Strategi Meraih Swasembada Gula Konsumsi Tahun 2024

0
pabrik gula tua
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Target Kementerian Pertanian dalam mencapai swasembada gula konsumsi pada 2020 tampaknya bakal mundur menjadi tahun 2024. Hal ini karena pabrik gula (PG) baru masih belum dapat beroperasi maksimal. Selain itu perluasan lahan tebu sebagian juga masih dalam tahap persiapan.

Kementerian Pertanian punya keyakinan bahwa proyek perluasan lahan tanam tebu di luar Pulau Jawa yang saat ini mulai berjalan, dapat berkontribusi signifikan terhadap produksi gula nasional. Kontribusi tersebut setidaknya bisa dirasakan mulai tahun depan.

Paling tidak, ungkap Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Wahyudi, terdapat 6.000 hektar lahan baru di luar Jawa yang masuk dalam program pemerintah tahun 2019. Luas lahan tanam tebu baru di luar program tersebut diperkirakan jauh lebih luas.

“Target cukup luas. Yang masuk dalam program ada sekitar 6.000 hektar. Yang non-program lebih besar. Saya belum hitung tapi perkiraan saya ada lebih dari 20.000 hektar yang dikembangkan oleh pabrik gula baru,” kata Agus di Jakarta, belum lama ini.

Dengan asumsi penambahan lahan mencapai 26.000 hektar, maka luas total tanam tebu bisa menjadi sekitar 430.000 hektar.

Sekalipun terdapat potensi penambahan, Agus mengakui kontribusi dari lahan tersebut belum bisa dirasakan langsung pada tahun ini. Pasalnya, banyak di antara pabrik-pabrik baru yang memanfaatkan lahan tersebut masih dalam tahap pengembangan.

“Pabrik gula ini baru belajar. Ada yang mengembangkan 1.000 hektar ada yang 500 hektar. Menanam tebu memang petani tidak bisa langsung mahir. Kita harus melakukan pembinaan teknis bersama dengan pabrik gula,” paparnya.

Kementerian Pertanian sendiri menargetkan swasembada gula di tahun 2024. Saat itu, produksi gula minimal harus 3 juta ton, untuk memenuhi kebutuhan gula nasional yang diperkirakan akan mencapai angka 3 juta ton pada tahun bersangkutan.

“Dengan produksi sekarang (2019) diperkirakan mencapai 2,25 juta ton, maka masih diperlukan penambahan sebanyak 775.000 ton lagi untuk swasembada,” kata Agus.

Dijelaskannya bahwa kebutuhan gula tahun 2024 diperkirakan mencapai 3 juta ton. Sedangkan tahun 2019 kebutuhannya 2,72 juta ton, atau akan ada kenaikan kebutuhan gula 280.000 ton.

Guna menghasilkan produksi 3 juta ton, dibutuhkan lahan 500 ribu ha, sementara luas areal lahan tebu tahun 2019 mencapai 420 ribu ha sehingga harus ditambah 80.000 ha.

“Kenaikan yang luar biasa besarnya. Padahal dalam kondisi saat ini kecenderungan luas areal tebu semakin menurun setiap tahun,” tegasnya.

Menurutnya, produktivitas gula tahun 2019 mencapai 5,3 ton/ha sehingga perlu dinaikkan jadi 6 ton/ha untuk bisa swasembada. “Naik hanya 0,7 ton/ha, sebenarnya sangat sedikit tetapi dalam situasi sekarang sangat sulit,” tukas dia.

Peningkatan areal lahan tebu akan difokuskan ke luar Jawa karena sudah sulit dilakukan di Jawa. Maksimal di Jawa adalah 20.000 ha sedang 60.000 di luar Jawa. “Ini yang jadi fokus pemerintah 5 tahun ke depan. Kita harus pertahankan area di Pulau Jawa. Di sisi lain, perluasan di luar Pulau Jawa tidak bisa dihindari,” tandasnya.

Agus menambahkan, perluasan area tebu luar Jawa bersamaan dengan didirikannya pabrik gula (PG) baru. Terdapat 10 PG baru yang mulai beroperasi di Pulau Jawa beserta area tebu, baik yang dimiliki PG maupun perusahaan. “Mereka baru belajar (mengelola area tebu). Kami harus lakukan pembenahan teknis.”

Pejabat eselon II Ditjen Perkebunan ini juga mengatakan bahwa pihaknya melakukan tiga strategi dalam meningkatkan produktivitas tebu, yakni tata kelola air, peningkatan kesuburan tanah, serta mengembangkan pola dan jadwal tanam.

Agus juga menyayangkan banyaknya PG yang meninggalkan pola operasi sesuai masa tanam. “Rendemennya rendah sekali karena mereka tidak menjadwalkan area mana yang harus dipanen,” keluhnya.

Dalam pandangan Agus, kemitraan tetap antara PG dan petani menjadi penting untuk dilaksanakan di lapangan. Melalui kemitraan ini, diharapkan petani lebih mudah mendapat akses dari pemerintah maupun swasta.*** SH, AP, NM, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini