Pohon Adalah Jawaban

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Artikel disadur dan diterjemahkan dari tulisan Patric Moor, Phd.,
Aktivis, Konsultan Industri, dan Mantan Presiden Greenpeace Kanada-
berjudul “Trees Are The Answer”.

Saya percaya bahwa pohon adalah jawaban terhadap banyak pertanyaan mengenai masa depan kita. Ini meliputi pertanyaan-pertanyaan:

Bagaimana kita dapat memajukan ekonomi yang lebih lestari berbasis pada bahan-bahan dan bahan bakar yang dapat diperbaharui?

Bagaimana kita dapat memperbaiki kemampuan baca (melek huruf) dan sanitasi di negara-negara berkembang sambil memulihkan kerusakan hutan dan menjaga margasatwa pada waktu yang bersamaan? Bagaimana kita dapat mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer terutama CO2?

Bagaimana kita dapat meningkatkan jumlah lahan yang akan mendukung semakin banyak spesies keragaman hayati? Bagaimana kita dapat membantu mencegah erosi tanah dan menyediakan air serta udara bersih?

Bagaimana kita dapat membuat dunia ini lebih indah dan hijau? Jawabannya adalah, dengan menanam lebih banyak pohon dan kemudian menggunakan lebih banyak kayu, baik untuk substitusi bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui dan bahan-bahan seperti baja, beton, plastik, dan produk-produk kertas untuk percetakan, pengemasan serta sanitasi.

Industri kehutanan dalam posisi terdakwa dalam kasus kejahatan besar merusak lingkungan. Industri ini disalahkan dalam pemusnahan puluhan ribu spesies, perusakan hutan secara luas di atas bumi, dan kerusakan ekosistem secara total yang tidak bisa dipulihkan. Seandainya saya adalah salah seorang dari mayoritas kota, dan saya berfikir bahwa industri kehutanan adalah penyebab kerusakan lingkungan yang tidak bisa dipulihkan, saya tidak akan peduli berapa banyak kesempatan kerja atau berapa banyak masyarakat yang tergantung pada hutan, saya akan menentang industri ini.

Saya telah menghabiskan 15 tahun terakhir untuk mencoba memahami hubungan antara kehutanan dan lingkungan, memisahkan antara fakta dan fiksi, mitos dengan realitas. Sejak tahun 1991, saya telah menjadi ketua komite kehutanan berkelanjutan dari aliansi hutan British Columbia. Posisi ini telah memberikan kesempatan yang ideal untuk mempelajari semua aspek dari masalah tersebut. Presentasi ini merupakan sintesa dari yang saya pelajari, namun pertama kali, perkenankanlah saya memberikan sedikit latar belakang.

Saya dilahirkan dan dibesarkan di sebuah desa tempat pemancingan ikan dan penebangan hutan pada pelabuhan musim dingin di ujung barat laut dari pulau Vancouver, di daerah hutan hujan Pasifik. Saya tidak menyadari masa kecil saya yang diberkahi, bermain di atas alunan ombak dari aliran sungai dimana ikan salmon bertelur di kawasan hutan hujan, sampai saatnya saya pindah ke sekolah berasrama di Vancouver pada usia 14 tahun.

Saya kemudian masuk ke Universitas British Columbia memperlajari ilmu hayati: biologi, kehutanan, genetika; tapi ketika saya menemukan ekologi yang saya sadari melalui ilmu tersebut saya dapat memperoleh pandangan tentang misteri dari hutan hujan yang saya ketahui di masa kanak-kanak. Saya menjadi seorang peduli lingkungan yang dilahirkan lagi, dan pada akhir tahun 1960an, beralih menjadi aktivis lingkungan yang radikal. Saya menemukan diri saya sendiri di dalam lantai dasar sebuah gereja di Vancouver bersama kelompok orang yang sejalan pemikirannya, merencanakan suatu kampanye memprotes percobaan bom hidrogen Amerika di Alaska.

Kami membuktikan bahwa suatu kelompok aktivis dari rakyat jelata dapat berlayar dengan kapal ikan tua yang bocor menyeberangi Lautan Pasific Utara dan merubah sejarah. Dengan membuat suatu fokus masalah untuk menentang percobaan, kami membuat berita nasional dan membantu membangun gerakan oposisi tehadap percobaan nuklir di Amerika dan Kanada. Ketika bom tersebut dimusnahkan pada November 1971 itulah saatnya bom hidrogen terakhir meledak di planet bumi. Walaupun ada 4 rencana percobaan lagi dalam suatu rangkaian, Presiden Nixon membatalkannya karena ditentang masyarakat umum. Inilah saat kelahiran dari Greenpeace.

Terdorong oleh kemenangan dan mengetahui bahwa kita dapat membawa perubahan dengan mengangkat dan melakukan sesuatu, kita disambut datang ke rumah panjang dari bangsa Kakiutl di teluk Alert dekat ujung utara Pulau Vancouver. Kami dianggap saudara oleh suku tersebut karena mereka percaya dengan apa yang kami telah lakukan. Ini memulai tradisi dari Warriors of The Rainbow (prajurit pelangi), setelah sebuah Legenda Cree yang memperkirakan bahwa suatu hari dimana langit berwarna hitam dan burung-burung berjatuhan mati di atas tanah dan sungai-sungai teracuni, orang-orang dari semua suku, warna dan kepercayaan akan bergabung bersama membentuk prajurit pelangi untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan.

Kami namakan kapal kami Rainbow Warrior dan Saya menghabiskan 15 tahun di garis depan dari pergerakan lingkungan sejalan dengan berubahnya gerakan kami dari lantai dasar gereja menjadi organisasi aktivis lingkungan terbesar di dunia. Kemudian kita menangani percobaan nuklir atmosfer Perancis di Pasifik Selatan. Mereka membuktikan sedikit lebih susah dari administrasi energi atom Amerika. Tetapi setelah beberapa tahun kampanye dan melakukan pelayaran protes yang melibatkan kehilangan nyawa pada pihak kami, mereka dikendalikan di bawah tanah dan kemudian dihentikannya percobaan secara keseluruhan.

Pada tahun 1975, kami menyiapkan pelayaran di laut dalam ke Pasifik Utara melawan kapal penangkap ikan paus perusahaan Uni Soviet yang membantai habis ikan paus California. Kami menempatkan diri di depan tombak ikan paus pada perahu karet kecil dan membuat berita sore di Walter Cronkite. Itu benar-benar menempatkan Greenpeace di peta. Pada tahun 1979 Komisi Ikan Paus Internasional menghentikan perusahaan untuk penangkapan ikan paus di Pasifik Utara dan kemudian segera menghentikannya di semua lautan.

Pada tahun 1978, Saya ditahan di Newfoundland karena duduk di atas seekor anak anjing laut, mencoba untuk melindungi dari pemburu. Saya dihukum berdasar peraturan perlindungan anjing laut yang membuat kegiatan saya ilegal. Pada tahun 1984 kulit anak anjing laut dilarang di pasar Eropa, dan secara efektif telah mengakhiri pembantaian.

Dapatkah anda percaya bahwa pada awal tahun 1980an negara-negara di Eropa barat mengumpulkan limbah nuklir kadar rendah dan medium, meletakkannya di dalam ribuan drum oli, mengangkat dalam kapal dan membuangnya di lautan Atalantik sebagai sebuah cara untuk membuang limbah. Pada tahun 1984 usaha bersama oleh Greenpeace dan Serikat Pelaut Inggris mengakhiri praktek tersebut untuk kebaikan.

Pada pertengahan tahun 1980an Greenpeace telah berkembang dari lantai dasar gereja menjadi sebuah organisasi dengan penghasilan melebihi US$ 100 juta pertahun, mmpunyai kantor di 21 negara dan lebih dari 100 kampanye di seluruh dunia, kini menangani limbah beracun, hujan asam, penambangan uranium dan pengambilan ikan dengan jala apung demikian juga isu-isu orisinil. Kami telah memenangkan suara masyarakat umum pada demokrasi industri. Presiden dan perdana menteri telah membicarakan lingkungan  setiap hari.

Bagi saya itu merupakan waktu untuk melakukan perubahan. Saya telah menghadapi paling tidak 3 dari 4 masalah setiap hari dalam kehidupan saya selama 15 tahun; saya memutuskan ingin menjadi pihak yang menyukai perubahan. Saya telah beralih dari politik konfrontasi menjadi politik untuk membangun konsensus.

Selanjutnya, ketika mayoritas penduduk memutuskan bahwa mereka menyetujui anda mungkin itulah saatnya untuk berhenti memukul kepala mereka dengan tongkat dan duduk serta berbicara dengan mereka mencari jalan keluar dari masalah-masalah kita mengenai lingkungan.

 Semua gerakan sosial berubah secara bertahap dari suatu periode awal, polarisasi  dan konfrontasi, selama itu perjuangan minoritas untuk meyakinkan masyarakat bahwa masalahnya adalah benar dan adil, kemudian diikuti dengan waktu rekonsiliasi jika mayoritas penduduk telah  menerima nilai-nilai perubahan baru. Gerakan lingkungan transisi ini mulai terjadi pada pertengahan tahun 1980an.

Istilah pembangunan berkelanjutan diadopsi untuk menguraikan tantangan dalam pemakaian nilai-nilai lingkungan yang baru yang telah kita populerkan, dan menggabungkannya dengan nilai-nilai sosial ekonomi tradisional yang selalu mempengaruhi kebijakan publik dan perilaku kita sehari-hari. Kita tidak dapat dengan mudah menjadikan latar belakang aksi kita berdasar nilai-nilai lingkungan semata.

Setiap hari 6 milyar orang bangun dengan kebutuhan riil untuk makanan, energi dan bahan-bahan. Tantangan untuk kelestarian adalah penyediaan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara-cara yang mengurangi dampak negatif pada lingkungan.

Tetapi setiap perubahan yang dilakukan juga harus diterima secara sosial, teknis dan ekonomis. Tidak selalu mudah menyeimbangkan prioritas-prioritas lingkungan, sosial, dan ekonomi. Kompromi dan kerjasama yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi dan gerakan lingkungan diperlukan untuk mencapai kelestarian. Ini merupakan usaha untuk mendapatkan konsensus di antara berbagai kepentingan yang bersaing yang telah mengisi waktu saya selama 15 tahun terakhir.

Datang dari British Columbia, dilahirkan di keluarga industri kehutanan generasi ketiga, berpendidikan dalam kehutanan dan ekologi, bisa dimengerti bila saya memfokuskan pada tantangan untuk mendefinisikan kehutanan yang berkelanjutan. Selain alasan itu semua, hutan sejauh ini tidak menjadi lingkungan terpenting di British Columbia dan juga basis yang terpenting kemakmuran ekonomi untuk keluarga dan masyarakat. Saya segera memahami bahwa pohon-pohon adalah tanaman yang berubah kemampuannya untuk menumbuhkan cabang-cabang kayu.

Mereka tidak melakukannya agar kita dapat memotongnya menjadi kayu gergajian dan menggilingnya menjadi bubur kertas; mereka sebenarnya hanya mempunyai satu maksud dalam benaknya dan itu adalah mendapatkan ujung-ujungnya atau daun-daun bertambah tinggi melebihi tanaman lain dimana pohon kemudian dapat memonopoli energi sinar matahari untuk fotosintesa. Ketika para rimbawan membuka lahan atau menebang habis pada saat mereka memanen pohon, satu dari alasan melakukan ini adalah pohon-pohon baru akan tumbuh kembali serta dapat mendapatkan sinar matahari secara penuh. Pohon-pohon pada dasarnya adalah tanaman yang ingin mendapatkan sinar matahari. Jika pohon-pohon yang hanya ingin berada di bawah naungan adalah semak-semak, mereka tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan energi untuk menumbuhkan cabang kayu yang panjang.

Hutan adalah rumah dari mayoritas spesies kehidupan; bukan samudera, bukan padang rumput, bukan areal cemara, tetapi ekosistem yang didominasi oleh pohon-pohon. Ada alasan yang jujur untuk ini. Bagian yang hidup dari pohon-pohon itu sendiri membuat lingkungan baru yang tidak akan terjadi bila tidak ada pohon. Sekarang pucuk pohon di atas adalah rumah dari jutaan burung-burung dan serangga-serangga dimana sebelumnya hanya ada udara tipis. Dan manfaat dari pucuk pohon dalam interior hutan, menjadikan lingkungan terjaga atau terlindung dari hujan salju dan matahari serta angin. Ini, dalam kombinasi dengan makanan yang disediakan oleh daun, buah dan bahkan kayu, pohon-pohon membuat ribuan habitat baru bagi berkembangnya spesies, spesies yang tidak pernah ada tanpa keberadaan pohon-pohon yang hidup.

Hal ini menimbulkan kesadaran yang jelas bahwa jika pohon-pohon ditebang, maka habitat-habitat atau rumah-rumah spesies akan lenyap, sehingga spesies yang hidup di dalamnya akan mati. Sebenarnya, pada tahun 1996, WWF dalam konferensi pers di Jenewa, mengumumkan bahwa terdapat 50.000 spesies musnah setiap tahun sebagai akibat dari aktivitas manusia. Dan penyebab utama kemusnahan 50.000 spesies tersebut, mereka katakan adalah penebangan hutan komersial. Cerita ini dibawa keseluruh dunia oleh Associated Press dan media lain dan menyebabkan ratusan juta orang menjadi percaya bahwa industri kehutanan adalah penyebab kemusnahan spesies.

Selama tiga tahun terakhir saya telah meminta kepada WWF dalam beberapa kesempatan untuk menyediakan daftar beberapa spesies yang disebut menjadi musnah diakibatkan karena penebangan hutan. Mereka tidak memberikan contoh satupun sebagai bukti. Kenyataannya, dalam pengetahuan ilmiah yang kita punya tidak ada spesies menjadi musnah di Amerika Utara sebagai akibat dari kehutanan.

Dimana 50.000 spesies yang dikatakan musnah setiap tahun?

Mereka hanya berada di model komputer pada labolatorium Edward O. Wilson di Universitas Harvard. Mereka tertulis di hard drive dengan tidak terdapat nama latinnya dan tidak ada hubungan langsung dengan observasi lapangan di hutan manapun.

Tidak seperti begitu dengan manusia yang menyebabkan kemusnahan spesies; mereka ada dan daftarnya sangat panjang. Terdapat tiga sebab utama bahwa manusia menyebabkan kemusnahan spesies. Pertama, dan mungkin yang paling efektif, adalah membunuh semua, dengan tombak, tongkat pemukul dan senapan. Burung dara, burung dodo, parkit Carolinian, dan sebelumnya juga binatang-binatang besar dan gajah adalah contoh spesies yang dimusnahkan semata baik untuk makanan atau karena mereka dianggap menjadi hama.

Yang kedua, pembukaan hutan asli secara besar-besaran untuk pertanian. Mungkin terdapat suatu anggrek di dasar lembah yang tidak ditemukan lagi dimanapun. Bila semua hutan dibabat, dibakar, dibajak, dan ditanami dengan jagung, anggrek tersebut mungkin hilang selamanya.

Ketiga, dan kenyataannya, penyebab utama musnahnya spesies oleh ulah manusia selama 200 tahun terakhir adalah pengenalan predator eksotik dan penyakit. Terutama ketika bangsa Eropa menjajah Australia, New Zealand dan pulau-pulau pasifik lainnya, termasuk Hawaii, mereka membawa tikus, kucing, serigala, babi, domba, kambing, ayam dan sapi. Serta semua binatang peliharaan dan tanaman-tanaman lainnya, termasuk penyakit-penyakitnya. Hal ini menyebabkan kelangkaan ratusan hewan berkantung dan burung-burung yang tidak terbang, demikian juga spesies lainnya.

Kami punya daftar panjang tentang spesies-spesies yang musnah disebabkan oleh tiga macam aktivitas manusia, tetapi kami tidak tahu satu spesiespun yang menjadi langka yang disebabkan oleh kehutanan.

Burung hantu adalah satu contoh dari banyak spesies yang tidak pernah dikhawatirkan musnah karena kehutanan, dan pada awal tahun 1990-an, 30.000 penebang hutan dipecat dari pekerjaan di barat Laut Pasifik Amerika sebagai akibat dari keprihatinan bahwa penebangan hutan nasional akan menyebabkan punahnya burung hantu. Sejak saat itu hanya dalam beberapa tahun saja, ditunjukkan dengan observasi sesungguhnya dilapangan bahwa terdapat dua kali lebih banyak burung hantu tersebut di hutan-hutan publik di Washington dibanding dengan jumlah yang diperkirakan secara teoritis, pada saat para penebang kehilangan pekerjaannya. Lebih penting lagi, kini terbukti bahwa burung hantu mampu hidup dan berkembang biak pada bentang lahan yang didominasi oleh hutan sekunder. Lebih dari 1.000 burung hantu telah didokumentasikan pada setengah juta acre hutan kayu merah sekunder di Simpson Timber, California Utara. Dan lagi, dalam pelaporan penempatan hutan kayu merah didekatnya, New York Times menerangkan bahwa burung hantu sebagai spesies yang hampir musnah walaupun faktanya terdapat puluhan ribu burung hantu tumbuh dengan subur di hutan barat laut pasifik.

Sehingga, masyarakat umum diberi kesan oleh sumber yang seharusnya dapat dipercaya seperti NewYork Times dan National Geography bahwa kehutanan adalah penyebab utama dari kepunahan spesies, padahal kenyataannya tidak ada bukti untuk mendukung pendapat tersebut.

Ada suatu alasan mengapa kehutanan jarang, atau pernah, menyebabkan beberapa spesies menjadi langka. Kita cenderung berfikir bahwa hutan memerlukan pertolongan kita untuk pulih kembali setelah terjadi kerusakan, yang disebabkan oleh api atau penebangan hutan. Tentu saja ini bukan masalahnya. Hutan menjadi pulih sendiri tanpa bantuan, kerusakan dari api, gunung berapi, tanah longsor, banjir dan kikisan es, sejak hutan-hutan hilang 350 tahun yang lalu.

Mempertimbangkan fakta bahwa 10.000 tahun yang lalu seluruh Kanada dan Rusia tertutup oleh lapisan es yang luas dimana dibawahnya tidak ada kehidupan, yang pasti tidak ada pohon. Sekarang Kanada dan Rusia mempunyai 30 persen dari seluruh hutan di bumi, tumbuh kembali dari batu yang gundul. Pergi ke Alaska dimana salju berubah karena kecenderungan pemanasan saat ini, anda akan melihat saatnya batuan terbentang gundul menghadap matahari, ini terjadi hanya 80 tahun sampai saat munculnya ekosistem baru yang berkembang di sana termasuk timbulnya pohon-pohon muda. Sejalan dengan ini, bahwa setiap spesies yang hidup di hutan pasti mampu kembali menguasai areal lahan yang telah pulih dari kerusakan.

Sesungguhnya pemulihan hutan adalah merupakan jumlah total dari kembalinya spesies individu ke tempat masing-masing pada saatnya setelah hutan tumbuh lagi. Dalam ilmu ekologi, ini dikenal sebagai perpindahan, kemampuan untuk berpindah dari suatu tempat dan beralih ke wilayah yang baru yang tersedia. Pada manusia, kita menyebutnya migrasi, tetapi sebenarnya hal yang sama. Peralihan adalah syarat mutlak untuk seleksi alam dan kemampuan hidup dari spesies. Tidak ada spesies dapat bertahan bila tidak ada kemampuan untuk berpindah. Sehingga sepanjang lahan itu dibiarkan setelah dirusaknya hutan, hutan akan pulih dan semua spesies yang dulu ada akan kembali.

Api selalu menjadi penyebab dari kerusakan hutan, atau gangguan sebagaimana ahli lingkungan senang menyebutnya dengan mengunakan istilah yang lebih netral. Tetapi api adalah alamiah, kita diberitahu, dan tidak merusak ekosistem hutan seperti karena penebangan yang tidak alamiah. Alam tidak pernah datang dengan truk-truk penebangan hutan dan membawa pergi pohon-pohon. Semua retorika yang digunakan untuk memberi kesan bahwa penebangan hutan itu berbeda secara fundamental dari bentuk lain gangguan hutan. Itu tidak benar.

Adalah benar bahwa penebangan hutan berbeda dengan api, tetapi api juga berbeda sekali dengan gunung berapi yang pada gilirannya sangat berbeda dengan zaman es. Kenyataanya tidak pernah ada dua api yang sama. Ini adalah perbedaan tingkatan bukan jenis. Hutan mampu untuk pulih kembali dari kerusakan akibat penebangan sebagaimana pulih dari bentuk gangguan yang lain. Semua yang diperlukan untuk pemulihan adalah berakhirnya gangguan yakni api padam, gunung berapi berhenti meletus, es kembali, penebang hutan berbalik ke jalan dan memperkenankan hutan untuk mulai tumbuh kembali yang itu akan mulai pemulihan dengan segera.

Apabila anda tidak berpendapat bahwa api merusak ekosistem, anda harus mencoba menghitung spesies yang tinggal hidup setelah kebakaran hutan yang besar. Api liar yang panas di hutan pinus yang kering tidak hanya membunuh semua yang hidup di atas tanah, juga membakar tanah, membunuh akar dan biji-biji, pada dasarnya mensterilkan lokasi dan meninggalkannya tanpa kehidupan. Sering hanya beberapa tahun setelah kebakaran suatu lahan ditumbuhi dengan rumput-rumput dan bunga-bunga lagi. Dimana-mana di dunia terdapat tanaman pionir yang memproduksi biji-biji dengan bulu kapas di atasnya.

Mereka dapat membawa sejauh 100 mil dengan angin sepoi-sepoi, mencari suatu tempat untuk menetap yang mendapatkan sinar matahari dan kemudian berkecambah. Hutan yang baru saja terbakar adalah tempat yang sempurna untuk biji-biji ini; naungan pohon-pohon telah hilang sehingga memungkinkan sinar matahari mengenai tanah, dan abu dari api menyediakan zat hara bagi pertumbuhan baru. Di Taman Nasional Yellowstone, api membakar lebih dari 1 juta acre lahan pada tahun 1988. bahkan setelah 8 tahun, daerah yang paling parah terbakar mempunyai sangat sedikit tumbuh-tumbuhan yang mampu tumbuh lagi. Ini sebagian diakibatkan oleh musim panas pada ketinggian 8.000 ft, tetapi juga karena api panas yang tidak hanya menghilangkan nitrogen dari tanah tapi juga menguapkan phosfor, sehingga meghilangkan unsur hara dua dari tiga unsur hara utama tanah. Bila nitrogen dapat kembali ke tanah relatif lebih cepat melalui kegiatan bakteri pengikat nitrogen, fosfor harus dilapukkan dari mineral tanah. Ini mungkin memerlukan 50 sampai 100 tahun, namun segera setelah tanah sehat kembali maka hutan baru akan timbul.

Dibeberapa tempat, api Yellowstone membakar tanah basah pada lokasi bocoran air, dan walaupun segala sesuatu di atasnya terbunuh, biji-biji pinus dan spesies lain bertahan hidup di dalam tanah. Di sini hutan baru telah tumbuh kembali dengan cepat dan pinus-pinus baru dapat memproduksi biji-biji dalam waktu 10 atau 15 tahun. Biji-biji ini akan secara bertahap bergerak menelusuri bentang lahan dan menghutankan lagi lahan dimana biji-biji tersebut terbakar. Untuk dapat menyaksikan kerusakan total oleh alam, tidak ada tempat yang lebih bagus untuk pergi dibanding Mount St. Helens di negara bagian Washington.

Ketika gunung berapi meletus pada tahun 1980 yang merusak 150.000 acre hutan, kebanyakan adalah tumbuhan lama di atas celah-celah pegunungan. Yang menarik, hutan yang rusak berada pada 2 wilayah yurisdiksi berbeda. Sebagian lahan publik federal, hutan nasional Gifford Pinchot, dikelola dari Washington DC. Sebagian lain adalah lahan kayu swasta yang dipunyai oleh Weyerhaeuser Corp. bermarkas di Tacoma, Washington.

Pemerintah Amerika mengatur kembali sebagian lahan mereka yang rusak di Monumen Vulkanik Nasional Mount St. Helens, “dimana alam dibiarkan pulih kembali, tanpa bantuan manusia sebagai tempat penyelidikan ilmu pengetahuan”. Delapan belas tahun setelah letusan inti Monumen Vulkanik masih terlihat seperti gurun pasir. Pohon-pohon yang mati masih tergeletak ditempat dimana mereka terlempar atau puncaknya terlempar oleh letusan inti. Lapisan tebal dari abu vulkanik kemudian menetap, menjadi suatu tempat singgahnya biji yang sangat steril yang terbawa angin. Hanya sebagian dari tanaman yang mengikat nitrogen, dapat menumbuhkan akar di tanah yang tidak subur.

Weyerhaeuser mengambil pendekatan yang sama sekali berbeda. Pertama, mereka menyelamatkan kayu tebangan di lahan mereka yang berharga sama dengan 85.000 rumah dengan tiga kamar tidur dari lahan dua tahun setelah letusan gunung api. Dengan membawa peralatan berat dan menarik kayu bulat yang besar, mereka memecah abu vulkanik dimana-mana, membuka kesuburan tanah.

Cara ini membuat jauh lebih susburnya tempat persinggahan biji-biji yang terbawa angin, suatu kasus klasik dari gangguan lokasi, atau disebut penyiapan lokasi bila kita mengerjakannya sesuai tujuan, meningkatkan kesuburan lokasi tersebut. Suatu proses yang diketahui oleh setiap petani yang membajak ladang mereka. Kemudian mereka menanam bibit-bibit cemara Douglas berumur 2 tahun yang cepat menumbuhkan akar-akar turun melalui debu ke dalam tanah yang sehat. Sekarang benih-benih tersebut tingginya melebihi 20 ft dan akan memproduksi tanaman kayu komersial pada tahun 2026. perbedaan menyolok antara Monumen Vulkanik Nasional dengan lahan Weyerhaeuser menunjukkan bukti bahwa sejumlah intervensi manusia dapat membuat perbedaan yang dramatis menuju jalan dimana suatu ekosistem pulih kembali setelah bencana alam seperti letusan gunung berapi.

Kakek saya Albert Moore, menebang hutan hujan pantai yang luas di utara pulau Vancaover pada tahun 1930-an dan 1940-an. Dia tidak tahu istilah ekologi, dan istilah keragaman hayati yang tidak dikenal sampai 50 tahun kemudian. Dan anda dapat percaya mereka tidak pernah membahas lingkungan di meja makan pagi pada suatu pagi yang gelap di musim dingin. sebelum mereka pergi dan bekerja keras, 6 atau 7 hari dalam seminggu, untuk mendapatkan kayu besar jatuh ke laut. Kadang kala sebagian kayu mengandung tanah yang terbawa karena metode penebangan primitif yang dilakukan saat itu. Sekarang areal ini tertutup oleh hutan baru yang luas dimana di dalamnya beruang, serigala, puma, kijang, burung hantu, burung garuda dan elang dapat ditemukan lagi. Spesies-spesies ini telah tersebar kembali di lokasi sejalan dengan berubahnya lingkungan yang cocok untuk tempat hidup  mereka lagi. Kita telah diberi pelajaran sejak masa kanak-kanak bahwa anda tidak boleh menilai suatu buku hanya dari sampulnya, dengan kata lain, kecantikan hanyalah setebal kulit. Kita masih dengan mudah terjebak pada pemikiran bahwa kita senang dengan apa yang kita lihat melalui mata kita. Itu mesti bagus, dan bila kita tidak senang dengan apa yang kita lihat dengan mata kita itu mesti jelek. Kita cenderung menghubungkan kesan visual kita apakah sesuatu itu indah dan apa itu buruk dengan penilaian moral kita tentang apa itu benar dan salah.

Sierra Club mengatakan “anda tidak memerlukan seorang ahli hutan profesional untuk mengajari bahwa suatu hutan itu dikelola secara tidak benar – bila dalam suatu hutan kelihatan pengelolaannya jelek, itu pengelolaan yang salah”. Mereka ingin anda mempercayai bahwa kenampakan buruk dari hutan yang baru saja dipanen itu sinonim dengan kerusakan lingkungan yang permanen. Namun lautan kayu yang terlihat tidak bagus adalah bukan limbah nuklir atau tumpahan racun, itu adalah 100 persen bahan organik, dan akan tumbuh kembali segera menjadi hutan baru yang indah lagi.

Semuanya sama, adalah fakta bahwa areal hutan yang baru saja dipanen terlihat jelek di mata kita. Membuat kesan yang tidak efektif di tangan aktivis anti kehutanan. Mengambil pandangan yang benar, tebang habis dapat membuat terlihat sangat bagus. Bila dipikir, hanya sementara, tebang habis sebagai padang rumput sementara. Itu sementara karena tidak akan terus seperti itu; itu akan tumbuh kembali menjadi hutan baru. Tetapi, yang terlihat seperti padang rumput pada saat ini karena pohon-pohon telah dihilangkan dan sekarang matahari dapat langsung menyinari tanah, mendorong pertumbuhan tanaman-tanaman yang tidak dapat tumbuh di bawah naungan pohon. Kita tidak pernah berfikir bahwa padang rumput dan tebang habis adalah hal yang sama.

Padang rumput adalah tempat yang menyenangkan dimana anda bisa berjalan melintasinya dengan mudah di bawah sinar matahari terbuka, mencari tempat yang rata dan kering, meletakkan selimut piknik anda di bawah, dan mendapatkan siang hari  yang menyenangkan. Di sisi lain, tebang habis adalah tempat yang jelek, penuh dengan belukar, patahan kayu dan ranting, dan tidak ada tempat yang rata, tempat kering untuk meletakkan suatu selimut piknik. Perbedaan ini tidak ada kaitannya dengan keanekaragaman hayati atau ilmu pengetahuan, mereka semata-mata perihal tentang estetika manusia.

Padang rumput sebenarnya adalah gurun pasir kecil dimana terlalu kering untuk pertumbuhan pohon. Oleh sebab itu, mereka kelihatan sangat rata. Padang rumput hanya dapat mendukung rumput dan tanaman obat yang tahan kekeringan. Tebang habis, disisi lain, dapat mendukung lebih banyak varietas rumput dan tanaman-tanaman termasuk juga semak berkayu dan pohon-pohon. Dalam waktu 1 atau 2 tahun setelah pemanenan, pada umumnya tebang habis akan mempunyai lebih banyak keragaman hayati dibanding padang rumput.

Dan dalam waktu 10 tahun mereka mulai kelihatan bagus juga. Dalam jangka waktu yang singkat, tebang habis yang kelihatan sangat buruk untuk dilihat, dapat berubah menjadi lautan bunga yang indah tumbuh dari biji-biji yang terbawa angin setelah kebakaran. Apakah tebang habis jelek bila itu kelihatan buruk? Apakah bagus sekarang karena kelihatan indah?

Kenyataannya adalah kesalahan yang besar untuk menilai kesehatan lingkungan suatu lahan hanya dilihat dari perspektif keindahan.

Cara kita berfikir tentang kenampakan suatu wilayah sering bersifat personal dan dengan nilai sosial daripada hal yang berkaitan dengan keragaman hayati dan ilmu pengetahuan. Kita cenderung untuk menjadikan alam secara ideal dengan status / kondisi yang sempurna yang itu bisa benar untuk suatu wilayah tertentu. Sebenarnya terdapat ribuan kombinasi spesies yang berbeda pada tingkat pertumbuhan hutan yang berbeda yang alamiah sempurna dan lestari dengan cara yang benar oleh mereka sendiri. Tidak ada sesuatu yang lebih baik dari pohon tua dibanding dengan pohin-pohon muda. Mungkin status ideal adalah mempunyai hutan dengan berbagai umur, muda, medium, dan tua dalam suatu bentang lahan. Ini akan menyediakan keragaman hayati dari habitat yang paling besar sehingga kemungkinan jumlah spesies terbanyak dapat hidup di wilayah tersebut.

Kerusakan hutan adalah hal yang menyulitkan bagi industri kehutanan karena kelihatan seperti hutan musnah ketika semua pohon-pohon ditebang di suatu wilayah. Sayangnya, pengertian dari istilah ini bagi publik, memotong kayu saja adalah tidak cukup sebagai penyebab kerusakan hutan. Masalah sebenarnya adalah apakah hutan tersebut musnah selamanya atau ditanami lagi dengan pohon-pohon baru. Akan tetapi sifat tidak enak dipandang dari hutan yang baru saja dipanen, bahkan bila tidak segera tumbuh lagi, dapat dengan mudah memberi kesan tentang kerusakan lingkungan dan kerusakan hutan.

Pada sisi lain, kenampakannya dari ladang pertanian dan padang rumput di pedesaan kelihatan menyenangkan rapi dan teratur dibanding dengan potongan-potongan kayu yang berserakan pada areal tebang habis.

Padahal sebenarnya ladang pertanian dan padang rumput yang mengakibatkan kerusakan hutan. Hutan yang ditebang disaat lalu dan diganti secara permanen oleh tanaman pangan dan makanan ternak. Lebih penting lagi bila kita menghentikan membajak ladang pertanian hanya selama 5 tahun dalam suatu jalur, biji-biji dari pohon-pohon disekitarnya akan masuk dan seluruh areal akan diselimuti dengan benih pohon baru. Dalam waktu 80 tahun anda tidak akan tahu kalau disitu dulunya suatu ladang pertanian. Seluruh areal akan menjadi hutan kembali hanya dengan membiarkannya. Itu karena kerusakan hutan bukan suatu kejadian yang terjadi begitu saja dan kemudian hilang selamanya.

Kerusakan hutan sebenarnya adalah suatu proses yang sedang berjalan dari pengaruh manusia secara terus menerus, mencegah hutan untuk tumbuh kembali, yang sebenarnya bisa terjadi bila dibiarkan begitu saja. Bentuk yang paling umum dari gangguan terhadap pemulihan hutan itu adalah pertanian. Oleh sebab itu kerusakan hutan bukan disebabkan oleh kehutanan, yang tujuan utamanya adalah melakukan penanaman hutan kembali. Kerusakan hutan hampir selalu disebabkan oleh petani-petani yang menanam makanan kita, dan tukang-tukang yang membangun rumah, desa dan kota untuk kita. Kerusakan hutan bukan merupakan satu kejahatan, sesuatu yang kita maksud untuk memberi makan dan tempat tinggal bagi 6 milyar penduduk yang terus berkembang.

Kenampakan dari daerah penggembalaan sapi pada suatu padang rumput hijau yang subur menyenangkan untuk dilihat mata. Ini bukan seperti yang terjadi beberapa tahun silam ketika restoran Mc Donald menerima tekanan besar dari publik karena keprihatinan terjadinya kerusakan hutan di Amerika Tengah dan Amerika Selatan akibat  peternakan sapi untuk hamburger, mereka berjanji tidak akan membeli sapi tropis yang lain. Ini jelas sesuatu yang bagus, akan tetapi mereka melanjutkan membeli sapi-sapi yang dibesarkan di Amerika Utara. Apakah ini karena kita mempunyai standar tinggi untuk kerusakan hutan di Amerika Utara dibanding dengan yang mereka lakukan di Amerika Latin? Tidak, ini sungguh-sungguh standar ganda.

Kerusakan hutan adalah kerusakan hutan tidak peduli dimana itu terjadi. Hutan dimusnahkan semua dan diganti dengan padang rumput monokultur dimana binatang-binatang eksotik yang dulunya tidak ada pada areal hutan asli. Apabila anda pergi ke Australia, anda akan menemukan bahwa hampir semua orang berpendapat bahwa kerusakan hutan yang terburuk terjadi di Malaysia dan Indonesia, padahal kenyataanya sekitar 40 persen dari hutan alam Australia telah dirusak untuk pertanian. Hal yang sama terjadi di Amerika; sekitar 40 persen dari hutan asli telah dikonversi menjadi ladang pertanian.

Kita selalu berpendapat bahwa orang jelek salah jalan dan berkata dengan bahasa yang lain. Kita sering gagal untuk menyadari bahwa kita berbuat hal yang persis sama dengan yang kita tuduhkan dilakukan oleh mereka.

Dan bila anda tidak memakan daging, anda harus makan sayuran dimana anda menyebabkan tumbuhnya tanaman kubis monokultur dan tanaman pangan lainnya di tempat dimana dulunya berupa hutan. Sekarang adalah benar bahwa tanaman kubis lebih indah dari cabang-cabang pohon, sayangnya itu dianggap benar oleh pengertian umum tentang kerusakan hutan. Burung-burung dan serangga-serangga tidak datang ke areal tanaman monokultur. Bila mereka mengharapkan untuk menghindari dari ditembak atau diracun, yang terbaik mereka kembali ke hutan di dekatnya dimana mereka dibiarkan.

Jangan menganggap saya salah. Saya tidak menentang perladangan. Kita semua harus makan. Tetapi menarik untuk dicatat bahwa 3 hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah semakin berkurangnya hutan-hutan di dunia yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kehutanan. Tiga hal ini adalah:

  1. Pengelolaan penduduk. Semakin banyak orang di dunia ini, semakin banyak mulut yang diberi makan dan semakin banyak hutan yang harus ditebang untuk memberi makan mereka. Ini suatu adalah fakta ilmu hitung yang sederhana.
  2. Produksi pertanian secara intensif. Lebih dari 50 tahun yang lalu di Amerika Utara kita telah belajar menanam lima kali tanaman pangan pada areal yang sama, karena kemajuan dalam ilmu genetika, teknologi dan pengendalian penyakit. Apabila kita tidak membuat kemajuan ini, kita harus menebang hutan lima kali lebih banyak, yang ini sudah barang tentu tidak tersedia , atau kita tidak bisa menanam banyak tanaman pangan. Lagi-lagi ini adalah tentang ilmu hitung. Semakin banyak makanan dapat kita tanam dalam sebidang lahan, semakin sedikit hutan hilang.
  3. Pemadatan kota. Sebenarnya terdapat hanya satu penyebab yang signifikan dari kehilangan hutan secara terus menerus di Amerika; 200 kota menyebar keseluruh bentang lahan dan secara permanen merubah hutan dan ladang pertanain menjadi beton. Apabila kita akan merencanakan kota-kota kita menjadi lebih padat, lingkungan yang lebih nyaman, kita tidak hanya menyelamatkan hutan, tapi kita juga menggunakan lebih sedikit energi dan bahan-bahan.

Kenampakan dari hamparan rumput yang baru saja dipotong yang diletakkan sepanjang ladang pertanian menarik bagi kita di saat menjelang sore. Bentuk daripada hamparan rumput indah bagi kita, kita cenderung untuk menilai bentang lahan dengan bagaimana lahan itu tampak bagus di kartu pos. Hamparan rumput sebenarnya hanya tumpukan besar dari selulosa mati terletak di sebidang lahan yang berada ditempat hutan yang dirusak. Terdapat sangat sedikit keragaman hayati di padang rumput, itu akan lebih sering menarik untuk dipandang daripada lahan hutan yang berada di sekitarnya dimana keragaman hayatinya banyak.

Hal yang sama terhadap kenampakan suatu kebun bunga yang sedang mengembang. Keanggunan, warna yang indah dari tanaman bunga tulip monokultur yang disemprot secara teratur dengan pestisida untuk menjaga kelopak bunga disenangi toko-toko bunga, menarik untuk kita lihat. Kita sukar memperhatikan hutan alam di dekatnya yang monoton berwarna kelabu hijau, yang berisi puluhan spesies pohon asli, ratusan spesies burung-burung, serangga, binatang dan tanaman-tanaman.

Kita ingin memberi kepada publik sepasang mata baru yang dengannya dapat melihat bentang lahan, melihat kesan visual yang tidak hanya seketika dan mengerti sedikit lebih banyak tentang ilmu pengetahuan, ekologi, dan keanekaragaman hayati. Ini mungkin tugas terpenting untuk industri hutan. Pelajaran tersebut bukan sesuatu yang sukar, tetapi ini tidak jelas secara intuisi bagi orang. Mereka cenderung menilai kesehatan lingkungan dengan mata yang sama yang mereka gunakan untuk menilai estetika suatu lahan. Apabila seseorang percaya dengan sungguh-sungguh bahwa kehutanan itu jelek karena nampak buruk, tidak ada sejumlah informasi teknis dan ilmiah dapat menyebabkan mereka berubah pikirannya. Pertama, mereka harus mengerti bahwa melihat lahan saja tidaklah cukup untuk membuat penilaian tentang ekologi.

Suatu lahan parkir yang luas adalah bentuk yang paling baik dari suatu kerusakan hutan. Adalah beralasan mobil dianggap sebagai teknologi yang paling merusak yang pernah diciptakan oleh manusia. Terutama ketika anda mempertimbangkan bahan hitam yang selalu ditemukan dibawahnya yakni aspal. Kenapa merupakan hal yang legal membawa limbah beracun dari proses pemurnian minyak dan menyebarnya ke tanah, membunuh semua kehidupan, sehingga mobil dan truk dapat berjalan dengan bebas?

Ketika oli mentah diletakkan ke dalam tempat pemurnian minyak, dengan jumlah ratusan juta barel setiap hari, kita mengambil bensin dari yang paling atas untuk menjalankan mobil, kemudian minyak disel untuk menjalankan truk dan kereta api. Mendekati dasar kita mengambil oli mentah yang digunakan untuk menghidupkan mesin uap dari kapal-kapal besar untuk mengarungi lautan. Tapi, di tempat paling bawah, yang tertinggal, adalah bahan pekat yang hitam ini. Apabila anda mengambilnya untuk menguruk tanah dengan izin di dalam sebuah truk, mereka akan mengusir anda di pintu gerbang karena itu adalah racun, berbahaya, dan merusak sepatu. Adalah tidak legal untuk menimbunnya, tetapi sangat legal untuk memuatnya di dalam truk dan menuangkannya langsung ke tanah dalam bentuk lapisan tipis, yang membunuh semua yang hidup. Ini adalah kasus terbesar dunia melegalkan pelimpahan racun, dan kita menutup mata untuk ini karena kisah cinta kita kepada mobil dan ketergantungan kita pada infrastruktur transportasi.

Menilai suatu keragaman hayati dengan skala dari 0 sampai 100, anda akan menyadari bahwa lapangan parkir itu sangat mendekati angka 0. ladang pertanian atau padang rumput mungkin dinilai 5 atau 10, dibanding dengan hutan asli yang di tebang, dibakar, dan ditanami untuk membuat ladang pertanian. Kehutanan dengan cara yang kita lakukan sekarang dihampir semua wilayah Amerika Utara dinilai 96, 98, 100, bahkan 102. Karena dibeberapa bentang lahan, pengelolaan hutan mengakibatkan lebih luas cakupan dari beberapa kelas umur dan tipe ekosistem dibanding dengan yang terjadi secara normal tanpa adanya aktivitas manusia.

 Semua kontroversi ini, tekanan politis, retorika yang hampir histeris tentang sedikit persentase dari keragaman hayati, dengan lensa kamera yang lebar fokus pada tebang habis yang baru saja terjadi, terjelek dan terbakar demikian juga tidak berubah seperti itu selamanya. Yang benar-benar ekstrim adalah lahan parkir dan areal lain dari kerusakan hutan, bukanlah hutan yang baru saja ditebang karena akan segera tumbuh kembali menjadi hutan baru yang indah.

 Kita harus membantu membuka mata orang, dan memberi mereka apresiasi yang lebih baik tentang dampak-dampak menyeluruh yang diakibatkan oleh berbagai aktivitas kita. Ketika sampai kepada masalah konservasi keragaman hayati, tidak ada industri primer yang lebih lestari dibandingkan dengan kehutanan.

Anda akan berpendapat bahwa kehutanan adalah industri primer yang paling lestari, dan kayu yang tanpa disangsikan lagi adalah bahan yang paling bisa diperbaharui dipakai untuk membangun dan menjaga peradaban kita, ini akan memberi kepada kayu banyak nilai ekosistem hijau pada daftar gerakan lingkungan. Sayangnya, bukan itu yang terjadi.

Greenpeace di depan panel PBB antar pemerintah tentang kehutanan telah menyerukan kepada negara-negara untuk mengurangi jumlah kayu yang mereka gunakan dan sebaliknya mengadopsi substitusi yang paling tepat secara lingkungan. Tidak ada daftar substitusi yang disediakan. Sierra Club menyerukan tidak ada penebangan dan menutup semua kehutanan komersial di lahan publik federal Amerika. Jaringan aksi hutan hujan (The Rainforest Action Network) menginginkan pengurangan sebesar 75 persen penggunaan kayu di Amerika Utara pada tahun 2015. Saya berpendapat adalah tepat untuk menyimpulkan pendekatan mereka ini sebagai “tebang lebih sedikit pohon, gunakan lebih sedikit kayu”.

 Adalah kepercayaan bulat saya, sebagai seorang peduli ekologi dan lingkungan sepanjang hidup saya, itu merupakan kebijakan anti lingkungan dengan mengesampingkan pentingnya kehutanan bagi masyarakat dan ekonomi berbeda saat ini; berdasar pada kebijakan lingkungan “menggunakan lebih sedikit kayu” adalah kebijakan anti lingkungan.

Terutama, ini berdasar logika tidak konsisten dengan, dan bertentangan secara diametris dengan, kebijakan-kebijakan yang memberikan akibat-akibat positif untuk perubahan iklim dan konservasi keragaman hayati. Saya akan menerangkan alasan saya sebagai berikut:

Pertama, penting untuk menyadari bahwa kita menggunakan kayu dalam jumlah yang besar. Setiap harinya, rata-rata, masing-masing dari 6 milyar orang di bumi ini menggunakan 3,5 pon atau 1,6 kilo kayu, sehingga totalnya 3,5 milyar ton pertahun. Jadi, kenapa kita tidak menebang saja separuhnya dan menyelamatkan areal hutan yang luas dari penebangan? Untuk mendemonstrasikan kedangkalan dari logika tersebut, perlu kita melihat pada apa yang kita kerjakan dengan semua kayu ini.

Menjadi suatu kejutan bagi banyak orang bahwa lebih dari separuh penggunaan kayu setiap hari bukan untuk membangun sesuatu, tetapi untuk dibakar sebagai energi. Enam puluh persen dari semua penggunaan kayu adalah untuk energi, terutama untuk memasak dan memanaskan di negara-negara tropis yang sedang berkembang dimana 2,5 milyar orang tergantung pada kayu untuk sumber utama energi mereka. Mereka tidak mampu membeli substitusi karena kebanyakan dari mereka berpenghasilan kurang dari seribu dolar per tahun.

Tapi, walaupun mereka mampu mendapatkan bahan bakar substitusi, mereka hampir selalu beralih ke batubara, minyak, gas alam; dengan kata lain bahan bakar fosil yang tidak bisa diperbaharui. Bagaimana kita akan menstabilkan emisi C02 dari penggunaan berlebihan bahan bakar fosil sesuai dengan Konvensi Perubahan Iklim apabila 2,5 milyar orang beralih dari energi kayu yang renewable menjadi bahan bakar fosil yang non-renewable?

Bahkan dalam beberapa kasus dimana penyediaan kayu bakar tidak bisa lestari pada tingkat konsumsi sekarang jawabannya adalah tidak menggunakan lebih sedikit kayu dan beralih ke bahan bakar yang non renewable. Jawabannya yang benar adalah menanam lebih banyak pohon-pohon. Dua puluh lima persen dari kayu yang digunakan di dunia adalah untuk membuat sesuatu seperti rumah-rumah dan mebel. Setiap bahan substitusi yang tersedia tidak renewable, dan memerlukan lebih banyak konsumsi energi untuk memproduksinya. Itu dikarenakan kayu diproduksi oleh suatu pabrik yang bernama hutan oleh energi sinar matahari yang renewable. Kayu pada dasarnya adalah bahan yang tidak bisa dilepaskan dari energi matahari.

Bahan-bahan bangunan yang tidak renewable seperti baja, semen, dan plastik harus dibuat pabrik-pabrik yakni pengecoran baja, pabrik pengolahan semen dan penyulingan minyak. Ini biasanya memerlukan banyak menggunakan bahan bakar fosil yang tidak dapat dihindari mengakibatkan emisi CO2 yang tinggi. Sehingga untuk 70 persen kayu yang digunakan setiap hari untuk energi dan pembangunan, beralih ke substitusi hampir selalu menyebabkan kenaikan emisi C02, bertentangan dengan kebijakan perubahan iklim. Lima belas persen dari kayu yang ditebang digunakan untuk pembuatan bubur kertas (pulp) dan kertas yang terutama digunakan untuk percetakan, pengemasan dan kegunaan sanitasi. Separuh penuh dari kayu ini berasal dari limbah penggergajian yang memproduksi produk-produk kayu solid untuk bangunan. Hampir semua penyediaan kayu lainnya adalah berasal dari tanaman pohon yang kebanyakan dibangun di atas lahan yang sebelumnya ditebang untuk pertanian. Sehingga walaupun kita menghentikan penggunaan kayu untuk membuat pulp dan kertas ini tidak akan mengakibatkan penyelamatan hutan-hutan.

Banyak diantara anda telah mendengar suatu ide dimana kita harus menghentikan penggunaan kayu untuk membuat kertas dan beralih menggunakan serat alternatif seperti rami, kenaf, dan kapas. “Kertas bebas pohon” dibuata dari bubur “kertas bebas kayu” yang diharapkan lebih bagus untuk lingkungan daripada kertas yang dibuat dari kayu. Saya berbicara di depan sekolah-sekolah dan universitas-universitas secara reguler dan telah menemukan bahwa banyak orang muda mempercayainya bahwa hal itu adalah pendekatan yang benar untuk memperbaiki lingkungan.

Saya bertanya kepada mereka: Dimana anda akan menanam rami, apakah di mars? Apakah anda mempunyai daratan disuatu tempat yang kita tidak tahu? Tidak, kenyataannya adalah kita harus menanam rami tersebut di planet ini, di atas tanah dimana anda dapat menanam pohon-pohon.

Berikan kepada saya lahan 1 acre dimana saja di bumi ini, katakan pada saya untuk menanam sesuatu disitu yang saya bisa membuat kertas, yang juga terbaik untuk keragaman hayati, dan saya pasti akan menanam pohon-pohon disetiap waktu tanpa kecuali. Ini adalah fakta yang bahkan tanaman pinus monokultur paling sederhana lebih baik bagi binatang buas, buung-burung dan serangga dibanding dengan tanaman pertanian tahunan apapun. Adalah bodoh bagi kelompok lingkungan yang mengatakan keprihatinan utama mereka adalah pengawetan keragaman, mengkampanyekan pembangunan tanaman pertanian eksotik tahunan monokultur secara besar-besaran dimana kita bisa menanam pohon-pohon.

Sehingga jelas bagi saya bahwa kebijakan “menggunakan lebih sedikit kayu” adalah anti lingkungan karena akan mengakibatkan kenaikan emisi CO2 dan pengurangan lahan berhutan. Saya percaya kebijakan yang benar seharusnya yang positif bukan yang negatif. Dari perspektif lingkungan kebijakan yang benar adalah “tanam lebih banyak pohon, gunakan lebih banyak kayu”. Ini dapat dicapai dengan berbagai cara:

 Pertama, penting untuk menetapkan beberapa dari hutan dunia menjadi taman yang diproteksi dan cagar alam dimana tidak terjadi pembangunan industri. WWF merekomendasikan bahwa 10 persen dari hutan dunia harus dicadangkan untuk keperluan ini. Bahkan mungkin 15 persen. Akan tetapi kemudian timbul pertanyaan, bagaimana kita harus mengelola sisa hutan lainnya yang 85 sampai 90 persen?

Saya percaya kita harus mengelolanya secara lebih intensif untuk mendapatkan produksi kayu yang lebih banyak, dengan memperhatikan kebutuhan spesies-spesies lain di suatu wilayah.

Hanya dengan mengelola hutan-hutan kita yang sekarang masih ada secara lebih baik, kita dapat meningkatkan secara dramatis penyediaan kayu di dunia. Sebagai tambahan kita harus memperluas keberadaan geografis hutan kita, sebagian besar dengan menghutankan kembali lahan yang sebelumnya ditebang untuk pertanian. Terutama areal hutan yang luas yang telah ditebang untuk produksi hewan domestik bagi penyediaan daging. Pengurangan yang cukup dalam konsumsi daging akan memperluas areal lahan untuk penghutanan kembali. Ini bagus untuk kesehatan kita dan juga kesehatan lingkungan.

Di negara-negara tropis yang sedang berkembang terdapat kebutuhan mendesak untuk penanaman kayu bakar yang lestari sebagaimana penanaman hutan untuk penyediaan kayu. Kita harus lebih mengarahkan program bantuan internasional ke arah ini. Secara relatif, perubahan yang berarti dalam kebijakan fiskal dan perpajakan akan mengakibatkan penyediaan kayu selama 40 tahun menjadi berlipat. Semua itu diperlukan kemauan politik agar kebijakan-kebijakan tersebut dilakukan. Akan tetapi, masyarakat umum dan para pimpinan politik kita telah menjadi bingung karena pendekatan yang salah tentang kehutanan yang dilakukan oleh kebanyakan gerakan lingkungan. Sepanjang orang berfikir salah untuk menebang hutan kita akan selalu bersifat tidak konsisten secara logika dan salah urus.

Saya percaya bahwa pohon-pohon adalah jawaban terhadap banyak pertanyaan tentang masa depan kita di bumi ini. Termasuk apakah kita dapat memajukan ekonomi secara lebih lestari berbasis bahan dan bahan bakar yang renewable? Bagaimana kita dapat mengurangi buta huruf dan meningkatkan sanitasi di negara-negara berkembang sambil memulihkan hutan yang rusak dan menjaga binatang liar pada waktu yang bersamaan? Bagaimana  kita dapat mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer, terutama CO2? Bagaimana kita dapat meningkatkan jumlah lahan yang mendukung lebih banyak keragaman spesies? Bagaimana kita dapat menolong pencegahan erosi tanah dan penyediaan air dan udara bersih? Bagaimana kita membuat dunia ini menjadi lebih indah dan hijau? Jawabannya adalah dengan menanam lebih banyak pohon dan menggunakan lebih banyak kayu baik untuk substitusi bahan bakar fosil dan bahan-bahan yang non-renewable seperti baja, beton, plastik, dan produk-produk kertas untuk percetakan, pengemasan, dan sanitasi.

Sejauh ini alat yang paling kuat sesuai yang kita usulkan untuk mengurangi emisi CO2 dari konsumsi bahan bakar fosil adalah penanaman pohon dan penggunaan kayu.

Kebanyakan aktivis lingkungan menyadari manfaat positif dari penanaman hutan untuk menyerap CO2 dari atmosfer. Namun kemudian mereka mengatakan “jangan menebangnya atau anda akan membatalkan kebaikan yang pernah dilakukan”. Ini menjadi benar jika anda semata-mata menumpuk kayu-kayu dan membakarnya. Walaupun kayu digunakan untuk substitusi bahan bakar fosil dan membuat untuk bahan-bahan yang produksinya mengkonsumsi bahan bakar fosil, kita dapat mengurangi secara dramatis konsumsi baha bakar fosil dan emisi CO2.

Sebagai contoh, suatu pembangkit tenaga besar yang berbahan bakar batubara. Jika kita menanam pohon dan menggunakan kayu sebagai substitusi untuk batubara, kita dapat menghilangkan emisi CO2 hampir 100 persen dari pembangkit tenaga tersebut. Hal itu dikarenakan penggunaan kayu secara lestari secara netto tidak melepaskan CO2 sedangkan pembakaran batubara melepaskannya sampai penuh 100 persen. Jika para aktivis lingkungan menyadari fakta ini, akan tidak terhindar membuat mereka mempercayai bahwa jawabannya adalah menanam lebih banyak pohon dan menggunakan lebih banyak kayu bukan mengurangi penggunaan dari sumber daya yang paling renewable ini.

Sebagai kesimpulan, perkenankanlah saya membawa anda kembali kepada hutan hujan di pantai barat Amerika Utara. Sekitar 300 feet dari rumah saya di kota Vancouver ada taman Pasific Spirit seluah 2.000 acre berupa hutan asli yang indah. Tepat di tengah-tengah kota. Ini bukan kebun botani dimana orang datang dan memangkas semak-semak serta menanam bunga tulip, ini adalah kenyataan hutan hujan liar di pantai barat yang penuh dengan rumput douglas,  cedar merah, cemara, pohon maple, alder dan cherry. Akan tetapi orang-orang yang datang ratusan setiap hari untuk berjalan di atas beberapa lintasan di dalam taman akan sukar percaya bahwa 2.000 acre yang dulunya hutan ditebang habis sekitar abad silam untuk bahan baku penggergajian kayu yang telah digunakan untuk mendukung pembangunan Vancouver.

Para penebang yang dulunya melakukan tebang habis di Taman Pasific Spirit dengan kampak 2 sisi yang tajam dan gergaji potong jauh sebelum digunakannya gergaji mesin, tidak mengetahui istilah ekologi atau keragaman hayati. Tidak lebih dari yang diketahui oleh kakek saya di ujung utara pulau Vancouver. Mereka hanya memotong kayu dan kemudian bergerak ke tempat lain untuk memotong lagi di tempat lainnya. Tidak ada yang dikerjakan untuk membantu pemulihan lahan, akan tetapi hanya dibiarkan saja. Ini menjadi bagian dari lahan yang disumbangkan oleh Universitas British Columbia, dan tidak dibangun menjadi perumahan seperti bagian lain dari Vancouver. Lahan telah tumbuh secar penuh menjadi hutan baru yang indah dan diresmikan sebagai taman regional pada tahun 1989.

Di Taman Pasific Spirit terdapat rumput douglas yang berdiameter lebih dari 4 feet dan mempunyai tinggi di atas 120 feet. Semua keindahan telah kembali ke Taman Pasific Spirit. Kesuburan tanah telah pulih. Dan keragaman hayati juga telah pulih: lumut-lumut, pakis-pakis, jamur-jamur, rempah bit, dan yang kecil-kecil lainnya sebagai bagian dari suatu hutan alam. Terdapat beberapa pelatuk, burung hantu, gagak, elang, garuda, coyote, dan kelompok bangau biru besar bersarang di pohon-pohon sekunder.

Ini adalah kelahiran kembali hutan, kelahiran kembali dari apa yang secara rutin diungkapkan di dalam media sebagai “lingkungan yang rusak total dan tidak dapat dipulihkan”. Saya percaya bahwa jika hutan dapat pulih sendiri dari kerusakan yang menyeluruh, berdasar pada pengetahuan yang berkembang tentang ilmu kehutanan dalam silvikultur, konservasi keragaman hayati, tanah, dan genetika; kita dapat menjamin bahwa hutan-hutan di dunia ini secara terus menerus menyediakan bahan baku kayu yang lestari dalam jumlah yang banyak dan mudah-mudahan semakin bertambah untuk membantu membangun dan menjaga peradaban kita, pada saat yang sama menyediakan habitat yang sangat banyak dan mudah-mudahan semakin bertambah bagi ribuan spesies yang tergantung kehidupannya sehari-hari seperti ketergantungan kita pada hutan. Kenyataannya adalah, dunia tanpa hutan adalah tidak mungkin sama seperti hari tanpa kayu. Dan saatnya para politisi, aktivis lingkungan, rimbawan, guru, wartawan dan masyarakat umum mendapatkan fakta seimbang tersebut dengan benar. Karena kita harus mendapatkannya dengan benar jika kita akan mencapai kelestarian di abad 21.

SEMOGA HUTAN BESERTA ANDA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini