Impor Solar Turun Signifikan Berkat Biodiesel

0
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi pada diskusi Strategi Meningkatkan Daya Saing Kelapa Sawit Indonesia Melalui Hilirisasi, Kamis (6/6).

Seiring meningkatnya pemanfaatan bauran minyak sawit ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri, impor bahan bakar jenis solar pun terus mengalami penurunan.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi pada diskusi Strategi Meningkatkan Daya Saing Kelapa Sawit Indonesia Melalui Hilirisasi, Kamis (6/6).

“Jadi, impor solar itu sudah sangat menurun dan tadinya 12,5 juta kiloliter di tahun 2012 menjadi 3,2 juta kiloliter di tahun 2020,” ujar Eniya.

Eniya menyebut, penurunan impor solar ini terjadi seiring meningkatnya komposisi biodiesel yang telah dimulai 2009, saat itu pembiayaannya masih menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Jadi ini diidentikkan adanya pemanfaatan biodiesel yang tadinya tahun 2009 kita mulai, lalu makin ke sini komposisi dari biodiesel semakin naik. Itu tadinya penggunaan CPO 0,7 juta kiloliter, sekarang menjadi 10 juta kiloliter dan pada tahun ini sudah mencapai 12 juta kiloliter,” kata Eniya.

Menurut Eniya, penerapan biodiesel memang bertujuan mengurangi ketergantungan impor. Apalagi, Indonesia mempunyai potensi Crude Palm Oil (CPO) yang sangat besar. Sehingga, pemanfaatan CPO ini akan turut mendongkrak kesejahteraan petani.

“Dengan adanya pemanfaatan ini kita memperbaiki defisit neraca perdagangan serta menjaga stabilitas dari harga CPO,” tambah Eniya.

Di samping itu, lanjut dia, dari pemanfaatan CPO tersebut nantinya dapat menumbuhkan nilai hilirisasi dari agroindustri menjadi salah satu bagian dari supply chain pengadaan biodiesel.

“Tentu saja karena menggunakan bio double fuel tentunya negatif impact-nya terhadap lingkungan itu tidak ada. Jadi, pemanfaatan biodiesel ini sudah sangat komprehensif,” tambah dia.

CO2 Turun

Selain menurunkan impor solar, kata Eniya, pemakaian biodiesel juga berhasil menurunkan emisi karbon atau CO2 di Indonesia.

“Kalau kita lihat penggunaan B20 itu sekitar 10 juta ton CO2 bisa ditrunkan dan sekarang dengan adanya mandatori B35 itu bisa mencapai 33 juta ton CO2. Kita harapkan nantinya kalau pemanfaatan ini terus bertambah,” kata dia.

Eniya mengatakan, ke depan Indonesia akan memperbanyak porsi penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan. Saat ini, Indonesia sedang melakukan uji coba pemakaian B40. Adapun hasilnya dalam road test B40 sudah dilakukan.

“Pada saat ini mandatori B40 belum ada, tetapi telah dilakukan berbagai uji. Hasil tes di otomotif itu sudah dilakukan, sudah selesai tahun lalu dan tahun ini kita lakukan uji di sektor nonotomotif,” kata dia.

Di sektor otomotif sendiri, kata Eniya, jika dibandingan dengan hasil mandatori dari B35 ini tidak ada yang signifikan pada perubahan masa, volume, dimensi atau karet dalam materialnya.

“Kemudian, dari konsumsi bahan bakar sama dengan B35 dan sudah diujikan pada saat dinging (tempat dingin). Sehingga, dipastikan B40 tidak ada pengaruh kepada sektor otomotif,” imbuh dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini