Kenaikan HPE Diharapkan Dongkrak Harga Kakao Petani

0
kakao petani
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Baru-baru ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menetapkan kenaikan harga patokan ekspor (HPE) untuk produk pertanian dan kehutanan melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor: 48 Tahun 2019. Kebijakan itu diharapkan dapat mendongkrak harga kakao di tingkat petani.

Dalam beleid tersebut Kemendag menetapkan kenaikan harga referensi biji kakao, yakni pada Juli 2019 sebesar US$ 2.454,93/MT naik 5,49% dari bulan sebelumnya yaitu sebesar US$ 2.327,27/MT. Hal ini berdampak pada peningkatan HPE biji kakao pada Juli 2019 menjadi US$ 2.169/MT, atau naik 6,12% dibandingkan periode sebelumnya yaitu sebesar US$ 2.044/MT.

Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Pieter Jasman mengatakan, peningkatan harga referensi dan HPE biji kakao disebabkan menguatnya harga internasional. “Acuannya memang mengikuti harga internasional yaitu terminal New York,” kata Pieter di Jakarta, baru-baru ini.

Mengenai dampaknya bagi peningkatan ekspor, menurut Pieter, tidak terlalu signifikan karena produksi biji kakao nasional memang belum meningkat. Menurut AIKI, pasokan biji kakao lokal sangat kurang sehingga industri terpaksa harus impor.

Data asosiasi menyebutkan kebutuhan industri lokal saat ini sesuai dengan kapasitas terpasang dalam negeri sebesar 800.000 ton. Sementara produksi kakao lokal baru pada level 260.000 ton per tahun.

Mengutip data Kementerian Perdagangan, sampai kuartal-I 2019 ekspor kakao mencapai US$ 222 juta atau turun 25,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 296,4 juta.

Pieter memproyeksikan bahwa ekspor kakao di tahun 2019 kurang lebih sama dengan tahun 2018. Adapun jenis produknya sebagian besar sudah dalam bentuk kakao olahan seperti cocoa butter dan cocoa powder. Dari data Kemendag tercatat bahwa ekspor kakao di tahun kemarin berkisar US$ 1,24 miliar.

Ia optimis naiknya HPE ini berdampak positif bagi petani. “Hal ini baik bagi petani karena harga di tingkat petani juga akan naik sehingga pendapatan petani ikut naik,” ujar Pieter.

Arief Zamroni, Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia ( APKAI) menilai kenaikan HPE tidak akan berdampak besar bagi kenaikan ekspor. “Kebutuhan dalam negeri masih belum tertutupi, sementara ekspor Indonesia juga masih sangat kecil,” ungkapnya.

Selain itu, Arief khawatir hal ini semakin memberatkan petani, sebab biaya ekspor cenderung tinggi dan patokan HPE ini berkemungkinan mematikan beberapa persaingan antara eksportir. Sehingga ditakutkan muncul monopoli yang disulut oleh para produsen cokelat yang sifatnya multinational company.

Petani sendiri, kata Arief, ketika biaya keluar meningkat beban terhadap biaya tersebut tidak diberikan kepada konsumen. Malahan para petani kakao harus merelakan harga jual pertaniannya ditekan oleh pemasok.

Menutif data Bloomberg, harga kakao untuk kontrak Juli 2019 di Intercontinental Exchange (IEC) menguat 2,47% atau 59 poin ke level US$2.446 per ton. Capaian itu pun melampaui level tertinggi kakao dalam 6 bulan terakhir. Pada Desember 2018, harga kakao pernah menyentuh level tertingginya US$2.420 per ton.

Diperkirakan, kekurangan kakao berkualitas di Eropa telah membantu kenaikan harga komoditas unggulan Pantai Gading tersebut.

Sementara itu, proyeksi produksi kakao di Ghana, salah satu produsen kakao besar dunia, mengalami penurunan. Sebelumnya, produksi kakao di Ghana diperkirakan mencapai 900.000 ton pada tahun ini. Namun, direvisi menjadi sekitar 850.000 ton karena pertimbangan penyakit tanaman dan cuaca.

Direktur Eksekutif Organisasi Kakao Internasional (International Cocoa Organization (ICCO), Michel Arrion mengatakan, penurunan produksi kakao Ghana belum mengubah proyeksi produksi kakao global sebesar 4,8 juta ton untuk periode 2018/2019.

“Kami tidak memiliki semua data [kakao], tetapi kami berpikir bahwa penurunan tertentu di Ghana dapat dikompensasi dengan produksi yang lebih tinggi di tempat lain, seperti Pantai Gading, ” kata Arrion.

Dia mengatakan, Ghana akan terus memproduksi sedikit demi sedikit kakao dalam jangka pendek karena penyakit tanaman. Pemerintah Ghana dan Dewan Pemasaran Ghana Cocobod telah meluncurkan program untuk mencabut pohon yang terinfeksi, kemudian menanam kembali 400.000 hektar yang terkena penyakit tersebut.

“Namun, ICCO senang dengan kenaikan tajam dalam pemrosesan kakao global pada kuartal pertama 2019, didorong oleh permintaan kuat dari industri cokelat,” katanya.

Arrion memperkirakan stok kakao akan turun, seiring dengan meningkatnya konsumsi global terhadap komoditi perkebunan ini. ***SH, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini