Sawit Lokomotif Ekonomi di Saat Pandemi Covid-29

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Isu yang menyebutkan petani sawit terancam kelaparan dan meminta bantuan sembako, mendapatkan kecaman serius dari petani sawit di seluruh Indonesia.

Kecaman ini disampaikan para petani yang menjadi anggota Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) di 22 Provinsi. Sebagai organisasi petani yang mendapatkan legalitas resmi dari pemerintah, APKASINDO menilai informasi tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan, cenderung menyesatkan dan bersayap.

Tidak terbantahkan jika sawit adalah identik dengan Indonesia. Dan saat ini industri sawit adalah salah satu mesin ekonomi Indonesia yang masih eksis dimasa sulit masa Pandemi Covid-19 ini.

Namun disela keperkasaan sawit, muncul Informasi yang menyebutkan petani sawit terancam kelaparan dan meminta bantuan sembako.

Sebagai organisasi petani yang mendapatkan legalitas resmi dari pemerintah, APKASINDO menilai informasi tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan, cenderung menyesatkan dan bersayap.

Melansir berita disalah satu media online (detik.com) yang berjudul ‘Terancam Kelaparan, Petani dan Buruh Sawit Minta Bantuan Sembako’, disebutkan bahwa petani kelaparan dan meminta bantuan sembako dari pemerintah karena terancam kelaparan akibat kesulitan ekonomi dan kesulitan mendapatkan akses pangan.

Hal ini disampaikan salah satu Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), tepatnya dari Kabupaten Rokan Hulu (Rohul),  mengatakan yang dibutuhkan petani khususnya buruh sawit adalah sembako.

Ketua Umum DPP APKASINSO, Gulat Manurung, dan Sekjend DPP APKASINDO, Rino Afrino, menyatakan pihaknya mengecam keras pernyataan tersebut karena sepatutnya dalam situasi wabah Covid 19 ini, semua pihak jangan mengeluarkan pernyataan kontroversial dan tidak sesuai fakta lapangan.

“Mereka yang bicara tadi mungkin bukan petani dan tidak punya kebun sawit. Selain itu, mereka hidup bukan dari TBS sawit,” ujar Rino tegas, “harusnya saat bulan Ramadhan saat ini lebih banyak istigfar”.

Rino menjelaskan bahwa kondisi harga TBS petani kelapa sawit di awal Ramadhan ini rerata Rp. 1.250-Rp 1.700 per kilogram. Harga ini jauh lebih baik dibandingkna awal Ramadhan tahun lalu sekitar Rp 800-Rp 1.350 per kilogram.

Walaupun dihantui wabah covid-19,  aktivitas Petani sawit masih berjalan normal dan kehidupan ekonomi sehari-hari berjalan baik-baik saja.

Menurutnya, industri sawit mempunyai fungsi sangat penting bagi kehidupan manusia dalam pemenuhan bahan makanan, deterjen,  industri, energi, pakan ternak, biofuel dan ratusan produk turunan lainnya.

Dan pada 5 tahun terakhir sawit adalah penghasil Devisa Negara terbesar, Oleh karena itu semua pihak yang terlibat dalam industri ini dan masyarakat Indonesia wajib menjaga kestabilan nya dengan perannya masing-masing tentunya.

Berdasarkan pantauan APKASINDO terhadap kondisi petani sawit DPW APKASINDO di 22 Provinsi dan 117 DPD Kabupaten Kota, sampai hari ini belum ada yang teriak-teriak kalau ekonominya anjlok akibat turunnya harga TBS sebagai dampak Covid-19.

Sri Andiani, Petani Sawit dan Penggiat Sosial di Kabupaten Rokan Hulu heran dan tak habis pikir dengan pernyataan salah seorang Ketua SPKS Rohul, saya malu sesama orang Rohul membaca berita tersebut, mana ada Petani Sawit di kampung Saya Rohul kelaparan, semua baik-baik saja, memang harga sawit turun tipis, tapi taklah membuat Petani dan buruh tani di Rohul kelaparan apalagi sampai meminta-minta sembako.

Bahkan Bupati Rohul sudah mengeluarkan Surat Edaran mendukung semua aktivitas perkelapasawitan, jangan sampai terganggu ditengah pandemik Covid-19 ini dengan tetap mengedepankan Protap Kesehatan, ujar wanita umur 39 tahun ini.

Sujarno, petani sawit Rokan Hilir, Riau, bahwa pernyataan petani terancam kelaparan sangatlah menyesatkan karena kami petani sedang semangat-semangatnya merawat tanaman dari kegiatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

“Kami petani dan buruh tani yang sedang proses replanting saja gak kelaparan, tetapi malahan diisukan ekonomi petani sawit amblas”, ujar Jarno.

“Harga TBS kami di Rokan Hilir juga bagus di kisaran Rp. 1.420 per kilogram. Lalu, kenapa ada pihak yang mengatakan petani dan buruh tani terancam kelaparan ?”, tanya Jarno dengan heran.

Laporan dari Manokwari, Papua Barat, disampaikan Dorteus Paiki. Menurutnya kondisi petani tetap baik dan kami semua sepakat untuk mencegah penularan Covid-19.

Dijelaskannya bahwa tidak ada petani yang kelaparan bahkan kami petani sawit di Papua Barat saling membantu dan bergotongroyong membantu kawan-kawan yang bukan petani yang saat ini sedang kesusahan.

“Kami di Papua Barat tetap hidup  aman dan sehat walaupun ada ancaman pandemi Corona. Sebagai Petani sawit di Papua Barat, mohon semua Pihak jangan memanfaatkan situasi saat ini untuk kepentingan pribadi atau ‘pesanan’.  Jangan pula menjadi pengkhianat bangsa,” tegas Paiki.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Petani Sawit dari Sulawesi Barat, Andi Kasruddin, menjelaskan, sepanjang pabrik sawit tetap beroperasi maka penghasilan petani tetap aman dan tidak akan kelaparan.

“Bagi kami, petani sawit sudah teruji dan tahan lapar selama membangun kebun sawit dari nol sampai menghasilkan,”imbuh Andi yang juga merupakan Ketua DPW Apkasindo Sulawesi Barat.

Jafar, petani sawit asal Bengkulu, menjelaskan kendati terjadi penurunan harga TBS dalam seminggu terakhir tetapi petani masih sejahtera. Dirinya tersinggung apabila ada pihak mengatasnamakan petani dan lalu menyebarkan informasi ancaman kelaparan ini. Dirinya bahkan baru pesan pupuk senilai Rp 600 juta untuk kegiatan kebun. “Kalau pabrik sawit sampai tutup di saat Corona ini barulah ekonomi petani bisa terganggu. Tetapi kami tidak terima jika dikatakan terancam lapar. Karena, kami petani sawit banyak juga yang mengembangkan budidaya tanaman lainnya,” jelas Jafar.

Kasriwandi, Petani Sawit dari  Muara Bulian, Jambi  menjelaskan bahwa petani di wilayahnya mengikuti arahan pemerintah seperti pembatasan sosial. Beruntung, aktivitas kebun tetap berjalan lancar dan normal. Tidak benar kalau dikatakan petani mengalami kelaparan karena harga TBS mampu memberikan penghasilan bagus kepada petani. Kendati, terjadi penurunan dari bulan kemarin.

“Petani sawit itu sangat teruji dengan turun naiknya harga sawit. Justru disaat Corona ini harga TBS kami lebih cantik sebelum ada Corona tahun lalu. Jadi harga turun naik itu biasa. Kalau kelaparan, sangat tidak mungkin, disaat harga TBS Rp. 800 saja kami bahagia apalagi  rerata harga TBS petani swadaya saat ini Rp 1.500 per kilogram. Sementara itu, harga petani mitra atau plasma sekitar Rp 1.681 per kilogram. Strategi petani saat turun harga, biasanya mengurangi pemupukan, tidak ada itu istilah petani kelaparan. Mungkin narasumber berita tersebut yang kelaparan,” ujarnya.

Seperti misalnya DPD Apkasindo Tanjung Jabung Timur Jambi, mengadakan Baksos yang dikoordinir oleh Ketua DPD nya Bapak Iman Al Gazali,  jadi mana mungkin kami Petani bisa berbagi alat kesehatan dan sembako ke saudara-saudara kami kalau kami sendiri Petani kelaparan, ujar Kasriwandi.

Hal yang sama juga disampaikan Ali dari Petani Sawit Kalimantan Utara (Kaltara). Kalau di daerah saya di Kaltara alhamdulillah perkebunan kelapasawitlah yang membuat ekonomi diperbatasan negara dengan Malaysia bertahan khusus Kabupaten Nunukan dan Kabupaten lainnya.

Bahkan kami Petani Sawit Apkasindo di Nunukan berpartisipasi menyumbang warga tidak mampu di desa saya sebanyak 200 sak beras dan akan berlanjut lagi bulan depan. Jadi bagaimana mungkin kami kelaparan ? Ujar Ali bertanya.

Hampir semua Petani sawit berpendapat sama, seperti juga dari Aceh, Sofyan Abdullah, Jufri Nur dari Sumatera Barat, Indra Rustandi dari Kalimantan Barat dan Sunyoto dari Kalimantan Timur, semua sependapat dengan rekan-rekan Petani tadi, yaitu petani sawit baik-baik saja dan meminta satu hal, jangan sampai PKS terganggu dan berujung tutup, ini baru kami kelabakan, ujar Rino merangkai hasil survey Apkasindo ke 22 Provinsi.

Ketua Harian DPP APKASINDO, H. Gusdalhari Harahap, menjelaskan bahwa hubungan antara petani, pabrik sawit, dan pemerintah sangat baik  bahkan saling mendukung terkhusus saat Pandemi Covid-19 ini. Sebaiknya, semua Pihak menahan diri untuk tidak  “bermain” dan membuat sensasi  melalui isu-isu yang merusak situasi saat kita semua fokus mitigasi corona. “Kita elemen masyarakat Indonesia harus bahu-membahu untuk menjaga situasi dan iklim ekonomi khususnya perkebunan sawit, apalagi di tengah pandemic ini.  Upaya ini sangat dibutuhkan supaya ekonomi Indonesia dapat bangkit dan kuat terutama di saat sulit seperti sekarang,” harapnya.

Pengamat ekonomi dan Konsultan Perkebunan Kelapa Sawit Dr. Tungkot Sipayung memberi tanggapan mengenai issu Petani kelaparan ini.

Issu kelapa sawit ini memang sangat seksi untuk diberitakan, ya karena memang Sawit adalah juaranya Penghasil Devisa negara dan melibatkan puluhan juta Petani dan Pekerja ikutan lainnya. Sebenarnya justru “immunitas” industri sawit terhadap Covid 19 lebih baik dari sektor-sektor ekonomi lainnya, jadi jika dikatakan Petani sawit saat ini kelaparan, perlu diluruskan. Yang saya amati terkahir ini bahwa terjadi kelangkaan pupuk, itupun hanya dibeberapa Provinsi saja, terutama pupuk bersubsidi, ujar Tungkot melalui sambungan telepon.

Kita harus bangga sebagai Negara Penghasil CPO terbesar di dunia dan sesungguhnya Kelapa sawitlah Lokomotif Ekonomi Indonesia disaat ekonomi sulit saat ini, jadi jangan dibalik-balik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini