Komunikasi Sawit Perlu Lebih Sinergis

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Lebih dari satu dekade sektor sawit telah menjadi tumpuan ekonomi nasional. Namun kampanye hitam terhadap komoditas sawit tidak pernah berhenti.

Melawan itu, para pemangku kepentingan dalam mata rantai industri sawit perlu lebih sinergis dalam merumuskan strategi komunikasi yang efektif.

“Pemerintah harus menjadi dirigen dalam perumusan strategi dan pelaksanaan program komunikasi melawan berbagai kampanye negatif sawit,” kata Tofan Mahdi, praktisi komunikasi sawit di Jakarta, Jumat (10/7).

Tofan yang juga Ketua Bidang Komunikasi GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) ini mengatakan, dibandingkan sepuluh tahun lalu, saat ini komunikasi dan kampanye positif sawit sudah sangat baik.

Pemerintah juga satu suara ketika berbicara di dunia internasional bahwa sawit adalah komoditas strategis nasional yang harus dijaga dan dipertahankan.

“Kehadiran badan layanan umum pemerintah BPDP Kelapa Sawit semakin mendukung program komunikasi dan kampanye positif sawit ini,” kata Tofan.

Yang menggembirakan, kata Tofan, perusahaan-perusahaan sawit juga memiliki kesadaran kolektif untuk ikut membangun komunikasi dan kampanye positif sawit.

“Sekarang perusahaan-perusahaan sawit besar sudah memiliki divisi atau departemen komunikasi. Ini sangat positif,” kata SVP (Senior Vice President) Communication and Public Affair PT Astra Agro Lestari Tbk ini.

Kata Tofan, jika 10 tahun lalu jarang orang membicarakan sawit, saat ini hampir semua pihak membahas sawit. Pemerintah, dunia usaha, petani, mahasiswa, media massa, juga generasi muda bicara tentang sawit.

“Kalau dulu yang bicara positif tentang sawit menjadi minoritas, sekarang sebaliknya. Mereka yang nyinyir tentang sawit semakin kehilangan audience dan relevansinya.”

Sementara itu ekonom Universitas Airlangga Dr Imron Mawardi menyarankan agar publikasi positif tentang sawit tidak hanya bicara tentang sukses perusahaan sawit. Tetapi juga mengangkat berita tentang jutaan masyarakat yang sejahtera karena menjadi petani sawit.

“Jangan lupa, 43 persen perkebunan sawit di Indonesia itu milik masyarakat,” kata Imron.

Imron percaya bahwa kampanye negatif terhadap sawit adalah bagian dari perang dagang. Negara-negara maju yang menjadi produsen minyak nabati non sawit sudah kehabisan cara untuk menghentikan dominasi sawit dalam pasar minyak nabati dunia.

“Program mandatori biodiesel yang sekarang sudah mencapai B30, ini mengerikan dan ancaman bagi Eropa dan Amerika,” kata Imron.

Imron juga setuju bahwa pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mata rantai industri minyak sawit kompak dengan satu narasi yng muaranya adalah kemandirian ekonomi bangsa Indonesia.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini