Produktivitas kelapa sawit Indonesia, terutama perkebunan rakyat, masih berada pada tingkat yang rendah, sekitar 3 ton per hektare per tahun.
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman mengungkap, beberapa faktor yang melatarinya.
“Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tanaman yang sudah tua, penggunaan bibit ilegal, dan rendahnya kompetensi SDM perkebunan kelapa sawit,” kata Eddy, dikutip, Rabu (22/5).
Karena itu, Eddy menegaskan, Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit ini merupakan inisiatif yang sangat penting untuk memastikan bahwa industri ini berkembang secara berkelanjutan.
“Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit, tetapi juga untuk memastikan bahwa industri ini berkembang secara berkelanjutan,” kata dia.
Terlebih, lanjut Eddy, tantangan dalam mencapai target nasional tahun 2030 untuk meningkatkan produktivitas minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menjadi sebesar 60 juta ton sangatlah besar.
“Sehingga, ini perlu didukung dengan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalisme, kemandirian dan dedikasi pekebun, tenaga pendamping, dan masyarakat perkebunan kelapa sawit lainnya,” kata dia.
Eddy mengatakan, BPDPKS terus mendorong agar penerima manfaat untuk kegiatan pengembangan SDM kelapa sawit dapat terus ditingkatkan setiap tahunnya.






























