
Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) kembali menggelar Evaluasi Tahunan Ilmiah Kinerja Agribisnis dan Perkebunan (ETIKAP) keenam di Hotel Manhattan, Jakarta Selatan, Rabu (11/6).
Ketua Umum GPPI, Delima Hasri Azahari dalam sambutannya menyampaikan, ETIKAP merupakan kegiatan tahunan GPPI. Kali ini mengusung tema “Diseminasi Inovasi dan Teknologi Petani Sawit, Kelapa, dan Kakao”.
“Alhamdulillah hari ini kita sudah menyelenggarakan ETIKAP yang keenam, artinya memang ada 2 tahun ketika COVID-19 kita tidak menyelenggarakan ETIKAP ini,” ujar Delima.
Lebih lanjut, Delima menjelaskan, pemilihan lokasi Hotel Manhattan memiliki makna historis. Menurut dia, pelabuhan Manhattan di New York merupakan salah satu pintu masuk pertama komoditas perkebunan Indonesia ke Amerika Serikat.
“Salah satu masuknya pertama kopi, karet, dan kakao Indonesia di benua Amerika itu melalui pelabuhan Manhattan, pelabuhan New York,” ujar Delima.
Lebih lanjut, Delimat menegaskan pentingnya peran sektor perkebunan dalam perekonomian nasional. Menurut dia kontribusi sektor ini bukan hanya dalam bentuk sumbangan devisa, tetapi juga sebagai penyerap tenaga kerja yang signifikan.
“Ini memperlihatkan betapa hebatnya kontribusi sektor perkebunan terhadap ekonomi Indonesia,” ujar Delima.
Dia juga menekankan, pentingnya sektor perkebunan tidak untuk memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability), yang dikenal dengan tiga pilar yaitu people (kesejahteraan masyarakat), planet (kelestarian lingkungan), dan profit (keuntungan ekonomi).
“People, planet, dan profit adalah moto dalam sektor perkebunan. Prinsip ini harus terus dipegang agar sektor ini tetap berkelanjutan,” tambah dia.
Delima juga menyoroti dampak kebijakan luar negeri, khususnya kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, terhadap kinerja ekspor komoditas perkebunan Indonesia. Isu ini menjadi sorotan mengingat AS adalah salah satu negara tujuan utama ekspor produk kelapa, kakao, dan sawit Indonesia.
Sebagai penutup, Delima juga menyampaikan apresiasinya kepada para peserta dan berharap ETIKAP tahun ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi kemajuan agribisnis dan perkebunan nasional.
“Kami sampaikan semoga evaluasi kinerja tahunan ilmiah agribusiness perkebunan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Kami dari GPPI tentu mengharapkan masukan dari bapak dan ibu sekalian,” pungkas Delima.
Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Haris Darmawa yang membuka acara ini juga menyampaikan, sektor perkebunan merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, terutama dalam hal kontribusi terhadap ekspor non migas dan perolehan devisa negara.
“Komoditas seperti kelapa sawit, kakao, dan kelapa telah menjadi andalan Indonesia di pasar global. Tidak hanya menyumbang miliaran dolar devisa setiap tahunnya, sektor ini juga membuka lapangan kerja bagi jutaan masyarakat,” ujar Haris.
“Tidak sampai di sana saja, komoditas ini juga meningkatkan kesejahteraan petani serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” sambung dia.
Selain itu, Indonesia memiliki peran strategis dalam penyediaan bahan baku, pangan energi, dan industri global. Namun dibalik potensi besar itu, Indonesia juga menghadapi hambatan dan tantangan tentunya.
Sebagai contoh kelapa sawit nasional. Diketahui dalam kurun waktu tahun 2021 sampai dengan 2024, luas area kelapa sawit nasional cenderung tidak mengalami peningkatan alias masih di dalam kisaran antara 16,83 juta hektare.
Hal ini sejalan dengan instruksi Presiden Nomor 8 tahun 2018 tentang penundaan dan evaluasi perizinan perkebunan kelapa sawit serta peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit dimana pembangunan kelapa sawit telah diarahkan kepada intensifikasi dan peremajaan.
“Hambatan dan tantangan dalam pengembangan sawit selain produktivitas yang masih rendah yaitu rata-rata masih di 3,8 juta ton per hektare, padahal kita mempunyai potensi sampai 5 ton per hektare per tahun,” kata dia.
Tantangan lainnya, lanjut dia, sebanyak 3 juta hektare sawit terindikasi berada di dalam kawasan hutan.
“Jadi mungkin Bapak-Ibu juga mendengar melihat di sosial media target PKH sekarang adalah pencapaian di bulan Agustus ini sampai 3 juta hektare. Targetnya baru mencapai sekitar 1,2 juta hektare,” pungkas dia.





























