Tahun 2019, PT Unggul Widya Targetkan Produksi CPO 120.000 ton

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Unggul Widya Teknologi Lestari yang beroperasi di Kabupaten Mamuju Utara (Pasang Kayu) dan Mamuju Pusat Sulawesi Barat, menargetkan produksi 120.000 ton pada tahun 2019.

Direktur Utama PT Unggul Widya Teknologi Lestari, Tjokro Putro Wibowo mengatakan hingga saat ini (September 2019) perusahaannya telah memproduksi CPO sebesar 86.000 ton dan diperkirakan selama Okt s/d Desember 2019 akan berproduksi 34.000 ton, sehingga diperkirakan produksi 2019 akan mencapai 120.000 ton.

“Sampai dengan September 2019, produksi kami 86.000 ton dan diperkirakan selama Oktober s/d Desember 2019 akanada tambahan produksi sebesar 34.000 ton, sehingga diperkirakan produksi CPO kami tahun ini mencapai 120.000 ton,” kata Tjokro, di Cibitung Bekasi, 19/10/2019.

Menurut Tjokro, angka produksi ini menurun jika dibandingkan dengan produksi tahun 2018 dan 2017. Tahun 2018 produksi CPO PT Unggul mencapai 126.000 ton, sementara pada tahun 2017 sebesar 124.000 ton. Penurunan ini di sebabkan oleh cuaca ekstrim yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia.

“Hal ini dipengaruhi cuaca ekstrim, kemarau panjang sehingga produksi Tandan Buah Segar (TBS) sawit menurun,” jelas Tjokro.

Tokro menambahkan PT Unggul juga merupakan rumah bagi 3.070 KK (Kepala Keluarga) yang tergabung sebagai petani plasma dengan memiliki 6.140 hektar lahan sawit.

“Mereka adalah masyarakat transmigrasi yang datang ke wilayah tersebut pada tahun 1988, dari berbagai daerah seperti Jakarta, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat dan Timur, masyarakat lokal dan eks Kodam,” kata Tjokro.

Menurutnya, kala itu setiap KK mendapat 2 hektar lahan sawit dan setengah hektar untuk rumah dan pekarangan. PT Unggul sendiri ditunjuk sebagai “bapak angkat” yang bertugas memberikan bantuan pendanaan untuk pengadaan bibit dan pupuk, atau disebut dengan program PIR-Trans Sawit.

“Selanjutnya untuk pembayaran dilakukan dengan cara diangsur, dipotong dari hasil penjualan TBS setelah panen,” jelasnya.

Dari mulai tanam hingga dapat dipanen memang membutuhkan waktu paling cepat 4 tahun. Selama belum menghasilkan masyarakat transmigrasi saat itu bisa bekerja sebagai buruh perusahaan. Selain itu juga bisa memanfaatkan pekarangan untuk menanam palawija dan sayur-sayuran. Namun cerita perjuangan itu sudah menjadi masa lalu, sekarang sudah banyak masyarakat yang sukses, bahkan lebih sukses dari karyawan PT Unggul.

“Dulu mereka datang hanya dengan sarung diikat ujungnya untuk membawa baju, sekarang mereka sudah banyak yang punya fortuner,” ungkapnya.

Ia mengatakan, produksi CPO ini dipasarkan ke beberapa daerah seperti seperti ke kota Surabaya, Jawa Timur, kota Bitung dan beberapa daerah lainnya.

Kehadiran industri kelapa sawit mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di Kabupaten Mamuju Utara. Bahkan telah merubah status dari daerah tertinggal menjadi maju dan berkembang di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Mamuju Utara menjadi daerah terbesar penghasil kelapa sawit di provinsi itu, dengan produksi 514,8 ribu ton di tahun 2016.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini