Kanya Lakshmi Sidarta: Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)

0

Semua Pihak Harus
Perjuangkan Sawit

Maraknya tekanan terhadap terhadap industri kelapa sawit membuat Kanya Lakshmi Sidarta bertekad memperjuangkan sawit dengan sepenuh hati. Dalam penilaian Sekjen Gapki ini, perlakuan terhadap industri sawit sejauh ini belum sepadan dengan kontribusinya yang begitu besar. Karena itu, ia minta semua pihak agar turut memperjuangkan sawit dari upaya pihak luar mendeskreditkannya.

Seiring meningkatnya dominasi minyak sawit pada perdagangan minyak nabati dunia, ada yang merasa terancam eksistensi bisnisnya. Hal ini memicu sengitnya persaingan minyak sawit dari Asia Tenggara dan minyak kedelai dari Eropa dan Amerika Serikat.

Akibatnya, muncul berbagai tuduhan negatif yang silih berganti. Masalahnya kita sering telambat reaktif dalam menghadapi kampanye negatif ini. Indonesia mestinya proaktif mempromosikan citra positif industri sawit.

Lakshmi menilai munculnya serangkaian kampanye negatif akibat dari persaingan memperebutkan pangsa pasar minyak nabati dunia, antara sawit dengan kedelai, rapeseed dan bunga matahari.

Menurut dia, saat ini, persaingan bisnis head to head tidak dapat melawan minyak sawit, karena sawit paling produktif dan biaya produksinya paling ekonomis. Ada dugaan kuat negara-negara penghasil minyak nabati non-sawit menggunakan alasan lingkungan dan kebijakan ekonomi-politik negara untuk menghambat ekspansi minyak sawit.

Negara-negara Eropa dan AS memang sangat berkepentingan melindungi industri dan petani minyak kedelai dan minyak nabati lain mereka.

Sebenarnya tuduhan negatif terhadap minyak sawit bukan saat ini saja, tetapi sudah lama digaungkan oleh Eropa dan Amerika.

kanya laksmi sidharta

Tuduhan negatif pertama kali muncul di era 1980-an, yakni minyak sawit dituding mengandung kolestrol tinggi sehingga membahayakan kesehatan konsumen. Namun, hal ini dapat dipatahkan oleh hasil penelitian lembaga riset Malaysia.

Selanjutnya, muncul tuduhan perkebunan sawit khususnya di lahan gambut dituding menyebabkan tingginya emisi karbon dan merusak lingkungan. Indonesia dianggap sebagai penjahat iklim karena turut andil meningkatkan emisi karbon pemicu pemanasan global.

Padahal, emisi terbesar dihasilkan oleh negara-negara maju yang sektor industrinya berkembang pesat. Bahkan penelitian terbaru menunjukkan bahwa emisi karbon di lahan gambut yang ditanami sawit lebih rendah dibanding hutan.

Tak hanya itu, diskriminasi terhadap minyak sawit terus terjadi.

Untuk itu Lakshmi berpendapat, sawit dan industrinya perlu dibela? Sebab, sawit adalah sumber devisa. Indonesia merupakan pengekspor kelapa sawit terbesar dunia. Pada tahun 2017, Indonesia mengekspor 31 juta ton kelapa sawit dan berhasil mendulang devisa hampir US$ 23 miliar (Rp 317 triliun) atau 13% dari nilai keseluruhan ekspor Indonesia. Jumlah ini bahkan lebih tinggi dari kontribusi ekspor minyak dan gas yang ‘hanya’ 9% atau senilai US$ 15,7 miliar (Rp 217 triliun).

Industri kelapa sawit di Indonesia juga disebutkan menyerap tenaga kerja sektor perkebunan yang tidak sedikit.

Selain itu sawit memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan sumber minyak nabati lainnya, seperti kedelai, bunga matahari, reepseed, kanola dan lainnya.

Luas areal lahan 4 penghasil minyak nabati utama dunia (Kelapa Sawit, Kedelai,Bunga matahari dan Rapeseed) pada tahun 2016 adalah sekitar 200,5 juta hektar. Dari luasan tersebut, 61% (212 hektar) adalah areal kebun kedelai. Sedangkan luas areal perkebunan kelapa sawit hanya 10%.

Namun dari segi produksi minyak, dengan areal 121 juta hektar kedelai hanya menghasilkan minyak sebesar 53 juta ton atau hanya 33% dari produksi 4 minyak nabati utama dunia. Sebaliknya kelapa sawit dengan areal seluas 20 juta hektar mampu menghasilkan minyak sebesar 65 juta ton atau 40% dari produksi 4 minyak nabati lainnya.

Produktivitas minyak kelapa sawit per hektar lahan jauh lebih tinggi (8-10 kali lipat) dari produksivitas minyak nabati lainnya. Sehingga, dengan lahan yang lebih sedikit mampu menghasilkan minyak nabati yang lebih besar. Data produktivitas minyak nabati tersebut juga mengungkapkan bahwa perkebunan kelapa sawit merupakan tanaman yang paling efisien memanen energi surya menjadi minyak nabati.

Akibat perbedaan produktivitas minyak per hektar tersebut, telah terjadi perubahan pangsa produksi minyak sawit dan minyak kedelai dalam pasar minyak nabati dunia.

Pangsa minyak sawit meningkat 22% (1965) menjadi 40% (2016), sedangkan pangsa minyak kedelai turun dari 59% menjadi 33% pada priode yang sama. Dengan demikian, cukup jelas bahwa besarnya pangsa minyak sawit dalam produksi minyak nabati dunia bukan karena luas perkebunan kelapa sawit yang lebih luas tetapi karena produktivitas minyak sawit yang lebih tinggi dari pada tanaman penghasil minyak nabati lain.

Keunggulan inilah yang memunculkan bermacam tekanan lantas datang dari luar negeri, khususnya negara-negara produsen minyak nabati (vegetable oil) lain.

“Orang luar itu bereaksi setelah bertahun-tahun (menguasai pasar). Sehingga muncul berbagai tuduhan yang tidak adil dialamatkan ke sawit. Dari sawit tidak sehat hingga merusak lingkungan karena minim pengetahuan. Sementara yang saya lihat dan amati dalam kehidupan seharian, di dalam data, nggak ada yang jelek pada sawit. Dibanding vegetable oil yang lain, sawit kita the best (terbaik),” jelasnya.

Bahkan, baru-baru ini muncul lagi tuduhan terhadap sawit sebagai penyebab deforestasi. Seperti terlihat dalam pengakuan United Nation Development Programme (UNDP), bahwa luas perkebunan kelapa sawit di dunia jauh lebih sempit daripada luas lahan kebun kacang kedelai (soybean).

Berdasarkan riset yang telah dilakukan UNDP, aktivitas peternakan sapi justru menyebabkan deforestasi hutan dan lahan lebih pesat di dunia. Peternakan sapi membutuhkan lahan seluas 1 hektar untuk melakukan budidaya ternak sapi. Aktivitas ternak sapi juga menyebabkan emisi gas karbon tinggi yang berasal dari kotorannya.

Tingginya emisi karbon yang dihasilkan, dan luasnya penggunaan lahan bagi peternakan sapi, menjadi hal utama akan penyebab deforestasi. Dapat disimpulkan secara ringkas bahwa perkebunan kelapa sawit bukan penyebab deforestasi, melainkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani kecil yang hidup di daerah pelosok.

Dari berbagai tuduhan itulah membuatnya merasa tertantang. Menurut Lakshmi, tuduhan unfairness itu bisa kita kurangi dengan cara komunikasi yang tepat membuat orang lain jadi mengerti.”Saya ingin lebih kenceng lagi ngomong,” tukasnya.

Bagi Lakshmi, memperjuangkan sawit berarti menjaga kebanggaan merah-putih. Menurutnya, sawit memberi manfaat kepada banyak orang di kota dan desa. Lahan kosong tanpa kehidupan pun menjadi bergeliat karena sawit.

“Dulu di beberapa daerah seperti kota mati. Namun sekian tahun kemudian daerah itu tumbuh dan berkembang setelah ada sawit. Bahkan telah terjadi pemekaran wilayah menjadi beberapa kota dan kabupaten. Perubahan seperti itu tak bisa dilakukan komoditas lainnya,” tegasnya.

Setelah berjalan bertahun-tahun, orang luar masih menuduh sawit menggunakan tenaga kerja anak-anak di bawah umur dan ibu-ibu. “Kok, saya nggak lihat semua itu. Saya geram. Kita yang ngelihat sendiri, kita yang ngejalani sendiri,” lanjut lulusan Magister Manajemen IPB itu.

Bahkan, ibu dari Putri Laras Kamila dan Dimas Abyan Tamir ini mencoba melakukan komunikasi tentang sawit dengan kedua anaknya. “Pelan-pelan gue ajarin anak gue. Berupaya bagaimana bisa menjelaskan dalam bahasanya anak-anak,” jawabnya dalam bahasa gaul.

Ketika sang anak diminta membuat prakarya tentang hutan hujan tropis (rain forest) dan menemukan gambaran sawit yang dinilai buruk, Lakshmi mengarahkannya pada sawit yang bagus. “Nih pohon sawit hijau ‘kan? Tinggi nggak? Tinggi. Terus kira-kira yang dimaksud rain forest apa? Jadi lama-lama dia berkembang dalam bahasa dia,” ujarnya menirukan pengalaman bersama anak.

Lakshmi menilai, berbagai seruan negatif yang datang merupakan tantangan untuk menjadi lebih kreatif.

Apalagi, gencarnya seruan negatif juga membawa hikmah dengan banyak orang yang bertanya dan penasaran terhadap sawit. Tinggal, tugas pelaku industri sawit adalah menjelaskan sesuai pertanyaan yang diminta. “Nggak usah semua dijelasin, kita kan bukan manusia super. Balik lagi, lu maunya apa, gue jelasin deh,” cetus wanita yang menyukai masakan Sunda dan Manado itu sederhana.

Lakshmi berharap semua pihak berjuang bersama untuk sawit, terutama pemerintah. Dia mengakui selama ini pemerintah sudah cukup berperan besar dalam memperjuangkan sawit. Namun semua itu belum cukup untuk menangkal serangan negatif.

kanya laksmi sidharta

Karena itu, Indonesia perlu lebih proaktif mempromosikan perkebunan sawit berkelanjutan. Citra positif industri sawit harus dibangun. Pendekatan sistemik dengan Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO) yang dimulai Maret 2011 perlu dukungan semua stakeholder.

Prosedur ISPO diharapkan menunjukkan komitmen Indonesia dalam memproduksi minyak sawit berkelanjutan, menjaga kelestarian sumber daya alam, dan fungsi lingkungan hidup sesuai tuntutan masyarakat global. Hubungan intens antarpemerintah harus dikembangkan pemerintah Indonesia.

Keterlibatan Kementerian Pertanian, Perindustrian, dan Perdagangan perlu disinergikan. Kampanye perkebunan sawit berkelanjutan harus terus dilakukan di berbagai negara.

Efisiensi penggunaan lahan sawit dibanding minyak nabati lain perlu diungkap terkait isu emisi karbon. Demikian juga fakta minyak sawit dibanding dengan minyak nabati lain. Untuk membangun citra positif industri sawit dan sekaligus menjawab kampanye negatif mutlak dibutuhkan riset yang andal. Lembaga penelitian sawit khususnya, perguruan tinggi, dan lembaga riset lain di Indonesia dan Malaysia dapat bahu membahu menjawab tantangan ini. Berbagai riset dari hulu untuk menghasilkan sawit dengan tingkat produktivitas tinggi, tahan hama dan penyakit hingga industri hilir berupa produk oleokimia dapat dilakukan.

Informasi karakteristik minyak sawit dan minyak nabati lain terkait dengan kesehatan dapat diungkap secara fair pada konsumen. Dukungan tenaga riset yang andal akan mampu memprediksi berbagai kemungkinan kampanye negatif industri sawit sekaligus mempersiapkan jawabannya berbasis hasil riset. Tentu perlu biaya tidak sedikit. Namun, besarnya hasil minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, serta komitmen pemerintah akan dapat mendukung. Sebagian bea keluar CPO dapat dialokasikan untuk keperluan riset ini.

Jika kampanye negatif berlanjut, kita juga perlu mengungkap efek negatif perkebunan dan minyak nabati lain terhadap kesehatan. Ini menjadi serangan balik pada minyak nabati lain yang selama ini hanya sedikit sekali disorot. Bahkan, bila perlu, pengaduan terjadinya diskriminasi perdagangan terhadap minyak sawit ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dapat ditempuh.

Berbagai kampanye negatif dan diskriminasi terhadap industri sawit dapat dianggap sebagai upaya menghambat pemanfaatan keunggulan sumber daya lahan dan iklim topis yang sangat cocok untuk sawit dan tidak dimiliki oleh negara-negara Eropa, AS, serta Australia. Kita menyadari bahwa industri sawit Indonesia belum ideal dilihat dari berbagai aspek dari hulu ke hilir. Karena itu, upaya keras membangun citra positif industri sawit mutlak harus menjadi komitmen semua pihak. ***SH

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini