Mentan Amran Sebut Penutupan Selat Hormuz Berkah bagi Pertanian

0
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berkemeja putih.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman didampingi Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda berkunjung ke pabrik pengolahan kelapa PT NICO, Minggu, 27 Oktober 2025. Dok: Kementan

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman bilang, gangguan di jalur penting dunia seperti Selat Hormuz memang ada dampaknya ke sektor pertanian. Tapi menurutnya, dampak baiknya justru lebih besar daripada dampak buruknya.

“Kalau kita ada dampak negatif dan positif. (Tapi) dampak positifnya lebih banyak,” kata Amran kepada awak media saat ditemui di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (6/4).

Amran yang juga Kepala Badan Pangan Nasional menjelaskan, salah satu dampak positif terlihat dari lonjakan nilai ekspor pertanian. Sepanjang 2025, peningkatan ekspor disebut mencapai Rp 160 triliun.

Tren tersebut berlanjut pada awal 2026, di mana ekspor komoditas pada Januari–Februari meningkat tajam seiring kenaikan harga global.

“Buktinya adalah ekspor kita meningkat Rp 160 triliun peningkatan ekspor kita 2025. Dan sekarang ini Januari—Februari meningkat tajam ekspor kita, komoditas. Kenapa? Harganya naik kan,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui ada dampak negatif, seperti kenaikan harga bahan baku plastik serta bahan untuk herbisida dan pestisida. Namun, menurutnya, komponen tersebut hanya bagian kecil dari keseluruhan biaya produksi pertanian.

“Yang terkena dampak plastik itu naik, kemudian herbisida bahan bakunya naik. Tapi bahan baku itu bagian kecil dari pertanian untuk herbisida, pestisida. Karena kami tahu persis kami ahli di bidang itu,” ungkapnya.

Amran mengatakan, pemerintah akan mendorong dampak positif dari situasi ini, salah satunya dengan mempercepat implementasi program biodiesel B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit ke dalam solar, untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar.

Ia mengatakan, pemerintah akan mengalihkan sekitar 5,3 juta ton crude palm oil (CPO) dari total sekitar 26 juta ton CPO yang diekspor untuk memenuhi kebutuhan program B50.

“B50 tahun ini kita berlakukan. Artinya apa B50? CPO kita yang kita ekspor kita alihkan 5,3 juta ton untuk menjadi biofuel. Kemudian kita hentikan 5,3 juta ton impor solar,” ujarnya.

Menurutnya, pengalihan ekspor tersebut justru memberikan dampak positif bagi sektor pertanian. Kenaikan harga komoditas di pasar dunia turut mendorong harga Tanda Buah Segar (TBS) petani.

Kondisi ini membuat petani lebih bersemangat merawat tanaman dan meningkatkan pemupukan, sehingga produktivitas sawit ikut terdongkrak. “Yang kita tidak sangka, yang kita tidak pernah duga adalah ekspor kita naik 6 juta ton CPO. Kenapa? Karena CPO-nya sawitnya TBS-nya mahal, bergerak,” ujarnya.

Tak hanya sawit, dampak positif dari gangguan di jalur Selat Hormuz juga dirasakan pada komoditas lain seperti kelapa.

Amran menyebut, harga kelapa di Maluku Utara melonjak dari sekitar Rp600 per butir menjadi Rp3.500 hingga mendekati Rp5.000 per butir. Kenaikan ini dinilai memberi keuntungan langsung bagi petani.

“Ini luar biasa, petani nikmati. Petani rawat kelapanya, kelapa dalam, sawitnya dirawat sehingga produktivitasnya naik, ekspor kita naik,” katanya.

Tokoh dari Sulawesi Selatan itu mengajak semua pihak memanfaatkan situasi geopolitik global yang memanas untuk mendorong sektor yang menguntungkan Indonesia, sekaligus memitigasi risiko yang muncul.

“Kita mengakselerasi yang menguntungkan Indonesia tapi memitigasi risiko yang terjadi karena setiap ada konflik pasti ada dampak positif-negatif. Positifnya kita akselerasi, negatifnya kita redam,” imbuhnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini