
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono tanggapi rencana pemerintah untuk menerapkan program biodiesel 40 persen (B40) pada tahun 2025.
Menurut Eddy, kebijakan B40 harus dilihat secara matang dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi dan situasi yang ada.
Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah stagnasi produksi sawit Indonesia dalam lima tahun terakhir, bahkan ada kecenderungan penurunan. Di sisi lain, konsumsi dalam negeri juga terus meningkat.
Pada tahun 2023, konsumsi minyak sawit untuk mandatori B35 tercatat sebesar 10,6 juta kiloliter. Dengan rencana penerapan B40, diperkirakan akan meningkat menjadi 11,1 juta kiloliter.
Eddy menyatakan, pihaknya tidak menolak program B40, malah sangat mendukung untuk ketahanan energi dalam negeri, namun kebijakan tersebut harus dilihat dengan cermat. “Dengan adanya B40, kita sama sekali tidak menolak, kita mensupport. Tetapi mesti memang harus dilihat situasi dan kondisi,” kata Eddy.
Menurut Eddy, produksi minyak sawit untuk mendukung program B40 ini mencukupi. Namun, tantangannya adalah apabila program B40 diterapkan, ada kemungkinan ekspor minyak sawit akan berkurang.
Menurut perhitungan yang dilakukan, Eddy memprediksi bahwa ekspor minyak sawit akan berkurang sekitar 2-3 juta ton, yang otomatis akan berdampak pada penurunan devisa negara.
“Nah, itu nanti devisa pasti akan berkurang. Nah, kalau devisa berkurang sementara saat ini insentif untuk biodiesel atau subsidi untuk biodiesel berasal dari dana ekspor, yang dipungut dari dana ekspor,” kata Eddy.
Eddy kemudian menekankan pentingnya menilai mana yang lebih menguntungkan untuk negara. Apakah lebih baik fokus pada ekspor yang bisa mendatangkan devisa, ataukah memaksakan kebijakan B40.
“Kalau saya berpikir ini lebih bagus, mana yang lebih menguntungkan untuk negara? Nah, kemudian kalau itu menguntungkan untuk negara, otomatis pasti menguntungkan untuk rakyat. Nah, itu yang maksud saya di sini harus diperhitungkan itu,” kata Eddy.
Sebab, lanjutnya, jika kebijakan B40 dipaksakan untuk diterapkan dan ekspor menurun, hal ini akan berdampak pada penurunan devisa negara, seperti yang terjadi pada tahun 2024.
“Ekspor tahun 2023, ekspor kita itu nilai divisa ekspor kita 30 miliar USD. Nah, kemungkinan, prediksi kita di 2024 ini mencapai kira-kira hanya sekitar 27 miliar USD. Jadi memang ada penurunan sekitar 3 miliar USD,” pungkas dia.





























