persaingan makin besar dimana negara-negara lain pun juga berinovasi untuk komoditas perkebunan. Disinilah adanya Bun Awards untuk memotivasi para pelaku perkebunan,”kata Karyudi dalam acara BUN Award 2019 yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan, di Jakarta, Kamis (19/12).

Ketua Forum Pengembangan Perkebunan Strategis berkelanjutan (FP2SB), Achmad Mangga Barani mengatakan bahwa bangsa Indonesia telah meniti sebuah sejarah panjang.

Tak pelak lagi Perkebunan Indonesia dengan segala dimensinya yang mencakup komunitas, perdagangan, industri dan areal perkebunan itu sendiri telah menoreh sejarah dengan warna tersendiri dalam Sejarah Indonesia.

Sejak rempah-rempah diminati dan menjadi komoditas mewah bagi kerajaan-kerajaan di dunia beberapa abad sebelum masehi,gugusan kepulauan nusantara menjadi layaknya “Zamrud Khatulistiwa”.

“Fakta sejarah menunjukkan bahwa rempah-rempah yang tumbuh subur di Bumi Nusantara, seperti, pala, lada, dan cengkeh telah diperdagangkan sejak zaman pra kolonial antar benua dengan mengandalkan transportasi laut,” ucap Mangga Barani .

Bahkan menurut Manggabarani, kemewahan rempah-rempah yang bernilai ekonomi tinggi menarik perhatian dan menjadi motivasi utama Bangsa-Bangsa Eropa datang ke Nusantara, khususnya Belanda.

Diawali motif perdagangan rempah akhirnya Bangsa Belanda mampu monopoli perdagangan di Nusantara dan bahkan melakukan penjajahan dalam waktu yang lama (kurang lebih 350 tahun).

Penjajahan ini menorehkan catatan kelam dalam sektor perkebunan seperti sistem tanam paksa, mengalihkan fokus perdagangan dari rempah-rempah ke jenis tanaman lainnya seperti teh, kopi, tembakau, tebu, karet, rosella, kelapa sawit, kina dan lainnya dalam bentuk usaha skala besar dan kompleks, bersifat padat modal dan menggunakan teknologi modern.

Penguasaan Belanda atas komoditas perkebunan diIndonesia mampu memberikan sumbangan besar dan bahkan mampu mengantarkan Negeri Belanda lepas landas.

Masa suram Perkebunan terjadi pada masa pendudukan Jepang dikarenakan segala lapangan kegiatan ditujukan untuk menopang usaha perang untuk memenuhi bahan pangan, utamanya beras dan diadakan wajib setor sehingga banyak perkebunan yang terlantar dan menghentikan usahanya.

“Harapan baru kebangkitan Perkebunan setelah 8 tahun kemerdekaan RI, dilandasi SK Penguasa Meliter/MenhankamNo.1063/PM.T/1957 diikuti Surat Keputusan Menteri Pertanian No.229/UM/57 tanggal 10 Desember 1957, Pemerintah Indonesia mengambil alih sekitar 500 Perusahaan Perkebunan milik Belanda yang sekaligus kita abadikan sebagai Hari Perkebunan,” papar Mangga Barani.

Hingga akhirnya berdasarkan data Badan Pusat Statistis (BPS) dan Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa 10 (sepuluh) penyumbang devisa terbesar di Indonesia pada tahun 2017 yang berada pada urutan pertama yaitu dari ekspor komoditas perkebunan kelapa sawit, sebesar 239 triliun.

Selanjutnya baru diikuti, Jasa Pariwisata (Turis Asing) – Rp 190 triliun, Eskpor Tekstil – Rp 159 triliun, Ekspor Migas – Rp 170 triliun, Ekspor Batubara – Rp 150 triliun, Jasa TKI – Rp 140 triliun, Ekspor Elektronik – Rp 80 triliun, Ekspor Hasil Kayu Hutan – Rp 70 triliun, Ekspor Karet – Rp 65 triliun, Ekspor Sepatu dan Sandal – Rp 60 triliun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini