Pemanfaatan Limbah Sawit untuk Teknologi dan Lingkungan

0
Plt. Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih, OR HL, BRIN, Handy Chandra dalam paparannya di acara Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE), Jakarta, Selasa (13/8)

Limbah sawit yang selama ini dianggap sisa kini terbukti memiliki manfaat ekonomi besar. Limbah ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai sektor di Indonesia, dari rehabilitasi lahan hingga produk biomaterial.

Demikian disampaikan Plt. Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih, OR HL, BRIN, Handy Chandra dalam paparannya di acara Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE), Jakarta, Rabu (14/8).

“Jadi, (manfaatnya) bukan cuma untuk pertanian saja atau untuk sawit saja, tapi berbagai aspek sektor yang bisa dimanfaatkan dari limbah sawit,” kata Handy.

Handy menjelaskan, sawit mempunyai dua limbah yaitu padat dan cair. Limbah padat terdiri dari tandan buah kosong sekitar 20-23 persen, tempurung sekitar 7-9 persen, serat 10-12 persen, batang, daun, dan tandan.

Sementara komoditas utama yaitu minyak kelapa sawit, yang menghasilkan nilai ekonomi dan juga nilai sosial budaya untuk masyarakat Indonesia, sekitar 20-30 persen, kemudian biji sawitnya sendiri sekitar 5-7 persen.

“Selain itu ada limbah cair, sekitar 21-30 persen yang tidak dimanfaatkan,” papar Handy.

Manfaat pertama dari limbah sawit yang disampaikan oleh Handy adalah penggunaan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) untuk proses fertilisasi dan rehabilitasi lahan pascatambang.

“Jadi dari sawit ini bukan cuma dimanfaatkan untuk sawit itu sendiri tapi bisa juga untuk rehabilitasi lahan tambang. Dan nanti bapak ibu lihat dimanfaatkan juga untuk stabilisasi lahan tol. Jadi, turunannya sangat banyak dan luar biasa,” kata dia.

Lebih lanjut, Handy menjelaskan bahwa teknologi rehabilitasi lahan pascatambang menggunakan TKKS dapat dikembangkan dalam tiga cara umum: pertama, sebagai biotekstil; kedua, sebagai bitumen; dan ketiga, untuk penanaman pohon lokal.

Handy juga menambahkan bahwa biotekstil telah dikembangkan dan saat ini sedang dikerjasamakan dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk tahun anggaran 2023 dan 2024.

Handy menjelaskan manfaat biotekstil ini, yaitu mencegah erosi, mengurangi surface runoff atau longsoran, dan mengatasi erosi alur.

“Biotekstil ini juga berfungsi untuk mengganti topsoil, mendukung pertumbuhan tanaman melalui cover crop, serta bertindak sebagai pembenah tanah atau soil conditioner. Selain itu, biotekstil ini juga digunakan sebagai mulsa untuk menjaga kondisi ideal tanah,” sambungnya.

Handy menambahkan, pengujian dan penerapan biotekstil telah dilakukan di tebing Jalan Tol Pekan Baru-Dumai pada tahun 2022, dengan menggunakan kokopit dan serbuk gergaji.

“Tahun ini, kami akan menerapkan TKKS, yang saat ini masih dalam proses pengadaan barang dan pencetakan. Kami berharap semuanya berjalan lancar dan tanpa kendala,” ungkap Handy.

Selanjutnya, di tebing sungai Jaletreng di Tangerang Selatan, penerapan biotekstil telah berhasil diimplementasikan dan tanamannya sudah tumbuh dengan baik. Selain itu, biomulsa dari sabut kelapa juga telah diterapkan di Sumatera.

Kemudian mulsa, sisa tanaman dari cangkang sawit dapat mengurangi penguapan air atau pupuk dan diletakkan di sekeliling benih dan dalam kantong saat berumur 2 bulan dengan ketebalan 1-2 cm. “Ini akan diuji coba tahun ini dari pembiayaan BPDPKS,” kata dia.

Handy juga menjelaskan mengenai Bitumen (biji tumbuh mandiri). Bitumen merupakan media pertumbuhan untuk mendukung kebutuhan nutrisi tanaman, benih tanaman, dan dilapisi dengan bio-fertilizer. Produk ini dapat menghemat waktu pembibitan sekitar 3-6 bulan.

“Jadi barangnya tinggal tanam saja, tidak usah melalui proses pembibitan. Tapi biji sudah ada di dalam dan bisa tumbuh kelihatan ini dalam 2 minggu, dalam 5 bulan, dan 18 bulan sudah jadi,” kata dia.

Selain manfaat TKKS tadi, limbah sawit juga dapat diubah menjadi biomaterial dengan teknologi nano.

“Limbah padat di industri sawit, dimanfaatkan untuk biorefinery, kemudian dari biorefinery ini ada tersisa atau limbah selulosanya itu dimanfaatkan, diolah menjadi nanoselulosa,” kata Handy.

“Kelebihan atau manfaat ini mempunyai sifat mekanik yang baik, mempunyai manfaat permukaan yang reaktif, dan mempunyai sifat optik transparan dan terbarukan mudah terurai,” tutur Handy.

Turunan dari aplikasi nanoselulosa atau mikroselulosa yang bisa dimanfaatkan oleh industri-industri lain seperti konservasi produksi energi, filtrasi udara, pengolahan air, aplikasi biomedis, kosmetik, farmasi, penginderaan, perangkat elektronik, industri kertas, kemasan, dan membran katalit.

Limbah biomasa sawit yang sudah diolah antara lain tandan buah kosong, batang pohon menjadi selulosa mikrofiber, nanokristal selulosa, dan nanofiber selulosa di skala lab.

“Kemudian dari tiga aplikasi ini menghasilkan produk-produk yang sudah ada di pasaran seperti MFC, CNC, dan selulosa mikro-nanofiber,” jelas dia.

Jadi mikroselulosa dan nanoselulosa ini bisa digunakan untuk aspek lingkungan sebagai adsorben, penyerap, dan fotokatalis. Untuk kemasan ramah lingkungan berupa biofoam dan bioplastik. Kemudian untuk elektronik, untuk energi, dan untuk alat-alat biomedis.

Pemanfaatan lain limbah sawit selain yang tadi adalah sebagai biokomposit, sandwich laminated lumber, komposit, dan biogas.

“Ini saya kira sudah umum ya, sudah banyak dilakukan oleh industri dan juga kampus dan juga dilaksanakan di level-level masyarakat.”

Handy mengatakan, BRIN terus mengembangkan riset dan juga inovasi dalam pemanfaatan limbah industri kelapa sawit, khususnya dua item ini yang telah dikerjakan oleh pusat riset lingkungan dan teknologi bersih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini