Bulog Dapat Tugas Baru Selain Serap Beras dan Jagung

0
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani memberikan keterangan pers pada acara diskusi dan olahraga bersama di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/5).

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, Bulog mendapat tugas baru selain menyerap beras dan jagung dari petani yaitu kedelai.

Rizal mengatakan, penugasan tersebut diberikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat panen raya kedelai di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur Kamis (15/5).

“Sesuai arahan beliau, Bulog diperintahkan untuk menyerap hasil panen kedelai para petani yang ada di Nganjuk kemarin,” kata Rizal saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/5).

Purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal mengatakan telah melaksanakan penugasan tersebut dengan menyerap kedelai petani Nganjuk.

Selain penyerapan, Rizal mengatakan, Mentan Amran juga mendorong perluasan tanam kedelai secara besar-besaran guna mewujudkan swasembada.

“Dan arahan Bapak Mentan ke depan swasembada kedelai juga harus bisa dicapai dengan target yang akan dicapai adalah dengan memperluas lahan kedelai menjadi 1 juta hektar di seluruh tanah air,” ujarnya. 

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman bersama Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi , dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menggelar panen raya kedelai di Kabupaten Nganjuk pada Kamis pekan lalu.

Mentan Amran menegaskan kedelai merupakan komoditas strategis nasional karena menjadi bahan baku utama tahu, tempe, hingga berbagai produk olahan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. Karena itu, Indonesia harus segera keluar dari ketergantungan impor dan mulai membangun kemandirian produksi dalam negeri.

“Beras sudah swasembada, cabai swasembada, jagung, daging ayam kita ekspor, telur kita ekspor. Kalau kedelai selesai, di sinilah kedaulatan pangan Republik tercapai,” kata Mentan Amran

Menurut Mentan Amran, kebutuhan kedelai nasional saat ini masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

“Kalau kedelai, itu belum. Jauh. Ini kita impor 2,4 juta. Dari kebutuhan 2,6 sampai 2,7 juta nah ini yang paling jauh,” ujarnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kebutuhan kedelai nasional tahun 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton. Namun sekitar 95 persen atau 2,6 juta ton masih dipenuhi dari impor. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Rata-rata produksi kedelai nasional dalam lima tahun terakhir mencapai sekitar 227 ribu ton per tahun dengan luas tanam 136 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton per hektare. Hingga April 2026, produksi nasional mencapai 4.982 ton dari luas tanam 7.018 hektare.

“Selama ini kita terlalu bergantung pada impor. Padahal lahan kita luas, petani kita mampu, dan teknologinya tersedia. Karena itu kita ingin kebangkitan kedelai nasional dimulai dari daerah-daerah produktif seperti Nganjuk,” kata Mentan Amran.

Mentan Amran mengakui salah satu tantangan utama pengembangan kedelai adalah harga di tingkat petani yang masih rendah, yakni berkisar Rp 8.000–Rp9.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat minat petani menanam kedelai belum optimal.

“Tidak boleh kedelai dibeli di bawah Rp10.000 per kilo. Insyaallah, kami akan keluarkan keputusan dalam waktu singkat,” tegas Amran.

Karena itu, pemerintah mendorong penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) kedelai di kisaran Rp13.500 per kilogram agar petani mendapatkan keuntungan yang layak seperti halnya komoditas gabah dan jagung.

“Petani harus untung. Kalau harga bagus dan pasar terjamin, petani pasti semangat menanam kedelai. Negara harus hadir memastikan itu,” ujar Mentan Amran.

Selain jaminan harga, pemerintah juga memastikan hasil produksi benih yang dikembangkan bersama jajaran TNI akan dibeli dan dibagikan kembali kepada petani.

“Yang Bapak produksi, aku beli, baru dibagikan ke petani kembali,” kata Mentan Amran.

Mentan Amran menilai Jawa Timur menjadi salah satu wilayah paling potensial dalam mendukung peningkatan produksi kedelai nasional. Dalam dua tahun terakhir, produksi kedelai Jawa Timur rata-rata mencapai 54 ribu ton dengan luas tanam sekitar 28.100 hektare dan produktivitas 1,7 ton per hektare.

Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra penting dengan produksi rata-rata 8 ribu ton dari luas tanam 3.249 hektare dan produktivitas mencapai 2,2 ton per hektare. Produksi tersebut telah memenuhi sekitar 72 persen kebutuhan kedelai daerah setempat.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini