Kinerja Darmin Saat Jabat Menko Ekuin Mendapat Apresiasi

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI (Kemenko) periode 2015-2019, Darmin Nasution menceritakan saat dirinya diminta untuk bergabung dengan pemerintahan Jokowi-JK, tepatnya pada Agustus 2015, dirinya langsung tancap gas untuk kosentrasi membangun energi baru dan terbarukan.

Menurut Darmin, kenapa mandatori biodiesel sawit seolah jalan ditempat, ditengarai lantaran banyaknya pandangan dan kajian yang menjadi pertimbangan dalam melanjutkan program mandatori biodiesel ini.

“Beberapa kalangan bahkan memberikan masukan bahwa campuran biodiesel sawit ke minyak solar hanya akan efektif sekitar 7,5% (B7,5), tapi saat apakah bisa ditingkatkan menjadi 20%, 50% bahkan 100%, para ahli tidak ada yang menentang, tapi hanya memberikan catatan bahwa biodiesel sawit jangan sampai digunakan di wilayah dengan kondisi iklim dibawah 15 derajat. Saya kira iklim Indonesia tidak sampai sedingin itu, maka program itu saya yakini bisa lebih tinggi campurannya,” katanya dalam Forum Diskusi yang digagas Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) yang digagas “Roadmap Biodiesel 100% (B100) – Indonesia”, 17/12/2019 .

Bahkan cerita Darmin, untuk memuluskan rencananya tersebut melakukan pembicaraan dengan Panglima TNI dan Kepala Polri, dimana petinggi di kedua institusi ini mendukung penuh program mandatori Biodiesel sawit.

Namun kendala berikutnya ialah masalah titik campur, sebelumnya titik campur yang dimiliki Pertamina mencapai 112 lokasi, namun cerita Darmin, dirinya meminta itu untuk lebih disederhanakan, lantaran kapal pengangkut mesti memiliki lisensi dari Pertamina dan jumlahnya terbatas.

“Maka titik campur itu berkurang menjadi sekitar 69 titik campur, dan dikurangi lagi menjadi 29 Titik campur dan kabarnya saat ini telah sekitar 10 titik campur saja,” katanya.

Lebih lanjut kata Darmin, tidak hanya menyederhanakan titik campur, dalam kepastian pasokan dirinya juga sudah menyiapkan data dan rumus untuk memantau berapa persen realisasi dan capaian campuran biodiesel sawit ke minyak solar.

Sedianya kata Darmin, program soft launching B30 dilakukan di Desember 2019, dan diterapkan di 2020. Namun lantaran dirinya sudah tak lagi di pemerintahan, maka program itu dipercayakan ke penerusnya. “Semoga program ini akan terus berlanjut,” katanya.

Melihat peran sentral Darmin dalam mengawal berjalannya program biodiesel, DMSI dan beberapa ketua Asosiasi, memberikan apresiasi yang tinggi kepada Darmin Nasution, lantaran program Biodiesel sawit bisa berjalan dan upaya peningkatan serapan minyak sawit mentah (CPO) domestic bisa terwujud.

Tutur Ketua DMSI, Derom Bangun, sosok Darmin yang dikenalnya merupakan sosok yang fokus dan detil, bahkan pada saat Darmin menjadi Dirjen Pajak, sempat melakukan reli diskusi terkait kelapa sawit hingga fisik Derom bangun drop. “Saya sampai sempat sakit karena rapat yang terus berlanjut berturut-turut selama 3 hari dari siang sampai malam,” kata Derom mengenang.

Sementara dikatakan Ketua Aprobi, MP Tumanggor, sosok Darmin bukan sosok baru bagi dirinya, lantaran kenal sudah 34 tahun lalu serta pernah bersekolah bareng di luar negeri dan kerap melakukan beragam diskusi terkait kemiskinan dan ekonomi Indonesia kala masih menjadi mahasiswa. “Sikap tegas dan jujur beliau kerap menjadi panutan,” tandas Tumanggor.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini