Pemerintah bersama pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya, terus berupaya menjaga komitmennya dalam mendorong keberlanjutan industri sawit nasional, salah satunya melalui penyelenggaraan Andalas Forum V Tahun 2025 di Pekanbaru, Riau yang dilaksanakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).
Forum yang mengangkat tema ‘Hambatan, Tantangan, dan Strategi dalam Pengelolaan Industri Kelapa Sawit Indonesia yang Berkelanjutan’ ini menjadi wadah strategis dalam membahas tantangan utama di sektor sawit, termasuk hambatan legalitas lahan, pengoptimalan produktivitas, akses pasar hingga tantangan harmonisasi antara perkebunan besar swasta dan perkebunan rakyat.
Dalam sambutannya, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan), Heru Tri Widarto menyampaikan apresiasi kepada GAPKI atas kontribusi berkelanjutan dalam pembangunan sektor persawitan.
Dia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sipil dalam mendorong praktik industri sawit yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam menyediakan bahan baku pangan, energi, dan industri global. Namun potensi besar ini diiringi tantangan serius baik terkait produktivitas, legalitas lahan, pasar dan isu keberlanjutan
“Jadi, perl sinergi yang harmonis dari semua pihak,” kata Heru.
Salah satu strategi utama yang dibahas dalam forum ini adalah percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang ditargetkan mencapai 120.000 hektare per tahun. Hingga saat ini, realisasi PSR terus didorong agar dapat segera mencapai target yang diharapkan.
Tidak hanya itu, forum ini juga menyoroti pentingnya hilirisasi industri sawit dan implementasi energi terbarukan melalui program biodiesel nasional. Yang diharapkan nantinya dapat sebagai solusi energi hijau dan kemandirian nasional.
“Biodiesel merupakan masa depan energi Indonesia. Dengan menguasai 58 persen produksi minyak sawit mentah dunia, Indonesia punya potensi besar untuk mandiri energi dan berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon global,” sambung dia.
Kebijakan hilirisasi ini juga akan diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN KSB) sebagai instrumen koordinasi antar pihak dari hulu ke hilir. RAN KSB dinilai dapat memperkuat tata kelola industri sawit sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan.
Acara Andalas Forum V 2025 diharapkan dapat menjadi titik tolak penyusunan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin global dalam industri kelapa sawit yang berdaya saing dan ramah lingkungan.
“Tentunya kolaborasi yang baik dari semua pihak, menjadi kunci untuk menjadikan industri sawit kita ramah lingkungan dan berdaya saing global,” harap Heru.






























