Perlu Kolaborasi Besama dalam Meningkatkan Daya Saing Industri Sawit

0

Untuk meningkatkan daya saing industri perkebunan kelapa sawit tanah air meski terus berbenah. Terutama pekebunan milik rakyat yang masih menghadapi berbagai kendala, diantaranya; rendahnya produktivitas, legalitas lahan, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan jaringan atau akses pasar.

Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB), Achmad Mangga Barani dalam FoSI on Podcast #1 INSTIPER Yogyakarta, Rabu, 12/7/2023.

Menurut Mangga Barani, dari tiga pelaku industri perkebunan kelapa sawit, perkebunan rakyat menjadi titik terlemah yang harus diperbaiki dan ditingkatkan daya saingnya. Berbagai persoalan masih membelenggu perkebunan milik rakyat yang mencapai hampir 7 juta hektar (ha) ini.

“Perbaikan perkebunan rakyat perlu disegerakan, agar bisa setara dengan perkebunan besar swasta nasional (PBSN) dan perkebunan negara (PTPN). Apalagi perkebangannya cukup signifikan, disaat PBSN dan PTPN melakukan moratorium perluasan tanaman,” kata Mangga Barani.

Dari sisi produktivitas, lanjutnya, perkebunan rakyat perlu ditingkatkan agar lebih efisien sekaligus meningkatkan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) secara nasional.

Mangga Barani mengingatkan, bulan madu dengan harga yang kompetitif terhadap komoditas kelapa sawit di pasar dunia tentu membutuhkan keberlanjutan. Data Ditjen Perkebunan Kementan menunjukkan, total luasan lahan sawit di Indonesia sebanyak 16,38 juta hektare. Dari total lahan seluas itu, sekitar 53 persen atau sekitar 8,64 juta diusahakan oleh PBSN, 42 persen atau sekitar 6,94 juta ha oleh perkebunan rakyat, dan 5 persen, atau sekitar 800.000 dikuasai BUMN.

Mangga Barani menambahkan, produktivitas kebun sawit rakyat yang rendah dan belum maksimal menjadi tantangan utama industri perkebunan sawit Indonesia. Saat ini, rata-rata produktivitas kebun sawit rakyat baru mencapai 2 ton per ha CPO masih jauh jika dibandingkan dengan swasta yang telah mencapai 6-8 ton per ha.

“Hal ini menjadi titik terlemah industry sawit nasional. Rendahnya produktivitas membuat perkebunan rakyat tidak efisien dan berbiaya tinggi dan pada gilirannya mengurangi keuntungan,” kata Mangga Barani.

Mangga Barani berpandangan, kondisi perkebunan rakyat jangan dibiarkan berjalan sendiri, perlu kolaborasi bersama untuk memperbaikinya.

“Kita bisa mencotoh model PIR (Perkebunan Inti rakyat) sebagai lkemitraan ideal, tinggal dilakukan penyesuaian sesuai zamannya,” jelas Mangga Barani.

Hal yang sama disampaikan Direktur Penghimpunan Dana BPDPKS Sunari. Menurutnya, pemerintah terus berkomitmen dalam meningkatkan produktivitas perkebunan sawit rakyat. Diantaranya melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR) baik melalui Ditjen Perkebunan maupun kemitraan dengan perusahaan swasta.

“Salah satu tujuan PSR adalah meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat dengan memperbaiki tata kelolanya, mulai dari legalitas lahan, penggunaan bibit unggul dan penerapan GAP,” kata Sunari.

Menurut Sunari, indutri sawit telah menghasilkan devisa bagi negara Rp 600-700 triliun. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak memperbaiki kondisi perkebunan sawit rakyat agar produksi meningkat dan devisa yang dihasilkan semakin besar.

“Apalagi, produktivitas perkebunan rakyat baru mencapai 2-3 ton CPO per ha, kalah dengan swasta yang sudah mencapai 8-10 ton CPO per ha,” kata sunari.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menambahkan, tantangan idustri kelapa sawit kedepan makin besar. Hal ini terlihat dari meningkatkan biaya produksi tidak sebanding dengan peningkatan harga produk sawit.

“Mulai sarana produksi, pupuk, tenaga kerja dan yang lainnya, terus meningkat tak sebanding dengan peningkatan harga komoditasnya. Tentu ini tantangan tersendiri bagi industri sawit agar terus bertahan,” kata Eddy.

Eddy mengakui, hingga saat ini industry sawit dalam negeri belum mampu menjadi pengendali harga, sehingga masih tergantung dengan pasar di luar negeri. Selain itu, fluktuasi harga sawit juga terpengaruhi dengan harga komoditas minyak nabati yang lain, sperti kedelai, canola, reepsed dan yang lainnnya.

“Supply and demend tetap berpengaruh terhadap harga produk  CPO. Sehingga Ketika supply minyak nabati yang lain berlebih maka harga minyak sawit pun tertekan,” pungkas Eddy.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini