Ekspor Karet 2018 Diprediksi Turun 14,8%

0
harga-karet-turun

Tahun 2018 ini ekspor komoditas karet diprediksi mengalami penurunan 14,8%, menjadi hanya sekitar 2,7 juta ton dibanding tahun 2017 yang mencapai kisaran 3,1 juta ton. Penurunan ekspor karet ini dikarenakan produksi karet lokal menurun.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), Moenardji Soedargo, baru-baru ini. Namun, meskipun ekspor karet Indonesia turun, eksportir karet tetap berusaha mempertahankan pasar di Amerika dan China.

Selain karena berkurangnya produksi, penurunan ekspor juga terkait persaingan dagang dengan beberapa negara penghasil karet tertinggi seperti Thailand dan Vietnam.

“Kita tetap menjaga market kita di Amerika, dan China, ya digeser-geser saja begitu. Hal ini dikarenakan persaingan, seperti penghasil karet nomor 1 di Thailand, Vietnam dan Indochina,” tegasnya.

Selain itu, menurut Moenardji, kebutuhan karet untuk pengolahan dalam negeri tidak meningkat secara signifikan, sehingga tidak berkontribusi mengurangi ekspor.

“Stabil saja. Mungkin permintaan dalam negeri tidak begitu besar jadi nggak begitu signifikan untuk naik dan turunnya,” jelasnya.

Masalah ekspor yang terus turun ini dinilai Moenardji, karena harga karet global tidak bersahabat. Saat ini harga karet internasional di kisaran US$ 1.300 – US$ 1.350 per ton.
Seharusnya harga karet di pasar turut terdongkrak karena kondisi penguatan dolar terhadap rupiah, namun sejauh ini malah turun.

“Memang pemerintah Indonesia, Thailand dan Malaysia selalu membicarakan upaya untuk memperbaiki harga dengan memberi pengaruh kepada pasar secara positif, agar harga bisa renomeratif. Itu yang diupayakan pemerintah. Usulannya ya kembali ke US$ 1.800 per ton minimal,” ungkapnya.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyebutkan, angka sementara ekspor karet pada tahun 2017 dilaporkan sebesar 2,9 juta ton senilai US$ 510 juta.

Per September 2018 ekspor karet mencapai 3,4 juta ton senilai US$ 328 juta atau naik 26,4 % dibandingkan Agustus 2018 sebesar 2,5 juta ton atau senilai US$ 350,7 juta.

Menurut Lukman Zakaria, Ketua Asosiasi Petani Karet, saat ini upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi yang berkontribusi pada ekspor adalah dengan diberlakukannya pelatihan terhadap petani karet.
“Di level organisasi saja ke depan diberlakukan standar kompetensi kerja nasional demi karet berkelanjutan di Indonesia. Jadi mereka kalau kerja di industri karet luar negeri punya sertifikat, ya petani kita didik saja bagaimana lahannya jangan dijual dan tetap bertahan,” paparnya.

Sementara itu, pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas menyatakan, melemahnya ekspor karet dikarenakan munculnya pesaing atau eksportir karet dari negara lain. Beberapa negara tersebut antara lain, Thailand, India dan Vietnam.

“Karena pesaing-pesaing karet kita semakin lama semakin banyak. Kan Indonesia masih menduduki posisi 2 dunia. Tapi yang harus diingat perkembangan dan produksi karet di Thailand ini sangat pesat sehingga nampaknya Indonesia perlu lebih fokus terkait produksi karet supaya nanti jangan-jangan Vietnam akan menyusul juga,” ungkapnya.

Data ANRPC (Association of Natural Rubber Producing Countries ) tahun 2014 menunjukkan bahwa negara pengekspor karet terbesar adalah Thailand, disusul Indonesia, Malaysia, Vietnam dan India.

Dwi menambahkan bahwa sejauh ini negara tersebut bepeluang mengalahkan ekspor Indonesia sehingga ini perlu menjadi catatan bagi pemerintah.

“Jadi Vietnam dan India menjadi ancaman bagi kita, kita menduduki posisi ke dua untuk produksi karet, tapi kalah dari Thailand karena Thailand pertumbuhannya lebih pesat dibanding pertumbuhan produksi karet di Indonesia. Jadi penurunan tahun ini dibanding tahun lalu menjadi warning dan catatan merah pemerintah terkait pertanian,” katanya.

Ia juga menyebut untuk tren ekspor non migas, akhir tahun tidak akan ada perubahan yang signifikan akibat masalah ekonomi global (perang dagang). Namun untuk sektor pertanian masih minus.

“Tidak ada perubahan yang banyak yang bisa kita harapkan. Karena suka tak suka, perang dagang sudah dimulai. Seperti tadi, ini sudah berdampak pada ekspor non migas kita. Tapi perkiraan saya masih positif lah dibanding tahun lalu, kecuali pertanian yang masih negatif,” jelasnya.

Harga Karet Cenderung Turun
Harga karet terus menunjukkan penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan ini menurut Ketua Umum Dekarindo Azis Pane, salah satunya akibat adanya perang dagang yang tengah terjadi saat ini sehingga menyebabkan ketidakpastian pasar. Ketidakpastian pasar ini menjadi alasan penurunan harga karet lantaran tidak ada jaminan pasar.

“Ketidakpastian ini menyebabkan stok karet semakin banyak dan permintaan semakin sedikit. Pasar pun takut untuk membeli barang dalam jumlah yang banyak,” ujar Azis .

Menurut Azis, akibat penurunan harga karet ini, yang paling dirugikan adalah negara-negara produsen karet seperti Indonesia. Karena itu, Indonesia harus meningkatkan produksi barang-barang yang berbahan baku karet di dalam negeri. Dengan begitu, Indonesia tak akan bergantung pada pasar ekspor.

Langkah pemerintah untuk mengurangi impor produk berbahan karet dianggap tepat oleh Azis, Menurutnya, Indonesia bisa memproduksi barang-barang tersebut di dalam negeri. Namun, dia meminta supaya pemerintah terus mendukung industri hilir karet ini.
“Tolong pemerintah juga saling mendukung industri. Industri inilah yang banyak menggunakan tenaga kerja ini mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Azis memperkirakan, tahun ini produksi karet Indonesia akan sama seperti tahun lalu. Dia pun memperkirakan, harga karet hingga akhir tahun akan terus tidak stabil atau terus mengalami naik turun.

“Menurut Bloomberg sekarang itu masih di bawah US$ 1,5 per kg. Padahal kalau mau sehat, harga itu harus minimum US$ 1,9 atau US$ 2 per kg,” tandas Azis. ***SH. TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini