BPDP Himpun Rp31,5 Triliun Dana Pungutan Ekspor Sawit pada 2025

0
Kadip Perencanaan dan Pelayanan BPDP, Nugroho Adi Wibowo
Kadip Perencanaan dan Pelayanan BPDP, Nugroho Adi Wibowo dalam focus group discussion (FGD) Kampanye Sawit Baik Bersama Media “Sinergi untuk Sawit Berkelanjutan” di Jakarta, Senin (2/3).

Dana pungutan ekspor sawit yang dihimpun Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sepanjang 2025 mencapai Rp31,5 triliun. Dana tersebut digunakan untuk mendanai berbagai program strategis, mulai dari insentif biodiesel, peremajaan sawit rakyat (PSR), pengembangan sumber daya manusia, riset, hingga promosi sawit.

Demikian disampaikan Kadip Perencanaan dan Pelayanan BPDP, Nugroho Adi Wibowo dalam focus group discussion (FGD) Kampanye Sawit Baik Bersama Media “Sinergi untuk Sawit Berkelanjutan” di Jakarta, Senin (2/3).

Nugroho menyampaikan, volume ekspor sawit yang dikenakan pungutan tercatat sebesar 38 juta ton pada 2025. Angka tersebut tidak termasuk ekspor yang tidak dikenai pungutan.

“Kami juga menyampaikan bahwa di tahun 2025 kami telah menghimpun dana sekitar 31,5 triliun rupiah yang itu semuanya digunakan untuk program-program yang ada,” ujar dia.

Insentif Biodiesel Serap Rp47 Triliun

Dari sisi belanja, kebutuhan terbesar masih terserap untuk program insentif biodiesel. Pada 2025, penyaluran biodiesel untuk sektor Public Service Obligation (PSO) mencapai 6,9 juta kiloliter.

Nugroho memaparkan, besarnya selisih harga biodiesel dan solar yang berada di kisaran Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per liter membuat kebutuhan anggaran insentif membengkak.

“Sehingga tahun 2025 ini kita membutuhkan dana untuk kebutuhan biodiesel ini sekitar 47 triliun rupiah. Nah ini dana yang cukup besar,” katanya.

Secara kumulatif, total penyaluran insentif biodiesel yang telah dilakukan mencapai 83,8 juta kiloliter.

PSR 2025 Capai 43.590 Hektare

Sementara itu, realisasi program PSR pada 2025 tercatat seluas 43.590 hektare. Capaian ini masih berada di bawah target 100.000 hektare per tahun yang selama ini dicanangkan.

Jika ditarik sejak 2016, realisasi tertinggi PSR terjadi pada 2020 dengan luas sekitar 94.000 hektare. Selebihnya, capaian belum pernah menembus angka 100.000 hektare.

“Tahun depan mungkin kita akan tingkatkan dari angka ini. Kita sudah sediakan dananya, semoga saja nanti di tahun 2026 program peremajaan sawit rakyat ini bisa meningkat baik secara luasannya maupun penerima manfaatnya,” ujar dia.

Sarana dan Prasarana Rp200,64 Miliar

Selain PSR, BPDP juga menyalurkan dukungan sarana dan prasarana bagi pekebun. Pada 2025 telah diterbitkan 65 Surat Keputusan Direktur Utama untuk paket kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi.

Program tersebut meliputi bantuan pupuk dan pestisida, penyediaan bibit, serta pembangunan jalan kebun guna mendukung peningkatan produktivitas.

“Secara total kita sudah menyalurkan dana sekitar Rp 200,64 miliar dari tahun 2020 sampai dengan 2025 ini. Yang terbanyak adalah penyaluran untuk Inten dan Eksten, kemudian juga jalan kebun,” ujar dia.

Pengembangan SDM dan Riset

Sejak 2016 hingga 2025, total penerima beasiswa yang dibiayai BPDP mencapai 13.265 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.910 mahasiswa telah menyelesaikan pendidikannya. 

Selain beasiswa, program pelatihan juga telah menjangkau 32.152 petani dan pelaku usaha sawit di berbagai daerah.

Di sisi penelitian dan pengembangan, pada 2025 BPDP mengalokasikan dana lebih dari Rp 100 miliar. Salah satu riset yang mendapat dukungan adalah pengembangan bensin sawit.“Kalau secara total jumlah peneliti yang terlibat lebih dari 1.400 peneliti,” katanya.

Dia menekankan bahwa riset yang dibiayai difokuskan pada inovasi yang siap diterapkan, dengan tingkat kesiapan teknologi  di atas level 7 agar hasilnya dapat segera diimplementasikan di lapangan.

Promosi Sawit

BPDP juga mengalokasikan anggaran untuk program promosi perkebunan kelapa sawit. Sepanjang 2025, dana sebesar Rp77,7 miliar disalurkan untuk berbagai kegiatan promosi.

Kegiatan tersebut mencakup diskusi, FGD, pameran, hingga kerja sama dengan media. Program ini turut melibatkan guru dan siswa, mahasiswa, pelaku UMKM, serta partisipasi dalam berbagai pameran dengan mendirikan booth baik di dalam maupun luar negeri.

Nugroho mengatakan, kegiatan promosi tersebut bertujuan memperkuat sentimen positif terhadap industri kelapa sawit, sekaligus memastikan citra sawit Indonesia dapat tersampaikan dengan lebih baik di pasar domestik maupun internasional.

“Ini adalah bagaimana kita meningkatkan sentimen positif media terhadap kelapa sawit, kemudian juga kita meningkatkan bagaimana nilai citra positif sawit ini bisa ter-deliver baik itu di dalam maupun di luar negeri,” pungkasnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini