Hari Kopi Nasional Jatuh pada 11 Maret

0
11-mare-hari-kopi-nasional

Kepengurusan DPP Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) telah mengusulkan kepada pemerintah agar 11 Maret dijadikan sebagai Hari Kopi Nasional sebagai penanda bangkitnya kopi Indonesia.

Menurut Ketua Umum Dekopi, Anton Apriyantono, masalah perkopian nasional perlu mendapat perhatian semua pihak mengingat selama ini lambat dalam pengorganisasian tidak sama seperti organisasi komoditas lainnya seperti sawit.

“Padahal kopi ini juga merupakan komoditi unggulan pemerintah yang menghasilkan devisa cukup besar,” kata Anton.

Usulan Hari Kopi Nasional yang jatuh pada 11 Maret disetujui Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan Pengukuhan Dewan Kopi Nasional, di Serpong, Tangerang Selatan, baru-baru ini.

“Tentu ini hari yang bersejarah di Indonesia. Pengukuhan pengurus ini sendiri langsung ditetapkan menjadi Hari Kopi Nasional,” kata Amran menegaskan.

Selain Hari Kopi Nasional, juga ada Hari Kopi Internasional yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober, dan dirayakan oleh sekitar 77 negara di dunia, termasuk Indonesia. Peringatan ini diresmikan Organisasi Kopi Internasional (ICO) sejak 2014 lalu.

Dibanding kopi dari negara lain di dunia, popularitas kopi Indonesia termasuk yang diminati dan dicari. Salah satu alasannya tak lain karena kopi Indonesia memiliki karakteristik dan cita rasa yang khas dan terbaik di dunia.

Negara-negara seperti Brazil dan Vietnam, boleh saja punya produksi kopi lebih besar ketimbang Indonesia. Akan tetapi, perihal rasa, kopi nusantara masih sulit untuk ditandingi.

Iklim tropis Indonesia, serta banyaknya pilihan pegunungan dengan ketersediaan air yang tinggi memang menjadi kelebihan tersendiri bagi Indonesia untuk menanam kopi.

Beberapa nama kopi nusantara yang sudah dikenal di kancah internasional secara komersial biasanya justru datang dari jenis arabika. Seperti kopi Gayo dari Aceh, kopi Mandailing dari Sumatera Utara, kopi Jawa dari Jawa Timur, kopi Kintamani dari Bali, kopi Toraja dari Sulawesi Selatan, kopi Flores dari Nusa Tenggara Timur dan kopi Wamena dari Papua.

Masing-masing varietas kopi tersebut memiliki aroma dan cita rasa yang berbeda. Perbedaan rasa ini tergantung ketinggian, kondisi kesuburan, ketersediaan unsur hara, serta kandungan kimia dari lahan yang menjadi media tanam kopi.

Kopi dari Bali (Kintamani), biasanya lebih fruity. Jadi, penikmat kopi bisa merasakan rasa dan aroma jeruk. Kalau kopi dari Jawa lebih dominan dengan rasa cokelatnya. Sementara kopi dari daerah Sumatera biasanya cenderung spicy, kaya dengan rasa rempah.

Jenis perawatan yang diberikan sebelum masa panen juga turut mempengaruhi kualitas kopi Indonesia. Petani kopi Indonesia sendiri dikenal sebagai petani yang ulet dan rajin.

Secara umum proses pasca panen terbagi menjadi tiga, yaitu proses basah, proses natural, dan proses madu. Belakangan di Indonesia, tepatnya di Aceh, telah berkembang proses pasca panen baru untuk menciptakan kopi dengan cita rasa wine.

Kebanyakan digunakan untuk mengolah kopi jenis arabika yang tumbuh pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut dan lahannya berpasir, seperti kopi Gayo.

Serupa dengan proses pascapanen natural, kopi Gayo Wine dijemur tanpa mengupas kulit buahnya lebih dulu. Jadi, setelah dipetik, buah kopi langsung dijemur selama 30 hingga 45 hari dalam kondisi utuh.

Bedanya, kopi dijemur di area tertutup. Biasanya digulung dalam terpal. Selama kurun waktu pengeraman itulah semua aroma yang dihasilkan oleh kulit kopi yang terfermentasi diserap oleh biji kopi. Sehingga memberikan pengaruh tersendiri dalam cita rasa biji kopi. ***SH, NM, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini