Wagub Jambi Membuka Secara Resmi IPOSC ke-3

0

Indonesian Palm Oil Smallholders Conference (IPOSC) ke-3 yang dihadiri ratusan petani swadaya sawit yang tergabung dalam POPSI (Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia) dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur (Wagub) Jambi, Abdullah Sani. Penyelenggaraan IPOSC yang disertai pameran (expo) tersebut berlangsung selama 2 hari, pada 28-29 November 2023.

Dalam laporannya, Ketua Umum POPSI, Pahala Sibuea mengatakan, IPOSC ke-3 yang terlenggara atas kerjasama antara lain dengan BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit), Media Perkebunan dikuti oleh 300 petani lebih dari berbagai asosiasi yang berasal dari Kalbar, Kalsel, Sumut, Jambi, Lampung, Sumsel, dan Kaltara.

Adapun materi yang dibahas dalam IPOSC kali ini pada intinya terkait dengan isu-isu hangat yang dihadapi petani sawit saat ini. Di antaranya, bagaimana upaya konkret yang harus dilakukan petani untuk meningkatkan produktivitas sawit mereka.

Ketua Dewan Pembina POPSI, Gamal Nasir dalam pengantarnya mengemukakan, sejauh ini petani sawit selalu disoroti bahwa produktivitasnya rendah. Ïni “tentunya tantangan bagi kita semua,”ujarnya menegaskan.

Untuk itu, dia minta agar petani fokus saja pada upaya untuk meningkatkan produktivitas. “Kenapa saya perlu mengingatkan demikian? Karena tahun ini merupakan tahun politik dan saya minta asosiasi petani jangan ikut berpolitik berpihak pada pasangan capres dan cawapres tertentu. Silahkan kalua mau berpolitik secara pribadi, tapi jangan bawa-bawa organisasi petani. Biarlah organisasi petani netral dari politik,”pintanya.

Karena itu, petani yang ada di hulu harus fokus pengembangannya di hulu. Jangan berpikir ke pabrik kelapa sawit kalau kebun saja belum mampu diurus secara baik dan benar. Dengan fokus pengembangan ke hulu atau ke kebun diharapkan produktivitas sawit petani bisa ditingkatkan secara signifikan, dan pada gilirannya pendapatan mereka pun bisa ikut meningkat.

Menurut Gamal, pemerintah punya program PSR (Peremejaan Sawit Rakyat), Sarpras, pelatihan dan lainnya untuk meningkatkan produktivitas petani. Hanya memang harus diakui bahwa banyak persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dulu oleh petani.

“Saran saya permudah persayaratannya supaya lebih banyak petani yng bisa dijangkau Jangan petani yang itu itu lagi yang dapat program,”ujarnya mengingatkan.

Wagub Jambi, Abdullah Sani menyatakan, Provinsi Jambi merupakan salah satu wilayah penghasil kelapa sawit yang cukup luas di Indonesia. Jambi termasuk salah satu dari 10 provinsi produsen kelapa sawit utama di negeri ini.

Luas perkebunan kelapa sawit di Jambi saat ini mencapai 1,2 juta hektar (ha). Dan kelapa sawit merupakan salah satu komoditi perkebunan unggulan di provinsi bersangkutan, selain karet, kelapa dalam, kopi, kayu manis, pinang dan tebu.

Perkembangan komoditas kelapa sawit di Jambi cukup pesat jika dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya. Dalam kurun 10 tahun terakhir (2012-2022), luas perkebunan kelapa sawit di Jambi mengalami kenaikan signifikan, lebih dari 109%.

Dan yang menarik, perkebunan kelapa sawit di Jambi, sebagian besar diusahakan oleh rakyat atau perkebunan swadaya. Luas lahan perkebunan kelapa sawit swadaya tahun 2022 mencapai lebih dari 60% dari total luas lahan yang ada. Itu pula sebabnya , sawit mempunyai peran yang strategis bagi pembangunan perekonomian di Jambi.

Luas wilayah Provinsi Jambi ± 5.343.500 hektar (ha) yang terdiri dari 9 kabupaten dan 2 kota, dari luas tersebut ± 36,18 % lahan perkebunan (1.933.322 ha).

Dari angka tersebut terdapat 20 tanaman perkebunan yang terdapat di Provinsi Jambi dan telah memberikan kontribusinya terhadap perekonomian masyarakat. Dari 20 tanaman tersebut, ada 7 komoditi utama perkebunan di Provinsi Jambi, yaitu kelapa sawit, karet, kelapa dalam, kopi, cassiavera, pinang dan tebu, dan 7 komoditas tersebut seluas 1.924.910 ha.

”Dalam hal ini peran sub sektor perkebunan bagi perekomian rakyat sangat besar karena 73% dari 7 komoditi unggulan tersebut merupakan tanaman perkebunan rakyat, hanya 27% tanaman milik perusahaan perkebunan,” ungkap Abdullah saat membuka Indonesian Palm Oil Smallholders (IPOSC) yang ketiga dengan tema Optimalisasi Sawit Rakyat Sebagai Penghasil Devisa di Pusaran Tata Kelola Sawit Berkelanjutan”, yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), di Jambi, Selasa (28/11).

Sehingga dalam hal ini, lanjut Abdullah, Pemerintah Provinsi Jambi memandang Sub Sektor Perkebunan sebagai prioritas utama, karena berkontribusi 17,8% terhadap PDRB Provinsi Jambi dengan nilai Rp37 trilliun.

“Kita telah mengekspor komoditas perkebunan dengan negara tujuan Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan Negara Semenanjung Arab, dengan nilai total ekspor Rp1,9 trilliun untuk 24 variasi komoditas, yang menempatkan Provinsi Jambi sebagai provinsi dengan nilai ekspor komoditi perkebunan terbesar nomor 3 di Indonesia,” paparnya.

Abdullah berharap prestasi ini sebagai pemicu agar dapat berbuat lebih baik lagi. Pemerintah Provinsi Jambi akan mengambil langkah kebijakan yang diperlukan untuk meningkatkannya, salah satunya dengan penerapan secara maksimal Peraturan Daerah Provinsi Jambi Nomor 19 Tahun 2019 yang mengatur tata niaga komoditi perkebunan.

“Melalui Perda ini, kita mengharapkan agar pekebun  mendapat nilai tambah dan posisi tawar yang lebih baik, guna meningkatkan kesejahteraan pekebun di Provinsi Jambi,” harap Abdullah.

Tidak hanya itu, Abdullah juga menghimbau adanya kemitraan yang sejajar antara perusahaan dan pekebun atau petani guna mengembangkan proses refleksi diri, meningkatkan proses penguatan kemampuan, dan proses pengembangan modal sosial.

Harapannya mitra tersebut menjadi komunitas yang komunikatif, untuk usaha perkebunan yang tumbuh secara alami, dan dalam proses perjalanannya akan berkembang menjadi lembaga yang solid dan harmonis karena dirajut oleh modal sosial serta mampu mensinergikan kekuatan seluruh pelaku kemitraan. Seperti diketahui bahwa di Jambi ini perusahaan perkebunan kelapa sawit tercatat ada 186 perusahaan.

“Kita harus dapat menjadikan kegiatan ini sebagai momentum dan wahana dalam berkiprahnya stakeholder perkebunan untuk meningkatkan pengabdian dan peran dalam pembangunan perkebunan. Selain itu, juga sebagai forum konsolidasi untuk mensinergikan berbagai sumber daya yang kita miliki untuk  dikerahkan dalam membangun perkebunan guna terwujudnya Provinsi Jambi yang MANTAP (Maju – Aman – Nyaman – Tertib – Amanah dan Profesional) di bawah Ridho Allah SWT,” tegas Abdullah. ***AP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini