Bulog Paparkan Strategi Distribusi Pangan di Tani On Stage

0
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani (tengah) berfoto bersama setelah menjadi narasumber di acara Tani On Stage bertema Swasembada untuk Rakyat, Pangan Kuat Indonesia Berdaulat dalam rangkaian Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2025 di Jakarta, Senin (22/12).

Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar Tani On Stage bertema Swasembada untuk Rakyat, Pangan Kuat Indonesia Berdaulat dalam rangkaian Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2025 di Jakarta, Senin (22/12).

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, salah satunya Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, yang memaparkan strategi Bulog dalam menjaga distribusi pangan nasional hingga ke daerah terpencil dan wilayah terdampak bencana.

Rizal menjelaskan, Bulog menjalankan tiga pilar utama, yakni menjaga ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, dan stabilisasi. Ketiga pilar tersebut, menurut dia, tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

“Kalau satu saja dipisahkan, output-nya tidak akan maksimal,” ujar Rizal.

Dia menuturkan tantangan distribusi pangan di Indonesia jauh lebih kompleks dibandingkan negara lain seperti Amerika Serikat, China, atau India yang memiliki wilayah daratan luas dan terhubung. Indonesia, dengan ribuan pulau, menuntut kesiapan jalur distribusi darat, laut, hingga udara.

“Gudang Bulog harus mampu menjangkau wilayah dari Sabang sampai Merauke. Tidak bisa disamakan antara satu pulau dengan pulau lainnya karena masing-masing punya tipologi dan tantangan berbeda,” kata dia.

Rizal mencontohkan wilayah Papua dan daerah pegunungan yang memiliki ongkos distribusi tinggi akibat keterbatasan akses transportasi. Kondisi serupa juga terjadi di daerah terdampak bencana, seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah, di mana akses jalan terputus di puluhan titik.

Dalam situasi tersebut, Bulog bersama TNI dan Polri menyalurkan bantuan beras menggunakan armada udara, termasuk pesawat Hercules dan helikopter. Namun, keterbatasan daya angkut menjadi tantangan tersendiri.

“Satu Hercules hanya bisa membawa sekitar 10–15 ton, sementara helikopter maksimal setengah hingga satu ton per penerbangan,” jelas dia.

Meski dihadapkan pada berbagai kendala, Bulog tetap berupaya menjaga pelayanan distribusi pangan, baik untuk penanganan bencana maupun kebutuhan masyarakat di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).

Salah satunya melalui penyaluran beras SPHP secara serentak di Papua Raya menjelang Natal dan Tahun Baru, serta rencana penyaluran serupa di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara.

Ke depan, Bulog juga bersiap memperkuat infrastruktur logistik nasional dengan membangun 100 gudang tambahan pada 2026 dan 100 gudang lagi pada 2027. Pembangunan tersebut ditujukan untuk meningkatkan cadangan pangan nasional hingga minimal 30 persen dari total stok nasional.

“Kami ingin Bulog siap menampung hasil panen petani, terutama di daerah sentra produksi. Gudang akan dilengkapi silo, rice milling unit, hingga mesin pengemasan,” kata Ahmad Rizal.

Dia berharap penguatan infrastruktur dan distribusi ini dapat mendorong terwujudnya pemerataan harga beras di seluruh Indonesia. “Ke depan, harapan kami beras bisa satu harga dari Sabang sampai Merauke,” pungkas dia.

Acara Tani On Stage ini tidak hanya menjadi wadah edukasi, tetapi juga momentum untuk menguatkan sinergi berbagai pihak dalam mewujudkan swasembada serta kedaulatan pangan yang berkelanjutan di Indonesia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini