Rencana Ekspor 500 Ribu Ton Beras Premium ke Malaysia Hampir Deal

0
Beras memenuhi Gudang Sewa Bulog Romokalisari
Tumpukan karung beras memenuhi Gudang Sewa Bulog Romokalisari di Pergudangan Bumi Maspion, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Kamis, 14 Mei 2025. Dok: Supianto

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, pemerintah masih melakukan negosiasi harga terkait rencana ekspor 500.000 ton beras premium ke Malaysia.

Hal itu disampaikan Rizal saat ditanya terkait pertemuan dengan delegasi dari Sarawak, Malaysia di Surabaya beberapa hari yang lalu. 

“Untuk potensi ekspor sesuai dengan pertemuan kemarin di Surabaya dengan delegasi dari Sarawak, Malaysia, alhamdulillah sudah ada kesepakatan,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (22/5).

Dia mengatakan, pihak Malaysia sepakat untuk mengimpor beras dari Indonesia sebanyak 500.000 ton. Namun, ekspor baru akan dilakukan setelah kedua negara mencapai kesepakatan harga. 

“Jadi mereka sudah akan mengimpor dengan jumlah yang lumayan sekitar 500.000, harapan kami. Ini tinggal negosiasi harga sudah hampir fix. Nah, mudah-mudahan lebih cepat lebih bagus,” katanya. 

Rizal mengatakan penawaran awal dari pihak Malaysia berada di angka Rp 16.000 per kilogram atau sekitar 3,7 ringgit Malaysia untuk beras premium pecahan 5 persen.

Namun, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, dia menambahkan agar harga tidak dijual terlalu murah dan tetap menguntungkan petani, bangsa, dan negara. 

“Sehingga tidak menurunkan ataupun mengurangi profit dari para petani maupun pemerintahnya,” katanya. 

Menurut purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal, harga Rp16.000 per kilogram sebenarnya sudah cukup baik. Namun, jika berada di atas harga tersebut, akan lebih baik lagi.

“Kami tidak menargetkan, namun sesuai arahan Bapak Presiden kami akan diskusi dengan Bapak Mentan setelah beliau kembali dari Haji,” ujarnya. 

“Harapan (Bulog) ya yang lebih baik lebih tinggi lebih bagus,” sambungnya.

Selain soal harga, dia menyampaikan bahwa pihaknya kemungkinan akan memberangkatkan salah satu direktur beserta sejumlah staf untuk melakukan pembahasan ulang di Sarawak. 

Pembahasan tersebut bertujuan memastikan skema pengiriman, apakah dilakukan secara port-to-port atau melalui jalur darat dari Pontianak menuju Entikong sebelum masuk ke Sarawak.

“Nanti konsepnya seperti apa akan didiskusikan di Sarawak,” imbuhnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini