Bertahan di Tengah Badai Pandemi, Industri Sawit Paling Elastis

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Opini

Dr cn Ir Gulat Medali Emas Manurung, MP.,C.APO *

Badai Pandemi dan dampak multi efek nya sangat terasa bagi semua negara dan umat manusia, tanpa kecuali Indonesia.

Lesu layunya perekonomian nasional akibat pandemi Covid-19 sudah dirasakan sejak awal tahun 2020, bahkan perekonomian Indonesia sempat minus di 2020 (triwulan IV 2020 sebesar -2,19%, yoy) dan kerja keras semua lini yang saling topang akhirnya Ekonomi Indonesia pada triwulan II-2021 terhadap triwulan II-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 7,07 persen (y-on-y), ini menjadi harapan baru kedepannya.

Jika kita rajin membaca laporan perekonomian dibeberapa negara maju, tidak jauh dengan Indonesia, bahkan beberapa negara maju yang terlena dengan kemajuan industry teknologi dan perdagangan lebih parah dari Indonesia. Hal ini menjadi catatan bagi kita semua, bahwa negara yang mengandalkan dan menjaga kekayaan sumberdaya alam lebih elastis dalam masa-masa sulit seperti saat ini dan kedepannya, ya jasa ekosistem lah penyelamatnya.

Jasa ekosistem dikategorikan menjadi empat, yaitu meliputi jasa penyediaan (provisioning), jasa pengaturan (regulating), jasa budaya (cultural), dan jasa pendukung (supporting).

Jadi Jasa ekosistem merupakan manfaat yang diperoleh manusia dari ekosistem, manajemen dan tata kelola lingkungan dan sumber daya alam, serta perencanaan tata ruang. Inilah kunci keberhasilan Indonesia menghindar dari kekacauan perekonomian yang lebih dalam saat pandemic covid dan stabilnya neraca devisa negara.

Ya benar, jasa ekosistem terbesar yang diterima negara ini adalah dari tanaman kelapa sawit, kita harus beryukur karena sawit tumbuh dengan subur di Indonesia, ini adalah anugerah Tuhan kepada Indonesia.

Hasil penelitian Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, PASPI (2021), mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kabupaten kota yang memiliki perkebunan kelapa sawit cenderung lebih baik dibandingkan dengan kabupaten kota yang tidak memiliki perkebunan sawit, dan pertumbuhan ini lebih kontras perbedaannya disaat wabah Covid-19 melanda semua daerah dan negara.

10 provinsi yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru seiring dengan berkembangnya industri sawit di daerah adalah Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua dan Papua Barat, kesepuluh provinsi ini memiliki elastisitas pertumbuhan ekonomi diatas provinsi yang tanpa perkebunan sawit terkhusus di saat pandemic covid. Terkhusus kabupaten kota yang memiliki sentra sawit perkembangannya lebih cepat dibandingkan dengan kabupaten kota  yang tidak memiliki sawit.

Ini hasil penelitian secara empiris dan hasilnya sama dengan penelitian World Bank (Bank Dunia).

Hasil penelitian APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) di tiga Provinsi Sawit (Riau, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat), rerata pendapatan bersih petani sawit/ha/bulannya Rp.1.485.000 (dihitung pada bulan Juli 2021), dimana rata-rata kepemilikan petani hasil survey tersebut adalah 4,18 ha yang artinya per bulan petani mendapat penghasilan bersih Rp.6.207.300 dengan tingkat keberlanjutan (sustainability) aspek ekonomi, ekologi dan sosial masuk dalam kategori sangat berkelanjutan.

Kita sangat diuntungkan karena perkebunan kelapa sawit di Indonesia 42% (hampir 7 juta ha) dikelola oleh Pekebun (masyarakat), sehingga multi player effect nya sangat besar pengaruhnya, akan berbeda ceritanya jika 85% perkebunan sawit hanya dikelola oleh korporasi. Makanya dibeberapa seminar saya selalu menekankan kepada korporasi bahwa “menyengsarakan Petani Sawit sama dengan mematikan sawit Indonesia”.  

Dan statemen saya ini menjadi referensi NGO-NGO luar negeri untuk atur strategi. Data lain yang terungkap adalah bahwa 1 ha kebun sawit masyarakat itu sama dengan 1.000 ha kebun sawit korporasi manfaatnya terhadap aspek sosial dan ekonomi masyarakat sekitar perkebunan sawit tersebut, oleh karena itu tidak heran jika dari hasil penelitian  kerjasama Lembaga Penelitian Universitas Riau dengan APKASINDO (2021) bahwa perkebunan sawit masyarakat nilai keberlanjutannya lebih tinggi dibandingkan kebun sawit korporasi.

Data BPS (2020) menunjukkan di tengah menurunnya pertumbuhan ekonomi global dan nasional, justru industri perkebunan kelapa sawit semakin kokoh berdiri tegak dan berjalan normal.

Industri sawit yang paling tangguh di negeri ini dan sebagai andalan bangsa.

Kendati Tangguh bertahan di tengah pandemi Covid-19, masih ada tantangan bagi industri sawit, khususnya dalam pemasaran dan serapan produk minyak sawit tidak hanya terpaku ke CPO dan B-30, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Harus ada usaha besar-besaran men-created demand dalam negeri dan luar negeri. Bukan hanya memelihara (serapan) pasar yang sudah ada, tapi juga membuka pasar baru dan BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) sebagai andalan terdepan dalam hal ini.

Indonesia sangat bijak ketika mendirikan BPDPKS 6 tahun yang lalu, tanpa BPDPKS sulit terbayangkan harga CPO Indonesia saat ini,

Sawit tidak mensyukuri pandemi covid ini, tapi faktanya dengan adanya corona, negara penghasil minyak nabati lainnya seperti Brasil, Argentina dan Negara UE lainnya mengalami penurunan produksi dan disaat yang bersamaan permintaan CPO sebagai bahan baku obat dan keperluan kesehatan lainnya meningkat signifikan.

 *Ketua Umum DPP APKASINDO 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini