EU-CEPA Buka Peluang, Sawit, Kakao, Kopi Bebas Bea ke Uni Eropa

0
minyak sawit
Minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) berwarna merah keemasan, hasil ekstraksi dari tandan buah segar kelapa sawit. Foto: PT Agro Sinergi Nusantara.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam ekspor produk pertanian ke pasar Uni Eropa. Hal ini seiring dengan ditandatanganinya perjanjian perdagangan bebas European Union–Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (EU-CEPA).

Pernyataan ini disampaikan Sudaryono usai membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (Popmasepi) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (10/9).

Sudaryono menekankan, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang sangat kuat di sektor perkebunan. Keunggulan ini, menurutnya, menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus bersaing di pasar global.

“Kaitannya competitive advantage, kita punya kebun sawit terbaik terbesar di dunia, kita eksportir minyak sawit terbesar di dunia, kita punya kakao terbaik di dunia, kita punya kopi terbaik di dunia,” jelas Sudaryono.

Berangkat dari keunggulan ini, Wamentan Sudaryono mendorong generasi muda untuk memanfaatkan peluang besar ini, apalagi dengan langkah strategis pemerintah yang telah menandatangani perjanjian EU-CEPA.

“Sekarang kan hubungan dagang antar banyak negara kacau karena urusan tarif dan lain-lain. Perang dagang, perang tarif Amerika dengan beberapa negara. Nah, presiden kita telah menandatangani perjanjian EU-CEPA,” ujar Wamentan Sudaryono.

Melalui perjanjian ini, produk ekspor Indonesia yang masuk ke pasar Uni Eropa akan bebas bea masuk, sehingga memiliki harga yang lebih kompetitif dibandingkan produk dari negara lain yang belum memiliki kesepakatan serupa.

“Artinya, produk kita jadi lebih murah dan lebih kompetitif dibandingkan eksportir dari negara-negara lain seperti Vietnam, Thailand, dan sebagainya. Nah, ini peluang besar yang harus ditangkap, terutama oleh generasi muda agribisnis,” tegasnya.

Selain itu, ia menambahkan, saat ini anak-anak muda lebih mudah mendapatkan kemudahan dalam berkomunikasi lintas negara berkat kemajuan teknologi seperti internet dan media sosial, untuk mencari pasar produk mereka.

“Kenapa sekarang komunikasi dengan negara lain tidak seperti dulu? Dulu mau telepon saja harus pakai 001, 007, mahal. Sekarang kan sudah pakai sosial media, internet, dan lain-lain,” katanya.

Karena itulah, Sudaryono sangat mendorong anak muda untuk aktif berinovasi di sektor pertanian dengan berbagai inisiatif yang mendukung petani.

“Added value-nya (nilai tambahnya) itu ada di anak muda. Karena yang budidaya rata-rata sudah senior di pelosok dan biasanya sudah tidak kepikiran untuk bisa menembus langkah berikutnya,” ujarnya.

Lebih jauh, Mas Dar, sapaan akrabnya, berharap agar pengolahan dan perdagangan produk pertanian bisa dikawal oleh generasi muda, khususnya mahasiswa fakultas pertanian dan jurusan agribisnis.

“Apakah itu pengolahan, apakah itu perdagangan, kita berharap anak-anak muda, khususnya dari fakultas pertanian dan jurusan agribisnis, bisa mengawal ini. Saya tadi kasih masukan supaya mereka semangat,” imbuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini