Selama ini masyarakat mengenal sawit hanya sebagai bahan minyak goreng. Namun siapa sangka, minyak sawit merah ternyata berpotensi membantu pemulihan fungsi otak dan mengatasi gizi buruk atau stunting.
Demikian disampaikan Director SEAFAST Center LRI PGK IPB, Puspo Edi Giriwono, Ph.D, pada Talkshow Sesi I bertema “Peluang dan Tantangan Produk UKM Sawit” dalam Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit yang digelar di Serpong, Banten, baru-baru ini.
Puspo mengatakan, pihaknya telah melakukan penelitian untuk menangani gizi buruk yang selama ini terjadi, sekaligus sebagai upaya pencegahan stunting.
“Jadi, ini yang kami gunakan, modelnya tikus yang sengaja dibuat mengalami gizi buruk. Dengan gizi buruk ini akan menurun berat badan si tikusnya,” jelas Puspo.
Setelah kondisi gizinya menurun, jelas Puspo, tikus-tikus tersebut diberi pakan dengan kandungan yang berbeda-beda, yakni ada yang mengandung minyak sarden kaya omega-3, ada yang mengandung minyak kedelai, dan satu lagi diberi minyak sawit merah.
Kemampuan berpikir tikus-tikus itu kemudian diuji melalui labirin (maze test) untuk mengukur kecepatan dan ketepatan mereka dalam menyelesaikan tantangan.
“Ini kalau misalnya tidak ditangani, anak gizi buruk ataupun tikus gizi buruk, dia punya masalah menyelesaikan labirin ini,” jelas Puspo.
Menurut dia, tikus-tikus yang mengalami gizi buruk tidak menunjukkan banyak peningkatan dalam kemampuan menyelesaikan labirin. “Waktunya tidak banyak berubah, sekitar 39 detik, dan cenderung semakin menurun,” kata dia.
Kemudian, tikus yang diberi minyak sarden kaya omega-3 menyelesaikan labirin lebih cepat.
“Pertama tesnya sebagai contohnya adalah 3 menit, yang berikutnya itu lebih cepat lagi, penurunan waktu penyelesaian. Ini omega 3 menghasilkan penurunan yang tinggi,” jelas Puspo.
Selanjutnya, tikus-tikus yang diberi minyak sawit merah juga menunjukkan pemulihan kognitif akibat gizi buruk. Volume otak tikus yang diberi minyak sawit merah bahkan serupa dengan tikus yang diberi omega-3.
“Ini menunjukkan bahwa ke depannya, bukan hanya omega-3 yang efektif untuk meningkatkan fungsi kognitif. Minyak sawit merah juga sangat potensial,” jelas dia.
Selanjutnya, minyak sawit merah juga mampu mengatasi masalah kognitif akibat gizi buruk. Bahkan, volume otak tikus yang diberi minyak sawit merah hampir sama dengan tikus yang diberi omega-3.
“Jadi ini akan menjadi dasar untuk ke depannya itu adalah bukan hanya omega 3, untuk mengatasi kognitif itu. Tapi, minyak sawit merah pun itu sangat-sangat potensial, sangat efektif,” ujar dia.
Selain itu, minyak sawit merah dapat mengurangi stres oksidatif di otak dan hati, menambah deretan manfaat kesehatan yang bisa diperoleh dari minyak sawit, terutama minyak sawit merah.
Minyak sawit merah tidak hanya berpotensi meningkatkan fungsi kognitif dan mengurangi stres oksidatif di otak dan hati, tetapi juga membuka peluang bisnis bagi UMKM.
Apalagi, kata Puspo, membuat minyak sawit merah relatif lebih sederhana dibandingkan minyak sawit industri yang diolah hingga jernih, sehingga prosesnya cocok untuk skala UMKM.
Dari sisi peralatan, produksi minyak sawit merah skala kecil relatif mudah. Satu set peralatan sederhana untuk skala kecil diperkirakan seharga Rp 150 juta.
“Jadi, kenapa red palm oil (minyak sawit merah) menjadi salah satu kunci, karena cukup sederhana, aplikatif, dan ini banyak manfaatnya,” kata dia.
Kemudian, popularitas minyak sawit merah semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat tentang berbagai manfaat kesehatannya.






























