Tahun Ini, Prospek Industri Sawit Cerah

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Memasuki tahun 2020, industri sawit Indonesia cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan kondisi iklim yang membaik dan harga sawit yang cukup tinggi. Bahkan, menurut BMKG, iklim tahun 2020 akan lebih baik daripada iklim 2019, musim kemarau diperkirakan akan dimulai pada bulan April-Mei.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono mengemukakan, Gapki tetap optimis pada tahun 2020 industri sawit Indonesia  memiliki prospek yang baik.

“Meskipun kondisi ekonomi dunia tahun 2020 masih belum menentu; situasi politik  di Timur Tengah masih panas, perang dagang USA-China belum berakhir, masih adanya tuntutan sustainability di EU; peningkatan penggunaan  biofuel di dalam negeri, semakin banyaknya perusahaan yang bersertifikasi ISPO  dan  terbukanya tujuan-tujuan ekspor baru akan lebih menjamin pasar minyak sawit Indonesia di pasar global, Gapki tetap optimis pada tahun 2020 industri sawit lebih baik,” kata Joko dalam kegiatan “Refleksi Industri Sawit Tahun 2019 dan Prospek Tahun 2020” di Jakarta, baru-baru ini.

Joko menambahkan, komitmen pemerintah untuk mengimplementasi B30 pada 2020, menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sangat serius dan dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap perdagangan minyak nabati dunia dan perdagangan minyak di dalam negeri. Kebutuhan dalam negeri 2020 diperkirakan mencapai 8,3 juta ton untuk biodiesel yang mungkin akan berpengaruh pada ketersediaan produk minyak sawit untuk ekspor.

Meski demikian, Gapki tetap memperhatikan tantangan dan peluang pasar ekspor maupun domestik dalam negeri serta adanya iklim usaha yang lebih berpihak kepada peningkatan investasi.

Untuk itu, program kerja seluruh stakeholder sawit tahun 2020 perlu difokuskan pada :

  • Peningkatan produktivitas baik melalui perbaikan teknik produksi maupun replanting.
  • Mendorong percepatan implementasi sustainability/ISPO.
  • Mendorong pengembangan ekspor terutama di negara tujuan ekspor baru dan penanganan berbagai hambatan perdagangan di pasar global.
  • Meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap minyak sawit dan produk turunannya serta memperluas dan mengembangkan kampanye positif sawit yang efektif, baik di dalam negeri maupun di berbagai negara tujuan ekspor utama.

“Dengan melihat berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi pada tahun 2020 serta dukungan pemerintah yang sangat besar terhadap industri sawit maka Gapki optimis tahun 2020 industri kelapa sawit akan lebih baik dari tahun 2019,” kata Joko meyakinkan.

Refleksi 2019

Joko Supriyono juga menjelaskan, tahun 2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri sawit Indonesia. Implementasi RED II oleh EU yang menghapuskan penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku bioidiesel, perbedaan tarif impor produk minyak sawit Indonesia ke India, kemarau yang berkepanjangan, perang dagang USA dan China dan harga CPO yang terus menurun merupakan tantangan utama yang dihadapi industri sawit hampir sepanjang tahun 2019.

“Perang dagang USA dan China menyebabkan ekspor kedelai USA ke China terkendala sehingga petani USA yang biasanya memasok dalam jumlah besar ke China  harus mencari pasar baru yang menyebabkan harga oil seed dan juga minyak nabati tertekan,” jelas Joko.

Menurut dia, ada hal yang menarik pada tahun 2019, tepatnya pada 16 Agustus 2019, Presiden Jokowi menyampaikan dalam pidato kenegaraannya  bahwa Indonesia akan lebih banyak mengkonsumsi minyak sawit untuk keperluan dalam negeri, terutama untuk biofuel.  Dampaknya, harga CPO rata-rata KPBN  terus melonjak menjadi US$ 483, 497, 582, dan 651 per ton pada September-Desember 2019.

“Produksi minyak sawit 2019 mencapai 51,8 juta ton atau sekitar 10% lebih tinggi dari produksi tahun 2018  sementara konsumsi domestik naik 24% menjadi 16,7 juta ton dengan rincian konsumsi biodiesel naik 49%, pangan naik 14% dan oleokimia naik  9%. Volume ekspor produk sawit tahun 2019 sebesar 35,7 juta ton naik 4% dari ekspor 2018,” paparnya.

Nilai ekspor produk minyak sawit termasuk oleokimia dan biodiesel 2019 diperkirakan mencapai US$ 19 miliar. Nilai ekspor ini  sekitar 17% lebih rendah dari ekspor produk minyak sawit tahun 2018 yang nilainya sebesar US$ 23 miliar.

Destinasi utama ekspor produk minyak sawit tahun 2019 selain oleokimia dan biodiesel Indonesia adalah China (6 juta ton), India (4,8 juta ton), EU (4.6 juta ton).  Khusus untuk produk oleokimia dan biodiesel, ekspor terbesar adalah ke China (825 ribu ton) diikuti oleh EU (513 ribu ton).

Ekspor minyak sawit ke Afrika yang naik 11% pada 2019 dari 2,6 juta ton pada 2018 menjadi 2,9 juta ton dan menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun memberikan sinyal positif bagi pasar produk minyak sawit Indonesia.

Tahun 2019 yang penuh tantangan ditutup dengan harga yang melonjak diatas US$ 800/ton CIF Rotterdam dan penyamaan tarif impor minyak sawit Indonesia di India.  Situasi finansial yang baik ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pekebun terutama untuk membiayai pemulihan tanaman dan infrastruktur yang mungkin pemeliharaannya tertinggal ketika harga rendah.

“Akhir tahun 2019 mulai dipersiapkan pelaksanaan implementasi B30 yang membuat cemas  importir terkait dengan kemungkinan akan turunnya ketersediaan minyak sawit Indonesia untuk ekspor,” tambah Joko.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan menambahkan, produksi biodiesel tahun lalu terpakai mencapai 6,7 juta kiloliter (kl), sehingga menghemat devisa untuk impor solar sebesar US$ 3,8 miliar. Meski demikian, tahun ini industri biodiesel akan menghadapi beberapa tantangan yang cukup berat.

Tahun ini, lanjut Paulus, B30 menghadapi tantangan terkait peningkatan kualitas. Kemudian transportasi, karena adanya peningkatan volume yang melonjak 30%, sulit mencari transportasi yang sesuai dan tersertifisi untuk bahan bakar.

Kemudian, perlu adanya penambahan tangki timbun atau storage dan peningkatan kapasitas pelabuhan.”Kita berharap ke depan makin baik dan lancar. Jika membaik tahun ini, biodiesel akan terpakai 9,6 juta kl. Sebab, tahun lalu dari perkiraan 6,4 juta kl ternyata terpakai 6,7 juta kl,” kata Paulus.

Dengan adanya peningkatan pemakaian biodiesel tahun ini diperkirakan akan menghemat devisa US$ 5,4 miliar.

Menurut dia, ke depan, Aprobi sedang mendiskusikan mengenai campuran lebih tinggi dari B30, keputusannya akan segera diambil sembari melakukan pembenahan. “Untuk memenuhi kebutuhan, tahun depan sudah ada perusahaan yang siap menambah kapasitas sebesar  3,6 juta KL,” pungkas Paulus. ***SH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini