Kemitraan Wilmar Mampu Tingkatkan Kesejahteraan Petani Padi

0

Berbagai kendala  dialami petani padi, baik sebelum mulai menanam maupun saat panen tiba. Sebelum tanam petani dihadapkan kesulitan mendapatkan modal memenuhi kebutuhan bibit dan pupuk, sementara saat panen tiba petani kesulitan mendapatkan harga yang memadai karena rendahnya serapan pasar. Alhasil petani sulit mendapatkan keuntungan untuk mensejahterakan keluarganya.

Kendala mulai teratasi saat ada tawaran kerjasama Program Tanam Serentak PT Wilmar Padi Indonesia (WPI), grup Wilmar. Pasalnya, perusahaan menyediakan berbagai keperluan musim tanam sekaligus memberikan pendampingan. Dan saat panen, WPI bersedia menyerap seluruh hasil panen dengan harga yang cukup tinggi dn belum pernah terjadi sebelumnya.

Tawaran ini disambut dengan hangat Sutrisno dan kawan-kawannya dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur, Desa Kartoharjo, Ngawi.

Sebagai Ketua Gapoktan, Sutrisno meyakinkan teman-temannya, sesama petani, untuk bergabung dengan kemitraan atau kerjasama dengan Wilmar. Hasilnya, selama bermitra, mereka memperoleh pendapatan yang lebih baik, terutama saat panen raya, yang biasanya harga gabah anjlok dan sulit terserap pasar, dengan adanya kemitraan mereka tetap bisa mendapatkan harga tinggi dan jaminan produksinya terserap semua oleh Wilmar.

“Petani juga tidak perlu kebingunan memperoleh pupuk, pestisida, dan benih karena semuanya dibantu penggadaanya oleh perusahaan dengan sistem Yarnen (bayar setelah panen),” kata Sutrisno sumringah, Rabu, 13/9/2023 di Ngawi Jawa Timur.

Sutrisno Ketua Gapoktan Makmur, Desa Kartoharjo, Ngawi.

Menurut Sutrisno, dalam pendampingan tersebut, mereka menggunakan Pupuk Mahkota yang diproduksi oleh PT Wilmar Chemical Indonesia. Walau bukan pupuk bersubsidi, petani rela membayar lebih karena hasilnya terbukti meningkat, dari 4 ton menjadi 7-10 ton per hektar

“Peningkatan produksi dan stabilnya harga membuat petani Bahagia karena kesejahteraan yang mereka impikan mendekati kenyataan. Kalau begini terus kita pasti Sejahtera,” ungkapnya.

Sutrisno membandingkan kondisi sebelum bermitra dengan PT WPI, selain harus mengalami kendala dalam memperoleh kebutuhan saat musim tanam, petani juga harus berhadapan dengan tengkulak. Mereka seringkali dirugikan karena kurangnya pilihan calon pembeli hasil panen, sehingga harga anjlok.

Sutrisno mengapresiasi pendampingan yang dilakukan perusahaan karena dilakukan oleh tenaga berpengalaman, sehingga petani banyak memperoleh informasi. Sebab, mereka masih sering menemui kendala, seperti batang padi yang roboh sehingga hasilnya kurang maksimal.

“Kami berharap di musim tanam yang akan datang ada benih padi yang lebih kuat,” ujar dia.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Ngawi, Supardi, mengaku gembira adanya kemitraan dengan PT WPI. Dengan adanya kemitraan, program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi terus meningkatkan kesejahteraan petani menjadi lebih mudah.

“Dengan kemitraan diharapkan akan dapat meningkatkan produktifitas dan kualitas gabah, sehingga akan mendorong kesejahteraan petani. Dengan adanya kerjasama Kabupaten Ngawi menjadi salah satu lumbung pangan nasional.,” kata supardi di Ngawi, Rabu, 13/9/2023.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Ngawi, Supardi,

Selain itu, lanjut Supardi, pemkab Ngawi juga terus mendorong pertanian ramah lingkungan berkelanjutan. Sehingga, pihaknya terus meminta petani untuk melaksanakan sistem pertanian yang sehat ini untuk mengembangkan kesuburan tanah yang saat ini mulai terkikis bahan kimia.

Program pertanian ramah lingkungan berkelanjutan ini tidak hanya cukup dengan ketahanan pangan tapi harus kita tingkatkan menjadi kedaulatan pangan.

“Bagaiamana konsep kedaulatan pangan yaitu petani kita mandiri dengan melek teknologi informasi, yang mana kita ngomong organik ataupun istilahnya ramah lingkungan tidak melulu konvensional tidak melulu tradisional,” ujarnya.

Supardi menambahkan, adanya program kemitraan antara petani dan Perusahaan, disamping untuk mendorong penguatan produksi padi juga untuk mempercepat distribusi hasil panen.

“Dari awal kami  menyambut gembira adanya kerjasama dengan PT WPI. Dan salah satu syarat yang selalu kami ajukan, adalah petani harus petani dilibatkan langsung. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dan itu terbukti, dengan adanya kemitraan kesejahteraan petani mulai terlihat nyata,” kata Supardi.

Keunggulan kemitraan, lanjutnya, dapat memotong rantai pasok yang selama ini cukup panjang karena adanya pedagang perantara atau tengkulak. Petani dapat langsung menjual produk gabahnya langsung ke  pabrik, sehingga keuntunganya dapat meningkat.

Selain kemitraan dengan perusahaan untuk terus meningkatkan dan menjadi stabilitas produksi Pemkab Ngawi juga melakukan kerjasama dengan PLN melaui program ELPAM Elektrik PAM.

“Dengan program ini, listrik bisa masuk kesawah-sawah untuk menghidupkan pompa air ditengah sawah dan biayanya lebih murah sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan dari hasil usaha taninya,” kata Supardi.

Untuk cadangan air selama musim kemarau, lanjut Supardi sangat cukup. Karena, sumber airnya diperoleh dari sumur bor dengan kedalaman tertentu (mencapai 60 sampai 70 meter) yang diharapkan dapat menyediakan air sampai berbulan-bulan atau paling tidak selama tiga bulan.

“Kedalaman sumur ini kita buat agar sumur yang ada di pemukiman tidak terganggu kebutuhan airnya. Petani di Ngawi saat ini sudah dimudahkan dengan adanya sumur bor tersebut dan adanya aliran listrik sampai ke sawah mereka. Urusan ketersediaan air untuk pertanian sudah tidak jadi masalah lagi walaupun sedang musim kemarau,” tandas Supardi.

Penyediaan sumur ini adalah hasil swadaya dari petani, dan pemerintah memberikan dukungan yaitu dengan memberikan kemudahan aliran listrik sampai ke sawah mereka.

“Mudah-mudahan, dengan pola ini di Ngawi itu sudah bisa mencanangkan indeks pertanaman (IP) 300 atau penanaman 3 kali setahun (padi-padi-jagung),” jelasnya.

Menurut Supardi, IP 300 bisa dicanangkan di Ngawi karena ketersediaan air tetap terjaga, terutama dengan adanya sumur air tanah yang berfungsi dalam menyediakan air, terutama pada musim kemarau.

Dengan kecukupan air dan ketersediaan air tadi, lanjutnya, pertanian di Kabupaten Ngawi bisa melakukan musim tanam sampai 3 kali dan produksinya sangat menggembirakan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini