TANGERANG — Upaya membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat menjadi modal hidup setelah kembali ke tengah masyarakat terus dilakukan. Yayasan Trias Kasih Putri bekerja sama dengan Lapas Kelas IIA Tangerang menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan berupa pembuatan mi ayam pangsit dan mi bakso bagi warga binaan, Senin, 29 Juni 2026.
Pelatihan yang diprakarsai oleh Drg. Putri Candrawati, warga binaan Lapas Kelas IIA Tangerang, itu diikuti oleh 25 warga binaan dengan didampingi 25 pendamping. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali peserta dengan keterampilan usaha yang dapat diterapkan setelah mereka menyelesaikan masa pidana.
Kepala Lapas Kelas IIA Tangerang, Dr. Triana Agustin, A.Md.IP., S.H., M.H., dalam sambutannya mengatakan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai wadah pembinaan untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke masyarakat.
“Pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi merupakan proses pembinaan agar setiap warga binaan memiliki kesempatan memperbaiki diri, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan diri menjadi bagian dari masyarakat yang produktif dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurut Triana, pelatihan pembuatan mi ayam dan mi bakso memiliki nilai strategis karena memberikan keterampilan praktis yang memiliki peluang ekonomi cukup besar.
“Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh kemampuan teknis membuat mi ayam dan bakso, tetapi juga menumbuhkan semangat berwirausaha, disiplin, kerja keras, dan rasa percaya diri. Bekal keterampilan ini diharapkan menjadi modal untuk membuka usaha secara mandiri setelah mereka kembali ke masyarakat,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Trias Kasih Putri atas kepedulian dan komitmennya mendukung program pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan. Menurutnya, sinergi antara lembaga pemasyarakatan dengan berbagai elemen masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Trias Kasih Putri, Dr. M.P. Tumanggor, menjelaskan bahwa penyelenggaraan pelatihan tersebut merupakan gagasan Drg. Putri Candrawati yang lahir setelah mendengar langsung harapan para warga binaan perempuan mengenai kehidupan mereka setelah bebas nanti.
“Berdasarkan pemantauan yayasan, cukup banyak mantan warga binaan perempuan mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan karena masih menghadapi stigma sebagai mantan narapidana. Karena itu, kami berupaya memberikan pelatihan yang dapat menjadi bekal untuk membuka usaha sendiri dengan modal yang relatif kecil,” ujar Tumanggor.
Ia mengatakan, usaha kuliner seperti mi ayam dan mi bakso dipilih karena memiliki pasar yang luas, mudah dijalankan, serta tidak membutuhkan investasi yang besar.
Menurut Tumanggor, sebelumnya Yayasan Trias Kasih Putri juga telah menyelenggarakan pelatihan pembuatan roti bagi warga binaan dengan tujuan serupa, yakni meningkatkan kemandirian ekonomi setelah mereka menyelesaikan masa pembinaan.
Selama pelatihan berlangsung, para peserta mengikuti praktik pembuatan mi ayam pangsit dan mi bakso mulai dari pengolahan bahan baku, pembuatan mi, penyusunan resep, hingga teknik penyajian yang memiliki nilai jual.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari para peserta. Mereka berharap Yayasan Trias Kasih Putri bersama Lapas Kelas IIA Tangerang dapat terus menghadirkan pelatihan-pelatihan kewirausahaan lainnya yang memberikan keterampilan praktis sebagai bekal membangun usaha mandiri setelah kembali ke masyarakat.
Melalui program pembinaan berbasis keterampilan seperti ini, diharapkan proses reintegrasi sosial warga binaan dapat berjalan lebih baik, sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk memperoleh penghasilan secara mandiri dan berkontribusi positif di tengah masyarakat.



























