APINDO Sumsel dan Bank DBS Jajaki Pemberdayaan Petani Kopi

0

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumatera Selatan memperluas langkah pemberdayaan petani kopi dengan menggandeng Bank DBS Indonesia. Kolaborasi ini ditujukan membangun ekosistem kopi berkelanjutan, dari hulu ke hilir, dengan petani sebagai pusatnya.

“Sumatera Selatan adalah provinsi penghasil kopi terbesar, menyumbang 26 persen produksi nasional. Tapi kita tidak boleh berhenti hanya karena terbesar. Kita harus jadi yang terbaik—menjadi center of excellence kopi nasional,” ujar Ketua APINDO Sumsel, Sumarjono Saragih, dalam keterangan di Palembang, usai pertemuan dengan jajaran pimpinan Bank DBS Indonesia, 4 November 2025.

Bank DBS, salah satu bank terbesar di Asia Tenggara yang berbasis di Singapura, memiliki rekam jejak panjang dalam program sosial berkelanjutan lewat DBS Foundation. Lembaga ini mengalokasikan dana hingga Rp100 miliar untuk Indonesia selama tiga tahun, sebagai bagian dari komitmen global DBS Group senilai 1 miliar dolar Singapura. Dana itu difokuskan untuk meningkatkan kualitas hidup kelompok rentan dan mendorong kewirausahaan sosial.

Pertemuan di Palembang itu berlangsung hangat. Presiden Direktur DBS Indonesia, Lim Chu Chong, hadir bersama Angela Thenaria, Executive Director Institutional Banking Group, serta tim DBS Cabang Palembang. “Kami makan malam dan bicara tentang kopi Sumsel,” kata Sumarjono. “Kami ingin DBS melihat langsung potensi dan semangat petani kopi di daerah ini.”

APINDO sebelumnya telah menggandeng International Labour Organisation (ILO), badan di bawah PBB yang fokus pada isu ketenagakerjaan. ILO memberikan pendampingan terkait keselamatan dan kesehatan kerja di kebun kopi, juga peningkatan produktivitas petani—isu yang semakin relevan di tengah tekanan perubahan iklim.

Kali ini, sinergi dengan DBS diharapkan memperkuat aspek sosial dan ekonomi dari rantai nilai kopi Sumatera Selatan. Dalam diskusi itu, turut hadir Immanuel Xinata, Co-Founder SoCOFI (South Sumatera Sustainable Coffee Initiatives)—platform multipihak yang menampung berbagai inisiatif terkait kopi berkelanjutan di Sumsel. SoCOFI menempatkan prinsip ESG (Environment, Social, Governance) sebagai fondasi: menjaga kelestarian lingkungan, memperhatikan kesejahteraan sosial, dan membangun tata kelola yang transparan.

Sumarjono menegaskan, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu fokus utama. “Peran perempuan di kebun kopi sangat signifikan. Karena itu, kita ingin ada program khusus untuk peningkatan kapasitas, kesetaraan, serta jaminan sosial dan kesehatan bagi pekerja perempuan di sektor ini,” ujarnya.

Langkah APINDO Sumsel menggandeng berbagai mitra global mencerminkan upaya memperkuat posisi kopi Sumsel di pasar dunia, bukan hanya dari sisi volume, tapi juga dari kualitas dan keberlanjutan. “Kopi Sumsel Berkelanjutan adalah keharusan dan harapan kita bersama,” kata Sumarjono. “Dan itu hanya bisa terwujud kalau semua pihak bergandengan tangan.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini