Pemilik Bangflo Apresiasi Inside Kementan, Dorong Kopi Lokal Mendunia

2
Pemilik Bangflo Handrianus Yovin Karwayu. Dok: Supianto

Pemilik Kopi Bangflo, Handrianus Yovin Karwayu mengapresiasi pelaksanaan INSIDE (INspiring to Develop) dengan tema Inspirasi Kopi Membangun Negeri, yang diselenggarakan oleh Biro Komunikasi dan Layanan Informasi bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan yang digelar di Auditorium Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian RI, Rabu (26/6).

INSIDE menjadi bagian dari rangkaian acara Kongres Tani IX dan Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) X yang berlangsung selama tiga hari di Kementan.

Yovin, yang hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut, menilai kegiatan seperti ini sangat penting sebagai bentuk nyata dukungan terhadap ketahanan pangan dan pengembangan sektor pertanian nasional.

“Menurut saya, acara ini sangat bagus. Apalagi saat ini pemerintah kita, Pak Prabowo sebagai Presiden, sedang fokus pada isu ketahanan pangan. Kita adalah negara agraris, jadi sektor pertanian dan perkebunan, termasuk kopi, harus mendapat perhatian khusus,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yovin menambahkan bahwa melalui event seperti ini, pelaku usaha tidak hanya mendorong produk primer, tetapi juga produk olahan bernilai tambah.

“Lewat event-event kayak gini kita bukan cuma jual di produk ininya, tapi juga ada produk-produk yang sudah jadi yang punya nilai tambah lebih itu bisa lebih dipromosikan, lebih diperhatikan seperti ini,” tuturnya.

Yovin juga menyoroti perkembangan industri kopi dalam negeri yang menurutnya mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Industri kopi kita sangat berkembang. Kalau dibandingkan tahun 2017 sampai sekarang, itu luar biasa. Kita punya pasar yang besar karena populasi Indonesia sangat banyak. Sekarang, dengan generasi milenial yang ada, kopi sudah jadi tren, jadi bagian dari gaya hidup, bahkan sudah jadi kebutuhan,” jelasnya.

“Kalau dulu anak-anak sekolah habis itu main, sekarang mereka bikin konten, kerja, punya banyak aktivitas. Jadi konsumsi kopi makin meningkat. Dan karena kualitas kopi kita, dari kebun sampai ke coffee shop, juga semakin bagus dan unik, maka daya tariknya pun semakin tinggi,” tambah Yovin.

Di samping memenuhi kebutuhan di dalam negeri, Bangflo juga menembus pasar ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Selandia Baru, hingga kawasan Timur Tengah. Yovin menyebut, jenis kopi yang diekspor antara lain arabika dan robusta.

“Kami ekspor dalam bentuk green bean (kopi biji mentah), arabika dan robusta. Volume ekspornya bervariasi, pernah 9 ton, 20 ton, bahkan pertama kali ke Selandia Baru hanya 350 kilogram. Tapi tahun ini mereka sudah PO 20 ton,” ungkapnya.

Menurut Yovin, tren ekspor pun menyesuaikan permintaan masing-masing negara. Jepang, misalnya, biasanya membeli satu kontainer kopi Flores per tahun, dengan pengiriman dua kali per musim panen. Sementara negara-negara Timur Tengah seperti Mesir dan Iran lebih banyak membeli kopi robusta, terutama menjelang musim dingin.

“Khusus untuk robusta, buyer biasanya minta ukuran biji besar, atau yang disebut ELB. Itu kami ambil dari Jawa Timur dan Sumatera Selatan. Mereka biasanya coba sampel dulu, lalu request spesifikasinya,” tambahnya.

Menurut Yovin, tren ekspor pun menyesuaikan permintaan masing-masing negara. Jepang, misalnya, biasanya membeli satu kontainer kopi Flores per tahun, dengan pengiriman dua kali per musim panen. Sementara negara-negara Timur Tengah seperti Mesir dan Iran lebih banyak membeli kopi robusta, terutama menjelang musim dingin.

“Khusus untuk robusta, buyer biasanya minta ukuran biji besar, atau yang disebut ELB. Itu kami ambil dari Jawa Timur dan Sumatera Selatan. Mereka biasanya coba sampel dulu, lalu request spesifikasinya,” tambahnya.

Potensi dan Tantangan Industri Kopi

Yovin menilai potensi ekspor kopi Indonesia sangat besar. Hal ini didukung oleh meningkatnya konsumsi kopi di negara-negara nontradisional seperti China dan kawasan Timur Tengah, yang sebelumnya lebih dominan mengonsumsi teh.

“Kalau dulu yang ngopi itu Jepang, Korea, Eropa, Amerika. Sekarang China dan Timur Tengah juga mulai ngopi. Pasarnya makin luas,” katanya.

Namun, industri kopi juga menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi hulu maupun regulasi ekspor.

“Tantangan terbesar kita itu di produksi. Sebagian besar kebun di Indonesia masih skala kecil, rata-rata cuma 500 meter sampai 1 hektare. Banyak pohon kopinya juga sudah tua, di atas 20 tahun. Kita perlu replanting,” jelasnya.

Selain itu, perubahan iklim juga turut memengaruhi produktivitas dan varietas tanaman kopi. Oleh karena itu, Yovin berharap ada dukungan lebih dari pemerintah dalam pengembangan varietas baru dan replanting kebun rakyat.

Sementara di tingkat internasional, Indonesia juga menghadapi tantangan dari regulasi negara tujuan ekspor, seperti kebijakan EUDR (European Union Deforestation Regulation) dari Uni Eropa.

“Sekarang bukan cuma soal sertifikasi, tapi juga soal isu deforestasi. Untungnya, pemerintah kita juga sudah melakukan langkah-langkah untuk melindungi hasil perkebunan kita. Tapi tetap, ini jadi tantangan yang harus kita cari solusinya bersama,” ujarnya.

Persaingan dengan negara penghasil kopi lain seperti Vietnam pun menjadi perhatian. Meski dari sisi cita rasa kopi Indonesia lebih unggul, dari sisi harga masih dianggap tinggi.

“Kopi kita enak, tapi orang luar kadang bilang harganya kemahalan. Karena kontur alam kita yang menantang, biaya produksinya juga tinggi. Jadi memang harus pintar-pintar kita posisikan kualitas sebagai nilai jual utama,” tutup Yovin.

2 KOMENTAR

  1. Sukses dan semangat Yovin, The Owner of Bangflo, bawa nama besar Niang Tana Sikka di Level nasional dengan karya dan inovasi produktif. Amapu benjer mole jaga plamang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini