Mentan Amran Dorong PM-AAS Jadi Solusi Hadapi Alih Fungsi Lahan

0
lahan sawah
Hamparan sawah yang menguning dengan latar gunung dan langit yang biru. (Foto: Kementan)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mendorong penerapan metode Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) sebagai salah satu solusi menghadapi persoalan alih fungsi lahan sekaligus meningkatkan produktivitas padi nasional.

Mentan Amran mengatakan metode PM-AAS telah diuji coba selama dua tahun dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Produktivitas padi yang sebelumnya berada di kisaran 5–6 ton per hektare dapat meningkat menjadi 11–13 ton per hektare.

“Ini adalah solusi, pertama meningkatkan kesejahteraan petani, yang kedua adalah keberlanjutan swasembada pangan, ketahanan pangan, kedaulatan pangan. Nah, juga benar alih fungsi lahan, jadi ini dampaknya luar biasa,” ujarnya saat mengunjungi demplot PM-AAS di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Sukamandi, Subang, Rabu (2/9).

Menurut Amran, peningkatan produktivitas tersebut terutama didorong oleh peningkatan populasi tanaman. Populasi yang sebelumnya sekitar 360 ribu rumpun per hektare dapat ditingkatkan menjadi sekitar 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektare.

Dengan rata-rata produksi sekitar 13,8 gram per rumpun, populasi 800 ribu rumpun dapat menghasilkan sekitar 11 ton gabah per hektare. Sementara populasi 900 ribu hingga 1 juta rumpun berpotensi menghasilkan sekitar 12–13 ton per hektare.

Mentan Amran juga menilai metode PM-AAS memberikan keuntungan dari sisi waktu karena menggunakan sistem tanam langsung atau direct seeding. Benih langsung ditanam tanpa melalui proses pembibitan dan pemindahan bibit.

“Ini menguntungkan dari segi waktu. Pembibitan itu bisa memakan waktu dua minggu, tiga minggu, sedangkan ini langsung,” katanya.

Dengan sistem tersebut, Mentan Amran menyebut peluang untuk mempercepat tanam dan meningkatkan planting index menjadi lebih besar. Bahkan, penerapan metode ini dinilai memungkinkan petani mengoptimalkan penanaman hingga beberapa kali dalam setahun.

Dari sisi ekonomi, Mentan Amran mengatakan tambahan biaya penerapan PM-AAS relatif kecil dibandingkan potensi peningkatan pendapatan petani. Tambahan biaya, terutama untuk pupuk akibat meningkatnya populasi tanaman, sekitar Rp2 juta per hektare.

“Pengeluaran untuk menambah dua kali lipat ini hanya Rp 2 juta per hektare,” ujarnya.

Sementara itu, tambahan pendapatan petani dapat mencapai sekitar Rp35 juta dan berpotensi lebih tinggi, tergantung produktivitas serta perawatan tanaman.

Untuk memperluas penerapan PM AAS, pemerintah menyiapkan program subsidi benih. Amran menargetkan minimal 1 juta hektare lahan di seluruh Indonesia mendapat dukungan benih pada tahun depan.

Jika menggunakan asumsi tambahan produksi sekitar 5 ton per hektare, penerapan metode tersebut pada 1 juta hektare berpotensi menghasilkan tambahan sekitar 5 juta ton gabah.

Dia menegaskan peningkatan produktivitas menjadi salah satu upaya pemerintah menjaga keberlanjutan swasembada pangan. Menurutnya, produktivitas yang meningkat, biaya pupuk yang lebih rendah, serta harga gabah yang terjaga dapat mendorong kesejahteraan petani.

“Produktivitas naik, harga pupuk turun, kemudian harga gabah HPP-nya Rp6.500. Harga pupuk turun, produktivitas naik, petani sejahtera,” kata Mentan Amran.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini