
Produksi telur nasional tercatat surplus. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan telur ayam ras tetap aman dan mencukupi hingga Lebaran mendatang.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan kenaikan harga telur yang terjadi belakangan ini lebih dipengaruhi peningkatan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), sementara dampak Program Makan Bergizi (MBG) dinilai relatif kecil.
“Kalau saya melihat MBG ada pengaruh sedikit, tapi biasa namanya Nataru kan demand-nya naik, sehingga ada kenaikan,” ujar Ketut setelah melakukan monitoring harga bahan pokok di Transmart Cempaka Putih, Rabu (24/12).
Ketut menegaskan, secara nasional pasokan telur berada dalam kondisi sangat mencukupi. Bapanas memproyeksikan stok akhir tahun telur ayam ras pada 2025 mencapai 74,5 ribu ton, melonjak 154,2 persen dibandingkan stok akhir 2024 yang tercatat 29,3 ribu ton.
“Kalau secara nasional banyak, artinya intinya sangat memenuhi kebutuhan nasional secara nasional sangat banyak ini. Lewat Ramadan juga aman karena surplus kita. Jadi, kita enggak ada masalah kalau telur,” ujar dia.
Dari hasil monitoring yang dilakukan Bapanas bersama Perum Bulog, Kemenko Pangan, dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri, harga telur ayam ras di Transmart Cempaka Putih tercatat Rp30.000 per kilogram.
Ketut menegaskan harga telur di tingkat peternak masih berada dalam kisaran wajar. Saat ini, harga telur di peternak berada di rentang Rp 22.000–Rp 25.000 per kilogram, sehingga pedagang seharusnya masih dapat menjual telur di kisaran Rp 30.000 per kilogram.
“Secara prinsip kami sudah sering rapat dengan teman-teman apa peternak, mereka tetap di range Rp 22.000–25.000 per kilogram. Artinya mestinya pedagang masih bisa menjual dengan angka Rp 30.000 kilogram,” ujar dia.
Menyadur dari Panel Harga Pangan yang diampu Bapanas, rerata harga telur ayam di tingkat konsumen ras secara nasional mulai sedikit ada depresiasi dalam seminggu terakhir. Pengawasan akan diintensifkan pemerintah agar harga telur bagi masyarakat dapat mengarah ke level harga yang wajar.
Per 24 Desember, rerata harga berada di Rp 31.595 per kg. Ini mulai ada penurunan dari seminggu sebelumnya yang Rp 31.671 per kg dan dibandingkan sehari sebelumnya yang Rp 31.669 per kg. Sementara provinsi yang memiliki rerata harga telur ayam ras paling rendah adalah Bali dengan Rp 27.635 per kg atau sekitar 7,8 persen lebih rendah dari HAP.
Adapun rerata harga telur ayam ras secara nasional berada melebihi HAP tingkat konsumen mulai terjadi di bulan Oktober. Saat itu rerata harga bulanan telur ayam ras berada di Rp 30.436 per kg. Untuk diketahui, sejak Januari 2025 rerata harga telur ayam ras yang dicatat Bapanas selalu berada di bawah HAP.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman telah memberi arahan agar jajarannya tidak boleh lengah dalam memantau dinamika harga pangan pokok telur strategis. Telur ayam ras juga menjadi sorotannya karena stok nasional mencukupi.
“Tadi telur alhamdulillah baik, tetapi kita tidak boleh lengah. Telur cukup. Saya katakan tidak boleh naik. Kalau naik, kita tindak. Ini karena stok kita cukup. Telur ayam lebih dari cukup. Jadi aman,” kata dia di Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur (23/12).





























