Pengembangan kakao Masih Terkendala

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

 

Meski kakao dinilai berpotensi menjadi komoditas ekspor unggulan selain kelapa sawit. Sayang, masih ada sejumlah kendala yang mesti diselesaikan.

Kendala utama ada di hulu, terutama terkait rendahnya produktivitas, tata kelola kebun, dan kesejahteraan petani.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan, produk perkebunan penghasil devisa bagi In indonesia masih didominasi sawit, yakni dengan nilai 22 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Sementara nilai ekspor kakao mencapai 1,25 miliar dol lar AS

“Agar kinerja ekspor berkelanjutan, perlu diversifikasi lagi semuanya. Kakao memang berpotensi menjadi komoditas andalan,” ujarnya saat diskusi virtual dalam rangka Hari Kakao In indonesia, Rabu (16/9/2020).

Menurut Musdalifah, akarm masalah yang perlu diselesaikan untuk mengangkat kakao sebagai komoditas ekspor unggulan terletak di hulu.

“Produktivitas perkebunan kakao saat ini tergolong rendah, yakni sekitar 200 kilogram (kg) per hektar per tahun. Sementara kebutuh an kakao untuk bahan baku industri cenderung naik. Akibatnya, impor biji kakao untuk bahan baku industri dalam negeri terus naik,” jelasnya.

Berdasarkan data Kementrian Perindustrian, jumlah bahan baku lokal yang digunakan oleh industri kakao nasional pada tahun 2015 mencapai 318.348 ton, lalu merosot jadi 196.787 ton tahun 2019.

Sebaliknya, impor kakao melesat dari 53.372 ton tahun 2015 jadi 234.894 ton pada tahun 2019.

Muzdalifah mengusulkan pembentukan lembaga semacam badan pengelola dana perkebunan khusus untuk kakao Badan ini akan mengenakan pungutan ekspor produk kakao olahan. Dana terkumpul dikelola untuk meremajakan perkebunan serta meriset kakao dengan tujuan meningkatkan produktivitas.

Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia Dwiatmoko Setiono menilai, perkebunan dalam negeri harus mampu memenuhi kebutuhan biji kakao sebagai bahan baku industri pengolah an. “Saat ini, 95 persen perkebunan kakao merupakan perkebunan rakyat dengan rata-rata tiap pemilik mengelola 1 hektar.Perlu pengelolaan kebun lengan prinsip korporasi agar peningkatan produksi tercapai,” ujarnya.

Menurut Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Peranian Kasdi, pemerintah tengah fokus meningkatkan produktivitas komoditas perkebunan 7 persen per tahun, salah satunya kakao. Perkebunan kakao membutuhkan peremajaan, rehabilitasi, dan perluasan.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Edi Sutopo menilai, Indonesia dapat menjadi produsen kakao olahan terbesar di dunia.

Untuk mendukungnya, Kementerian Perindustrian telah mengusulkan penghapusan bea masuk biji kakao impor yang menurut rencana diberlakukan tahun 2022, untuk  menjaga daya saing industri pengolahan kakao.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini