Dewan Pengawas Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Sofyan Djalil mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan industri sawit agar tidak mengalami nasib yang sama dengan komoditas-komoditas Indonesia lainnya yang dulu berjaya, namun kini hanya menjadi kenangan sejarah.
“Kita pernah punya bermacam komoditi yang pernah hebat. Dulu bahkan Indonesia ini merdeka gara-gara komoditas cengkeh dan pala,” kata Sofyan dalam Dialog Profesional Sawit Indonesia dan juga Pengukuhan Pengurus HIPKASI di Jakarta, Sabtu (16/11).
Lebih lanjuta, Sofyan juga mengungkapkan bagaimana tebu pernah menjadi salah satu komoditas utama Indonesia. Bahkan salah salah satu konglomerat tabu di Asia saat itu berasal dari Indonesia.
“Pada zaman sebelum perang, tahun 30-an, kita pernah ekspor lebih dari 2 juta ton tebu. Sekarang, kita impor gula sekarang 6 juta ton. Bahkan untuk yang pangan saja tidak cukup. Balum lagi gula untuk industri,” kata dia. “Jadi, tinggal sejarah.”
Di Indonesia, teh juga pernah berjaya. Kota Bandung dibangun oleh industri teh. Namun, dalam perkembangan zaman, teh kini sudah tidak lagi dianggap prospektif untuk dibudidayakan di Indonesia.
“Saya waktu menteri BUMN, saya ingat dulu PTPN yang paling menderita adalah PTPN VIII karena produksi utamanya adalah teh. Harga teh waktu itu sekitar 1,8 dolar per kilo, hari ini harganya juga masih seperti itu,” kata dia.
Yang lebih mengerikan, karena teh kini sudah tidak lagi dianggap prospektif, banyak petani dan masyarakat yang akhirnya ingin mengganti tanaman teh ini menjadi komoditas hortikultura, seperti tomat dan kentang.
“Itu bahaya sekali terhadap lingkungan. Karena teh itu saja menjadi salah satu konservasi. Akarnya dalam. Kalau diubah dengan kentang, kentang begitu hujan itu terjadi erosi luar biasa,” kata dia.
Lalu, ada juga wacana kebun teh ini akan dijadikan sebagai tempat untuk memelihara sapi. “Bisa kita pelihara sapi karena daerah dingin. Tapi kalau tehnya dicabut, maka saya gak bayangkan ada sumber air nanti di Indonesia. Jadi bahwa teh itu pun tinggal sejarah,” kata dia.
Selanjutnya, Sofyan juga mengingatkan mengenai sejarah kejayaan Indonesia di sektor karet. Dia menuturkan, pada masa Perang Korea, para petani karet Indonesia mengalami kemakmuran luar biasa.
Dia lalu menceritakan pengalamannya bekerja di pabrik karet (kran rubber) di Aceh. Waktu itu harga karet itu sekitar 2 dolar per kilogram. Hari ini juga tidak jauh beda dengan itu. Bahkan lebih rendah.
“Lalu saya itu berkesimpulan, the whole commodity itu tinggal sejarah. Satu-satunya commodity yang bisa memberikan kemakmurah rakyat, kemakmurah masyarakat, kemakmuran industri adalah sawit,” kata dia.





























