Indonesia Turun dari Produsen Kakao Nomor 3 Jadi Nomor 7 Dunia

0
biji coklat dikeringkan
Biji kakao dijemur menggunakan greenhouse setelah melalui proses fermentasi selama lima hari hari dan dicuci bersih. Dok: Supianto/Majalah Hortus

Posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao terbesar dunia terus mengalami penurunan. Indonesia yang pada 2010 masih menempati peringkat ketiga produsen kakao dunia, kini berada di posisi ketujuh.

Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) Jeffrey Haribowo mengatakan penurunan posisi tersebut terjadi seiring berbagai tantangan yang dihadapi sektor kakao nasional, termasuk produktivitas yang terus menurun.

“Indonesia memang pada 2010 lalu itu merupakan negara dengan peringkat ketiga produsen Kakau dunia, namun pada seiring berjalannya waktu dengan berbagai tentangan yang ada, termasuk Indonesia memang turun menjadi sekarang produsen peringkat dengan nomor tujuh dunia,” kata Jeffrey pada webinar Tabloid Sinar Tani, Jakarta, Rabu (9/9).

Penurunan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap komoditas kakao. Pada 2024, Presiden Joko Widodo memberikan tugas tambahan kepada BPDPKS untuk turut merangkul komoditas kakao dan kelapa.

“Dan memang penurunan ini menjadi salah satu faktor utama ketika pada 2024 yang lalu, Presiden Jokowi Dodo memutuskan untuk memberikan tugas tambahan kepada BPDPKS pada waktu itu, untuk kemudian merangkul juga komoditas Kakau dan Kelapa,” ujarnya.

Jeffrey menyebut data yang digunakan Presiden Jokowi saat itu menunjukkan produksi kakao Indonesia berada di sekitar 180 ribu ton. Namun, dalam perkembangan terakhir, produksi kakao Indonesia mulai menunjukkan peningkatan.

“Tadi saya sempat menyampaikan di 2024 produksi kakao Indonesia adalah 120 ribu, namun ada berita baik bahwa selama dua tahun terakhir Indonesia telah mengalami peningkatan produksi hingga data terakhir dari musim terakhir dari ICCO itu International Coco Organization yang juga dikonfirmasi oleh data perdagangan Indonesia, data BPS yang perdagangan dan industri itu adalah sekitar 200 ribu ton,” lanjutnya.

Menurut Jeffrey, peningkatan tersebut menjadi kabar baik bagi Indonesia untuk kembali memperkuat keunggulan kakao di pasar global.

“Yang mana menurut saya itu adalah berita bagus sekali untuk kita Indonesia kembali meningkatkan keunggulan kita,” katanya.

Meski Indonesia berada di peringkat ketujuh sebagai produsen kakao dunia, kapasitas pengolahannya justru berada di posisi keempat dunia.

“Jadi jangan salah, Indonesia memang sepertinya produksi Kakau nomor tujuh, tapi produksi kita itu nomor empat. Nomor satu itu ada di Eropa, nomor tiga di Afrika, nomor empat di Indonesia. Jadi Indonesia itu adalah nomor empat untuk pengolahan Kakau di dunia,” jelas Jeffrey.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara produksi kakao di tingkat hulu dengan kapasitas industri pengolahan. Penguatan sektor hulu menjadi penting untuk memastikan industri dalam negeri memperoleh bahan baku yang cukup.

Jeffrey mengatakan sekitar 99 persen kakao Indonesia dikelola oleh pekebun rakyat. Saat ini terdapat 11 industri pengolahan kakao besar dengan kapasitas sekitar 700 ribu ton, tetapi baru terutilisasi 51 persen.

“99 persen dari 99 persen kakao ini di Indonesia dikelola oleh pekebun rakyat dan saat ini terdapat 11 industri pengolahan kakao besar di Indonesia yang memiliki kapasitas sekitar 700 ribu ton namun baru terutilisasi 51 persen,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut masih memberikan peluang besar untuk meningkatkan pemanfaatan kapasitas industri sekaligus memperkuat bahan baku domestik.

“Jadi masih ada peluang untuk kita meningkatkan utilisasi produksi industri ini sehingga kita bisa lebih optimal lagi dan salah satu idenya salah satu cita-citanya adalah bagaimana kita bisa mengoptimalkan bahan baku domestik bagaimana kita bisa mengurangi impor dan meningkatkan domestik supaya gap antara produksi dengan impor itu bisa terus mengecil sehingga kita lebih optimal ekspor kita tentu neracanya positifnya lebih besar berbanding yang terjadi saat ini,” katanya.

Karena itu, ASKINDO kini memperluas perhatian ke sektor hulu melalui integrasi dengan Cocoa Sustainability Partnership (CSP). ASKINDO selama ini lebih banyak bergerak di sektor industri dan hilir, sedangkan CSP berfokus pada sektor hulu.

“Namun mudah-mudahan dengan integrasi ini kami bisa lebih optimal untuk memperkuat dukungan untuk sektor kakau Indonesia dari ULU ke hilir,” ujarnya.

Jeffrey menegaskan penguatan bahan baku domestik menjadi kebutuhan penting bagi keberlangsungan industri kakao nasional.

“Industri sangat membutuhkan kemandirian bahan baku ya, jadi bahan baku ini, industri bisa bertahan jika ada bahan baku yang baik,” ujarnya.

Dengan penguatan sektor hulu dan hilir, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan produksi kakao sekaligus memanfaatkan kapasitas industri pengolahan yang telah tersedia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini