Pemerintah akan memanfaatkan fasilitas penggilingan milik Wilmar yang disegel oleh Polri untuk memproduksi beras premium bagi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) usai mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas terkait Strategi Nasional Ekspor Beras Haji Nusantara ke Arab Saudi di Jakarta Pusat, Senin (9/2).
Zulhas menjelaskan, beras yang akan diolah berasal dari stok Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Namun, melalui proses penggilingan ulang menggunakan fasilitas Wilmar, kualitasnya akan ditingkatkan menjadi beras premium kelas satu.
“Ini kan berasnya SPHP, SPHP tapi diolah. Ada pabrik yang disegel oleh Polri yang Wilmar punya. Kita pinjam. Siap pinjam pakai,” kata dia.
Menurut dia, Bulog akan memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengolah beras sehingga produksinya meningkat menjadi beras premium kelas satu.
“Bulog pinjam pakai untuk mengolah itu sehingga produksinya premium kelas satu,” kata dia.
Lebih lanjut Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, Bulog diminta menyiapkan beras premium dengan spesifikasi khusus sesuai permintaan Arab Saudi.
Dia menyebutkan, beras yang disiapkan memiliki tingkat pecahan maksimal 5 persen, lebih rendah dibanding standar beras premium Indonesia yang umumnya mencapai 15 persen. Selain itu, kadar air beras ditetapkan 14 persen atau bahkan di bawah 14 persen, dengan karakter beras yang pulen.
“Nah, untuk itu kita diminta untuk nyiapkan beras ini. Nah, beras ini beras premium yang pecahannya hanya 5 persen, kadar airnya 14 persen atau bahkan di bawah 14 persen ini,” jelas Rizal.
Kemudian, sesuai arahan Menteri Pertanian, Bulog juga diminta menyiapkan beras yang benar-benar segar. Gabah yang digunakan berasal dari gabah kering panen (GKP) yang baru dipanen dan langsung diolah.
“Itu langsung kita bawa kebetulan yang tadi disampaikan oleh Pak Menko, kita gunakan alat adalah alat penggilingan yang ada di Wilmar,” ujar Rizal.
Rizal menjelaskan, fasilitas tersebut dipilih karena memiliki teknologi penggilingan yang canggih dan terkomputerisasi, sehingga menghasilkan kualitas beras yang sangat baik.
“Kenapa di Wilmar? Karena Wilmar alatnya canggih ya. Dengan apa, dengan computerized dan hasilnya bagus sekali. Yang mana beliau Wilmar sudah diizinkan untuk pinjam pakai, izinnya dari Kabareskrim kemarin. Kami sudah dapat surat izinnya untuk pinjam pakai,” jelas dia.
Dengan fasilitas tersebut, Bulog kini dapat mengolah gabah menjadi beras premium dengan pecahan 5 persen dan kadar air di bawah 14 persen. Spesifikasi ini sesuai dengan permintaan para pembeli di Arab Saudi.
Dia menambahkan, pembeli beras tersebut merupakan pengelola dapur jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Saat ini, Kementerian Haji Arab Saudi mewajibkan dapur-dapur tersebut menggunakan beras asal Indonesia.
“Nah, ini sesuai dengan permintaan dari buyer-nya yang ada di Saudi Arabia. Yang mana para buyer-buyer itu adalah para pengelola dapur-dapur jemaah haji Indonesia. Dapur-dapur ini sekarang diwajibkan oleh Kementerian Haji harus menggunakan beras Indonesia,” imbuh dia.






























