
Stok beras Perum BULOG saat ini tercatat sekitar 4,72 juta ton, turun dari sebelumnya sekitar 5,4 juta ton. Penurunan stok tersebut terjadi seiring tingginya penyaluran beras untuk kebutuhan bantuan pangan dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan penurunan stok tersebut tidak terlepas dari besarnya volume beras yang telah disalurkan kepada masyarakat sepanjang tahun ini.
“Yang kemarin 5,4 juta ton sekarang tinggal 4,722 juta ton. Kenapa angkanya jadi turun? Karena sudah banyak untuk bantuan pangan bulan Februari-Maret itu sebanyak 33,2 juta penerima manfaat dikali dua, lebih kurang sekitar 600.000 ton,” kata Rizal di Jakarta, Senin (14/9).
Menurut dia, selain bantuan pangan periode Februari-Maret, BULOG juga melakukan penyaluran bantuan pangan untuk periode Juli, Agustus, dan September. Total beras yang disalurkan untuk program tersebut mencapai hampir 1 juta ton.
“Ditambah lagi penyaluran SPHP. SPHP yang kami salurkan di awal tahun sampai hari ini sudah mencapai 800.000 ton,” ujarnya.
Rizal mengatakan besarnya realisasi penyaluran tersebut membuat stok beras BULOG berkurang cukup banyak. Penyaluran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan beras.
Di tengah tingginya penyaluran tersebut, BULOG juga memperhatikan kondisi stok di sejumlah wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan, salah satunya Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi.
Rizal melaporkan, stok beras BULOG di NTT saat ini mencapai sekitar 22.051 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 21.000 ton berada di gudang, sedangkan sekitar 802 ton berasal dari pengolahan lokal dan regional.
Menurut Rizal, BULOG telah memproses pengiriman tambahan beras untuk memperkuat stok di NTT. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi di wilayah terdampak gempa masih memprihatinkan dan masa tanggap darurat berpotensi diperpanjang.
“Kami juga sudah memproses pengiriman untuk menambah ketebalan stok yang ada di NTT, karena di NTT itu kami lihat nanti perpanjangan masa tanggap darurat sangat memungkinkan karena kondisi NTT sangat memprihatinkan,” katanya.
BULOG memperkirakan kebutuhan beras di NTT dapat meningkat selama masa tanggap darurat. Karena itu, perusahaan menyiapkan tambahan stok yang akan dikirim dari sejumlah wilayah yang memiliki persediaan cukup.
Rizal menyebut rencana pengiriman tambahan tersebut mencapai sekitar 75.000 ton. Pasokan antara lain berasal dari Banten dan Jawa Timur.
“Dari Banten 3.000, dari Jawa Timur 23.000. BULOG semua, Bu. Stok dari gudang,” ujarnya.
Dia menjelaskan pemindahan stok dari daerah yang memiliki persediaan cukup dilakukan agar beras dapat segera ditempatkan di wilayah yang membutuhkan. Menurut dia, kebutuhan beras NTT selama masa tanggap darurat diperkirakan bisa mencapai lebih dari 50.000 ton.
Selain melaporkan stok, Rizal juga memaparkan realisasi penyaluran beras BULOG di NTT. Hingga saat ini, total beras yang telah disalurkan mencapai 2.679.645 kilogram atau sekitar 2.679 ton.
Penyaluran tersebut digunakan untuk sejumlah kebutuhan, antara lain penanganan bencana alam sekitar 1.700 ton, cadangan pangan daerah sekitar 104 ton, serta bantuan pangan sekitar 839 ton.
BULOG juga telah menyalurkan bantuan ke sejumlah kabupaten dan kota terdampak di NTT. Penyaluran dilakukan berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah yang telah diajukan dan mendapatkan persetujuan pagu dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Dari kabupaten kota seberapa banyak yang diajukan itu yang disetujui,” kata Rizal.
Dalam penanganan bencana NTT, BULOG juga menerapkan pola percepatan penyaluran dengan mengacu pada pengalaman penanganan bencana sebelumnya, termasuk di Lombok, Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Rizal menyebut BULOG menerapkan sistem yang disebutnya sebagai “PDUB” atau “pukul dulu, urusan belakang”. Pola tersebut digunakan agar bantuan pangan dapat segera diberikan kepada masyarakat terdampak tanpa menunggu seluruh proses administrasi selesai.
“Kalau kita nunggu administrasi dulu, Bu, mohon maaf, pengalaman masyarakat sudah kelaparan ribut, Bu. Nanti kayak kejadian di Palu penjarahan. Itu yang kami antisipasi,” ujarnya.
Dalam penerapannya di wilayah terdampak, setiap kabupaten dan kota mendapatkan alokasi awal sebanyak 1.000 ton beras. Selain beras, BULOG juga memberikan 1.000 liter minyak goreng untuk masing-masing wilayah.
Bantuan awal tersebut diberikan sambil pemerintah daerah mengajukan kebutuhan berikutnya. Dengan pola tersebut, BULOG berharap kebutuhan pangan masyarakat terdampak dapat segera terpenuhi tanpa menunggu proses administrasi berjalan seluruhnya.
Rizal mengatakan langkah percepatan tersebut telah mendapat persetujuan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menurut dia, pola tersebut membuat penyaluran bantuan pangan di wilayah terdampak dapat berjalan tanpa menimbulkan gejolak di lapangan.
“Ini langkah kami yang kami ambil, sehingga alhamdulillah kondisi penyaluran berjalan dengan baik dan lancar,” kata Rizal.





























