Temu UMKM & Promosi Sawit Baik: Puluhan Produk Sawit Dipamerkan ke Publik

0

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bersama Majalah Sawit Indonesia kembali mengadakan Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik di Auditorium Kementerian Koperasi dan UKM, baru-baru ini.

Hal ini bertepatan dengan Hari UMKM Internasional untuk meningkatkan ketahanan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) guna mempercepat pembangunan berkelanjutan dan menghapuskan kemiskinan.

Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri menjelaskan, kegiatan ini juga menyajikan diskusi yang bertemakan “Peranan UMKM dalam Kebijakan Hilirisasi Sawit” yang akan menampilkan 5 pembicara antara lain Dr. Ali Alkatiri, ST., M.Si (Asisten Deputi Pengembangan Kawasan dan Rantai Pasok Kementerian Koperasi dan UKM), Dr. Darmono Taniwiryono (Owner Minyak Sawit Merah Salmira), Helmi Muhansyah (Kadiv UKMK BPDPKS), Sugiantoro (Manager CSR Apical), dan Ir. Indra Budi Susetyo, M.Sc. (Periset Agroindustri Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan moderator Suharno, Pemimpin Redaksi Majalah HORTUS Archipelago.

“Hal ini  membuktikan komitmen kami dan BPDPKS mendukung pemberdayaan dan kemajuan UMKM di Indonesia. Sebelum di Jakarta, kami juga mengadakan kegiatan di Solo di mana salah satu rekomendasinya mengusulkan Solo sebagai Pusat Promosi UMKM Sawit di Jawa,” ujar Qayum.

Selain diskusi, lanjutnya, ada edukasi Makanan Sehat bersama Apical, sebagai salah satu produsen produk hilir sawit terbesar di Indonesia dan dunia. Melalui edukasi ini, masyarakat dapat mengetahui cara pengolahan makanan yang baik dan sehat dengan menggunakan produk turunan sawit terbaik dan berkualitas.

Qayum menjelaskan, UMKM berbasis kelapa sawit memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, terutama dalam penyerapan tenaga kerja yang mencapai 16 juta, dan berkontribusi tidak kurang 3,5% kepada PDB di Indonesia. Seiring dengan gencarnya hilirisasi, diharapkan kehadiran UMKM berbasis sawit ke depannya bisa meluaskan penggunaan produk sawit dan meminimalkan pada pasar ekspor.

“Selama masa emerintahan Joko Widodo hilirisasi minyak sawit berkembang cukup pesat, dari puluhan menjadi ratusan. Selain itu, produk ekspor sawit pun 90 persen sudah produk hilir dan hanya 10 persen saja yang bentuk CPO atau sawit mentah. Harapan kita temen-temen UMKM ini jangan ditinggalkan malah harus diajak dalam hilirsasi sawit,” pinta Qoyum.

Sementara Dr. Ali Alkatiri mengatakan, dalam posisi yang tepat, UMKM sawit mampu mengerakkan roda perekonomian nasional.

“Kita harus memposisikan sawit ini dengan tepat untuk menggerakkan roda ekonomi nasional. Menurut data Kemenkop, ada 66 juta UMKM dan berkontribusi terhadap 61 persen,” ujarnya.

Menurut Ali, dalam tantangan global harus bisa mengelola sumber daya alam (SDA) terutama sawit, untuk kesejahteraan bersama dan mencegah ketidakadilan. Adanya UMKM, ke depan harus bisa melakukan hilirisasi produk sawit.

“Jadi koperasi dan UMKM besar potensinya bisa melakukan hilirisasi, tidak hanya memanggul TBS saja,” tegas Ali.

Darmono Taniwiryono menjelaskan, perjalanan mengembangkan minyak sawit merah Salmira/red palm oil, awalnya berasal dari Afrika Barat. Kemudian diteliti dan dikembangkan di Indonesia dengan nama virgin palm oil.

“Namun, BPOM tidak setuju, karena kalau virgin sudah pasti merah. Misalnya virgin olive oil, semakin tinggi nutrisinya. Ada virgin coconut oil. Jadi kita mensejajarkan nomenklatur di BPOM,” kata dia.

Menurut Darmono, saat ini masin ada anggapan sebagian masyarakat, minyak koq merah? Produksinya koq jorok?

“Kita kan sudah diajari Belanda dengan canggih? Koq kandung sulfurnya dimakan? Padahal telur sulfurnya 30 persen, sawit cuma 10 persen. Saya pernah struk ringan, tapi pakai virgin oil sembuh,” ungkapnya.

Helmi Muhansyah menambahkan, BPDPKS berkomitmen mendukung pengembangan UMKM berbasis sawit melalui berbagai kegiatan seperti workshop, Gebyar UMKM, dan Semarak UMKM.

“BPDPKS memfasilitasi para pelaku UMKM sawit untuk menampilkan produk-produk yang mereka hasilkan, sehingga masyarakat umum dapat lebih mengenal produk UMKM berbasis sawit, dan memajukan sawit baik yang berkelanjutan,” kata Helmi.

Dia berharap, melalui kegiatan ini para pelaku UMKM dapat memahami lebih tentang proses berkelanjutan dari produksi hingga pemasaran. Selain itu, lanjut Helmi, kemitraan UMKM BPDPKS juga telah menerima berbagai apresiasi.

“Di antaranya, Sawit Award tahun 2022 untuk Kategori Program Penguatan UMKM dan Petani Sawit dari Majalah Sawit Indonesia, Indonesia CSR Award 2021 untuk Program Koperasi dan UKM Sawit dari Warta Ekonomi, dan juga Program Kemitraan UMKM Santripreneur Berbasis UMKM Sawit dalam Milenial Syariah Festival 2021 dari Warta Ekonomi,” jelasnya.

Plt. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga menyebutkan, saat ini konsumsi CPO dalam negeri telah mencapai hampir 40%, sementara sisanya untuk ekspor. Namun, menurutnya, sudah waktunya dibalik. Konsumsi dalam negeri meningkat menjadi 60% dan 40% untuk ekspor ke berbagai negara.

“Dengan serapan yang tinggi, maka dengan sendirinya akan meningkatkan harga dan daya saing produk sawit,” kata sahat.

Menurut Sahat, sudah waktunya UKMK sawit lebih berperan, sehingga tak perlu melalui supermarket karena sudah memiliki pasar yang besar.

“ Saya kira perusahaan itu punya bottleneck. Sehingga produsen bisa langsung melakukan distribusi produknya melalui UMKM,” kata dia.  *** ADV

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini