Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman meminta Satuan Tugas Pangan Kepolisian Republik Indonesia (Satgas Pangan Polri) mengusut penyebab kelangkaan beras di lapangan.
Amran mengatakan, pasokan beras nasional dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Bahkan, stok beras nasional saat ini sangat kuat, termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog.
“Kami sudah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka. Tolong tidak ada pangan, khususnya beras, makanan pokok kita, (itu) langka,” tegas Amran dikutip dari rilis Bapanas, Jakarta, Sabtu (13/6).
Ia menyebut, seluruh gudang penyimpanan beras yang dimiliki Bulog saat ini telah terisi penuh. Stok beras nasional telah mencapai 5,3 juta ton, sementara kapasitas penyimpanan Bulog hanya mampu menampung 3 juta ton.
Untuk itu, pemerintah menyewa tambahan gudang dengan kapasitas 2,3 juta ton.
“Tidak ada langka. Semua gudang kita penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,3 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka,” tambah Amran.
Dengan kondisi tersebut, Amran meminta pelaku usaha tidak memainkan harga beras di pasaran. Ia menegaskan saat ini Indonesia berada dalam kondisi surplus beras sehingga tidak ada alasan bagi pelaku usaha untuk menaikkan harga di tingkat konsumen.
“Kalau dulu, stok di Bulog hanya 1 juta ton kemudian harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang, berbeda. Kita surplus. Kita sudah swasembada,” ujar Amran.
“Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami sudah sepakat dengan Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak,” sambungnya.
Selain itu, Amran juga mendorong Perum Bulog untuk dapat menyalurkan beras premium lebih deras lagi. Jadi tidak hanya menyalurkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang merupakan beras medium.
“Justru itu Bulog harus buat beras premium lebih banyak,” ujar Amran usai Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (10/6).
Arahan Amran tersebut senada dengan hasil Rapat Koordinasi Ketersediaan dan Stabilisasi Harga Beras di Ritel Modern yang digelar Bapanas secara daring (5/6). Salah satu opsi yang digagas pada rapat tersebut adalah Perum Bulog agar mempercepat intervensi pasar melalui penyaluran beras, baik medium maupun premium, guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga di tingkat konsumen.
Pasokan beras premium di ritel modern dilaporkan sedang mengalami keterbatasan. Untuk itu, menurut Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa sangat mendorong Perum Bulog untuk mengisi kekurangan suplai beras di ritel modern. Ini karena Bulog mempunyai merek beras premium, sehingga merupakan kesempatan emas dalam pemasaran beras komersial Bulog.
“Bukan langka. Saya kira kan kami juga kunjungan ke lapangan, melihat di ritel modern itu masih ada, (memang) tidak banyak tapi ada. Ini kesempatan Bulog masuk. Bulog kan punya Befood, punya Punokawan, Setra Ramos. Nah Bulog mengisi kekurangan suplai, jadi bukan langka. Ini bisa diisi oleh Bulog,” ucap Ketut.
Adapun dalam laporan yang diterima Bapanas, per 12 Juni stok beras komersial yang ada di Bulog masih berada di angka 11,4 ribu ton. Realisasi pengadaan setara beras untuk stok komersial pun terus bergerak. Saat ini telah mencapai 45,5 ribu ton dari total pengadaan 3,1 juta ton.






























