Aceh Tamiang — Pascabanjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, pemulihan tak berhenti pada perbaikan rumah dan infrastruktur. Luka yang lebih sunyi justru membekas pada anak-anak—rasa takut, kehilangan rutinitas, dan terputusnya aktivitas belajar. Di tengah situasi itu, PT Padang Palma Permai (PPP), anak usaha Minamas Plantation, bersama Indonesia Heritage Foundation (IHF) Jakarta, menggelar program trauma healing bagi anak-anak terdampak bencana.
Program ini difokuskan pada pemulihan psikososial sekaligus menjaga keberlanjutan pendidikan di wilayah yang terdampak banjir bandang. Bencana tersebut sebelumnya memaksa sejumlah fasilitas pendidikan tidak dapat digunakan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Aktivitas belajar mengajar pun terhenti, menyisakan kebosanan dan tekanan emosional bagi anak-anak.
Selama lima hari pelaksanaan, sebanyak 178 anak mengikuti rangkaian kegiatan trauma healing yang digelar di tiga lokasi, yakni Bukit Meja, Batang Ara, dan Pondok Anggrung. Anak-anak terlibat dalam berbagai aktivitas edukatif dan rekreatif, mulai dari permainan kelompok, bercerita, hingga kegiatan kreatif yang dirancang untuk membantu mereka mengekspresikan emosi, membangun kembali rasa aman, dan menumbuhkan semangat belajar.
Area Controller Aceh PT Padang Palma Permai, MS Pasaribu, mengatakan pemulihan pascabencana perlu memandang anak-anak sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian khusus. Menurut dia, bantuan fisik saja tidak cukup untuk memastikan pemulihan berjalan utuh.
“Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan dan memulihkan kepercayaan diri. Lewat program trauma healing ini, kami berharap mereka bisa kembali tersenyum, kembali belajar, dan menjalani proses tumbuh kembang dengan lebih baik,” kata Pasaribu.
Upaya pemulihan psikososial ini mendapat sambutan dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tamiang, Supiyanto, menilai dukungan semacam ini penting untuk menjaga kesinambungan pendidikan anak-anak di masa pemulihan pascabencana. Ia menyampaikan apresiasi tersebut saat menerima kunjungan CSR Manager PT PPP, Agustiono.
Menurut Supiyanto, trauma yang tidak ditangani berisiko memengaruhi proses belajar anak dalam jangka panjang. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha, menjadi pelengkap bagi upaya pemerintah dalam memastikan anak-anak dapat kembali ke sekolah dengan kondisi mental yang lebih siap.
Senada dengan itu, Regional CEO Riau Utara dan Aceh Minamas Plantation, Tomi Parakesit, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus menyentuh aspek fisik, mental, dan emosional secara bersamaan. Ia menilai anak-anak sebagai kelompok paling rentan sekaligus penentu masa depan.
“Dalam situasi pascabencana, memastikan anak-anak pulih secara psikologis dan tetap terhubung dengan proses belajar merupakan tanggung jawab bersama. Pemulihan psikososial yang tepat akan membantu mereka bangkit lebih kuat dan menatap masa depan dengan optimisme,” ujar Tomi.
Dampak kegiatan ini dirasakan langsung oleh keluarga peserta. Santi, salah satu orang tua anak yang mengikuti program tersebut, mengaku melihat perubahan pada anaknya setelah kegiatan berlangsung. Sebelumnya, ia menyebut anaknya kerap murung dan kehilangan semangat akibat terhentinya sekolah pascabanjir.
“Setelah ikut kegiatan ini, anak saya jadi lebih ceria dan bersemangat lagi. Kami sebagai orang tua merasa sangat terbantu karena anak-anak tidak hanya diperhatikan kebutuhan fisiknya, tapi juga perasaannya,” kata Santi.
Selain program trauma healing, Minamas Plantation melalui PT PPP juga menyalurkan bantuan alat tulis dan buku sekolah kepada sejumlah sekolah terdampak di sekitar wilayah operasional perusahaan. Bantuan sembako untuk masyarakat sekitar pun terus diberikan sebagai bagian dari upaya pemulihan sosial dan ekonomi warga.
Melalui rangkaian inisiatif tersebut, Minamas Plantation menegaskan komitmennya untuk menjalankan program kepedulian yang berorientasi pada pemulihan berkelanjutan. Bagi perusahaan, pemulihan pascabencana bukan sekadar respons darurat, melainkan upaya jangka panjang untuk memperkuat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah operasionalnya.






























