Bekasi – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memperkuat investasi di bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing industri perkebunan Indonesia, khususnya kelapa sawit. Melalui berbagai program pendidikan, pelatihan, pendampingan, hingga riset, BPDP menargetkan lahirnya SDM unggul yang mampu mendorong produktivitas, hilirisasi, serta keberlanjutan industri sawit nasional.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Divisi Penyaluran Dana Pengembangan SDM Perkebunan BPDP, Sudi Bawa Suwita, dalam Orasi Ilmiah Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026.
Menurut Sudi, pembangunan SDM merupakan salah satu mandat utama BPDP setelah transformasi kelembagaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan. Selain mendukung peremajaan perkebunan, riset, sarana dan prasarana, promosi, serta hilirisasi, dana perkebunan juga diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi keberlanjutan sektor perkebunan.
“Pengembangan SDM menjadi investasi jangka panjang. Industri perkebunan membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi teknis, manajerial, dan kewirausahaan agar mampu menjawab tantangan global sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun,” ujar Sudi.
Ia menjelaskan, industri sawit saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO), persaingan pasar global, hingga tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani, sehingga diperlukan langkah strategis yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
BPDP, kata dia, menjalankan berbagai program yang saling mendukung, seperti stabilisasi harga CPO melalui pendanaan biodiesel, promosi positif sawit Indonesia, peningkatan produktivitas kebun rakyat, peremajaan sawit rakyat menggunakan bibit bersertifikat, riset dan pengembangan, bantuan sarana dan prasarana, serta pengembangan SDM pekebun. Seluruh program tersebut dirancang sebagai satu kesatuan untuk memperkuat industri sawit nasional.
Sudi menilai, peningkatan kualitas SDM menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat. Saat ini produktivitas kebun sawit rakyat masih berkisar 2–3 ton per hektare per tahun, jauh di bawah potensi optimal. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain penggunaan bibit yang tidak bersertifikat, usia tanaman yang sudah tua, serta rendahnya kompetensi sumber daya manusia.
“Karena itu peran SDM sangat menentukan. SDM yang kompeten akan mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, sekaligus menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia,” katanya.
Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan, BPDP tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga pekebun, penyuluh, pengurus koperasi, pendamping peremajaan sawit rakyat, auditor internal, tenaga pendamping sertifikasi keberlanjutan, hingga tenaga teknis dan manajemen di industri pengolahan sawit. Pendekatan tersebut dilakukan agar peningkatan kompetensi terjadi di seluruh rantai pasok industri perkebunan.
Menurut Sudi, memenangkan persaingan industri sawit global tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan atau kapasitas produksi. Indonesia memerlukan SDM yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi, menguasai inovasi dan teknologi, memperkuat hilirisasi, serta menerapkan praktik usaha yang berkelanjutan sesuai perkembangan regulasi nasional maupun internasional.
“Persaingan ke depan ditentukan oleh kualitas SDM. Inovasi, teknologi, efisiensi, dan keberlanjutan menjadi faktor utama yang harus dimiliki industri sawit Indonesia,” ujarnya.
Untuk itu BPDP mengembangkan berbagai program pendidikan dan pelatihan. Program pendidikan meliputi beasiswa jenjang Diploma I hingga Diploma IV serta Strata I pada berbagai bidang yang mendukung industri sawit. Sementara program pelatihan mencakup aspek teknis, manajerial, kewirausahaan, administrasi keuangan, hingga pendampingan di tingkat pusat dan daerah.
Selain beasiswa dan pelatihan, BPDP juga mendukung lomba riset mahasiswa, hibah riset sawit, serta riset inisiatif sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem inovasi yang berorientasi pada peningkatan daya saing industri perkebunan nasional.
Program pendidikan BPDP mencakup berbagai kompetensi strategis, mulai dari pembibitan, budidaya, teknologi produksi tanaman perkebunan, teknologi pengolahan hasil, teknik kimia, teknik mesin, teknik informatika, manajemen logistik, agribisnis, hingga penyuluhan pertanian. Program tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan puluhan perguruan tinggi di berbagai daerah, termasuk Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE), Institut Teknologi Sawit Indonesia, Politeknik LPP Yogyakarta, Institut Pertanian Stiper, Universitas Jambi, Universitas Hasanuddin, Universitas Lambung Mangkurat, dan berbagai perguruan tinggi lainnya.
Sudi mengungkapkan, hingga 30 Juni 2026, capaian Program Pengembangan SDM BPDP terus menunjukkan tren positif. Sejak program dimulai pada 2015, BPDP telah bermitra dengan 44 perguruan tinggi, menyalurkan beasiswa kepada 13.265 mahasiswa, serta telah meluluskan 4.975 penerima beasiswa. Di bidang pelatihan, sebanyak 32.152 peserta telah mengikuti berbagai program peningkatan kompetensi di berbagai daerah, termasuk pelatihan bagi pelaku usaha kecil dan menengah berbasis sawit.
Pada tahun 2026 saja, BPDP menargetkan penyaluran dana pengembangan SDM kepada 15.000 peserta pendidikan dan program pelatihan sebagai bagian dari upaya mempercepat peningkatan kualitas SDM perkebunan Indonesia.
Data BPDP juga menunjukkan peningkatan jumlah penerima beasiswa dari tahun ke tahun. Jika pada awal program hanya ratusan mahasiswa yang menerima manfaat, pada 2026 jumlah penerima beasiswa baru mencapai sekitar 5.000 mahasiswa, sedangkan peserta pelatihan meningkat menjadi 15.932 orang. Tren tersebut menunjukkan semakin besarnya investasi pemerintah dalam membangun SDM sektor perkebunan.
Bagi Sudi, investasi di bidang SDM merupakan fondasi utama bagi masa depan industri perkebunan Indonesia. Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas, hilirisasi, digitalisasi, hingga penerapan prinsip keberlanjutan, kualitas manusia menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan sektor perkebunan.
“Program Pengembangan SDM Perkebunan hadir sebagai investasi bagi negara, yang tidak hanya mendorong kemajuan perkebunan sawit, tetapi juga memastikan keberlanjutannya bagi masa depan Indonesia,” tutup Sudi.






























