
Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan memantau ketersediaan serta harga bahan pokok di tiga pasar Jakarta Timur menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Ketiga pasar yang menjadi lokasi monitoring yakni Pasar Rawamangun, Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), dan Transmart Cempaka Putih. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian stabilitas pasokan dan harga pangan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan harga beras di Pasar Rawamangun dan PIBC masih sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Bapanas.
“Dari monitoring kami, khususnya di Pasar Rawamangun dan Pasar Beras Cipinang, harga beras kami yakinkan sesuai dengan HET. Rata-rata bahkan berada di bawah HET, baik beras medium maupun premium,” ujar Rizal.
Dia menjelaskan, HET beras medium ditetapkan sebesar Rp 13.500 per kilogram, sementara beras premium Rp14.900 per kilogram. Namun di PIBC, harga beras medium rata-rata dijual di bawah Rp13.000 per kilogram dan beras premium di bawah Rp14.000 per kilogram.
Sedangkan untuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), harga yang ditemukan di Pasar Rawamangun masih sesuai dengan ketentuan Bapanas, yakni Rp 12.500 per kilogram.
“Tidak ada yang naik dan itu standar. Kemarin juga Bapak Menteri Pertanian selaku Kepala Bapanas waktu kunjungan ke Surabaya dengan kami juga melakukan pengecekan di Pasar Wonokromo dengan harga yang sama. Bahkan di sana lebih murah jadi Rp 62.000 per 5 kilogram,” ujar dia.
Namun demikian, Bulog menemukan pelanggaran Harga Eceran Tertinggi (HET) pada komoditas Minyakita. Di Pasar Rawamangun, Minyakita dijual dengan harga Rp 16.000 per liter, melebihi HET yang ditetapkan sebesar Rp 15.700 per liter.
Di lokasi yang sama, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa mengatakan, secara produksi pasokan cabai sebenarnya melimpah. Namun, faktor cuaca hujan memengaruhi kelancaran panen dan distribusi ke pasar.
“Produksi cabai sangat banyak, tetapi kondisi hujan memang mengganggu. Kemarin Pak Mentan sudah mendorong hampir 40 ton cabai dari Bener Meriah, Aceh, ke Jakarta. Dampaknya sudah terlihat, harga cabai mulai turun,” ujar Ketut.
Dia menyebutkan, harga cabai yang sebelumnya sempat menyentuh Rp80.000 per kilogram kini berangsur turun ke kisaran Rp 40.000–Rp 50.000 per kilogram. Meski cabai rawit masih relatif tinggi, tren penurunan harga mulai terlihat di sejumlah pasar.
Menurut Ketut, fluktuasi harga cabai juga dipengaruhi karakter komoditas yang mudah rusak (perishable). Saat hujan, petani kesulitan memetik meski produksi tersedia, sehingga pasokan ke pasar sempat berkurang.
“Barangnya ada, produksinya banyak. Tapi ketika hujan, petiknya terganggu. Begitu hujan reda, pasokan kembali masuk dan harga akan menyesuaikan turun,” jelas dia.
Ketut menambahkan, secara rata-rata tahunan, harga cabai masih berada dalam kisaran harga acuan. Dengan dukungan pasokan dari daerah sentra produksi seperti Bener Meriah serta langkah stabilisasi yang dilakukan Kementan dan Bapanas, harga cabai diharapkan terus bergerak turun dalam waktu dekat.





























