PT RPN Kembangkan Karet Bantalan Bangunan Tahan Gempa

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ketersediaan bangunan tahan gempa menjadi suatu kebutuhan, terlebih wilayah Indonesia berada di jalur cincin api (ring of fire) yang sering terjadi gempa bumi tektonik.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat 1.926 unit rumah rusak diakibatkan oleh gempa sepanjang tahun 2020. Kerusakan bangunan juga kerap kali menjadi penyebab korban luka hingga meninggal ketika bencana gempa terjadi. Seperti pada tahun 2018 telah terjadi gempa dengan magnitude mencapai 7 SR di Lombok NTB dan Palu Sulawesi Tengah.

Gempa bumi ini menyebabkan ribuan nyawa melayang dan kerugian materi yang sangat besar akibat infrastrukur seperti fasilitas publik, tempat ibadah, dan rumah tinggal yang rusak. Untuk gempa bumi Lombok sekitar 74 ribu rumah mengalami rusak berat, sedangkan gempa bumi Palu menyebabkan sekitar 66 ribu rumah mengalami kerusakan. Untuk mengurangi risiko bangunan rusak karena gempa bumi, teknologi struktur bangunan tahan gempa yaitu karet bantalan bangunan tahan gempa dapat menjadi salah satu solusinya.

Sejak tahun 2020, Pusat Penelitian Karet-PT Riset Perkebunan Nusantara berkolaborasi dengan Departemen Teknik Sipil-Universitas Krida Wacana (UKRIDA) telah mengembangkan teknologi karet bantalan bangunan tahan gempa untuk infratruktur jembatan layang dan rumah gedung sesuai dengan persyaratan EN 15129.

Penelitian tersebut dibiayai oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) melalui BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) untuk pendanaan Riset Prioritas Nasional (PRN) Teknologi Struktur Bangunan Tahan Gempa, Tahan api, Cepat Bangun, dan Murah.

Teknologi material untuk pembuatan karet bantalan bangunan tahan gempa akan diujicobakan pembangunan bangunan rumah satu tapak didaerah sukabumi sebagai wilayah dengan katagori rawan gempa. Selian itu, teknologi ini juga telah digunakan PT Bukaka untuk membuat LRB (Lead Rubber Bearing) sebagai karet bantalan jembatan dan jalan layang tahan gempa.

Menurut Adi Cifradi, Ketua Peneliti Balai Penelitian Teknologi Karet Pusat Penelitian Karet (Puslit Karet) PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), teknologi rekayasa material maret dan desain bantalan tahan gempa (Seismic Base Isolator) ini dimaksukkan untuk mendukung PRN bangunan tahan gempa.

“Produk karet bantalan tahan gempa tipe berlapis berbentuk bulat (round type laminated high damping rubber seismic bearing) yang sesuai digunakan sebagai base isolator system pada RTG,” kata Adi dalam diskusi daring yang diselenggarakan PT RPN, 15/10/2021.

Adi menjelaskan, ada 3 tipe karet bantalan tahan gempa yang sesuai digunakan pada RTG = rumah tapak 1 lantai (Rumah RISHA modifikasi), bangunan sekolah modular, dan rumah susun modular.
Dalam pembuatannya dibutuhkan waktu 2 jam/unit karet bantalan tahan gempa. Dengan dimensi yang diperoleh dari permodelan.

“Lapisan komposit karet: D x t = 200 mm x 10 mm yang terdiri dari 13 Lapisan dengan lapisan pelat baja : D x t = 200 mm x 1 mm, 12 Lapisan. sehingga dimensi total dari prototipe karet tahan gempa adalah Diameter x Tinggi = 200 x 150 mm. Jika ukuran end plate menjadi Panjang x Lebar = 300 mm x 300 mm,” jelas Adi.

Usman Wijaya dari Departemen Teknik Sipil-Universitas Krida Wacana (UKRIDA) menambahkan, riset telah menghasilkan produk karet bantalan tahan gempa jenis HDRB yang didisain sesuai untuk dipasang pada bagian pondasi rumah tapak sebagai base isolator system (penyerap getaran gempa).
“Berdasarkan peta jalan riset produk konsorsium & komponen pada 2024 , akan diproduksi komponen skala penuh dan aplikasi pada rumah susun teknologi ke industri,” jelas Usman.

Usman mengakui, dari sisi biaya akan ada penambahan sekitar 10 persen. Namun jika dinilai dari manfaat dan keamanannya, maka biaya tersebut masih cukup ekonomis.

“Memang ada penambahan biaya 10 persen, tapi manfaatnya lebih besar dari itu,” pungkas Usman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini