Asian Agri dan Apical Ajak Media Bangun Narasi Berimbang Industri Sawit

0
Head of Corporate Communications untuk Apical Group dan Asian Agri, Prama Yudha Amdan
Head of Corporate Communications untuk Apical Group dan Asian Agri, Prama Yudha Amdan memberikan sambutan dalam acara Buka Puasa dan Temu Media, Jakarta, Kamis (5/3).

Industri sawit tengah menghadapi tantangan citra di tengah derasnya berbagai isu yang berkembang di ruang publik. Bahkan, komoditas strategis tersebut kini kerap menjadi bahan olok-olok di kalangan generasi muda.

Head of Corporate Communications untuk Apical Group dan Asian Agri, Prama Yudha Amdan, mengakui dalam beberapa bulan terakhir industri sawit menghadapi tekanan persepsi yang cukup berat.

“Enam bulan terakhir ini industri sawit kayaknya apes amat. Kanan-kiri kita sama-sama dihajar oleh berbagai isu. Bahkan sekarang industri sawit sudah menjadi olok-olok Gen Z,” ujar Yudha dalam acara Buka Puasa dan Temu Media, Jakarta, Kamis (5/3).

Ia mencontohkan munculnya berbagai candaan di media sosial yang mengaitkan sawit dengan hal-hal negatif, bahkan hingga muncul kaos bertuliskan “Es Kelapa Sawit”. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa narasi mengenai industri sawit masih perlu diperbaiki.

Karena itu, ia menilai peran media menjadi penting untuk menghadirkan pemberitaan yang berimbang mengenai industri sawit yang selama ini memiliki kontribusi besar bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Teman-teman di sini, tahu betul bahwa industri sawit sangat krusial posisinya dalam kehidupan kita sehari-hari, mulai dari kita bangun tidur, kita mandi, sampai kita makan, sampai kita tidur lagi, ada sentuhan sawit,” ujarnya.

Ia menambahkan, membangun narasi yang lebih baik mengenai sawit bukan hanya tanggung jawab perusahaan semata, tetapi juga memerlukan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk media.

Director of Corporate Affairs RGE Palm Business, Johan Kurniawan menambahkan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas yang unik karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan.

Menurut dia, mulai dari minyak sawit yang digunakan sebagai bahan pangan dan energi hingga produk sampingannya yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk atau sumber energi.

“Inilah semangat daripada circular economy, tidak ada yang terbuang, semua kembali memberi manfaat. Namun, manfaat yang besar tidak hadir dengan sendirinya. Ia membutuhkan pengelolaan yang tepat, tata kelola yang kuat, dan komitmen jangka panjang,” ujarnya.

Di hulu, katanya, Asian Agri memastikan bahwa pengelolaan dimulai dari dasar yang benar. Dari pemilihan bibit unggul, praktik budidaya yang bertanggung jawab, hingga program replanting untuk menjaga produktivitas tanpa membuka lahan baru.

Kemitraan dengan petani juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri sawit. Menurut Johan, pertumbuhan yang kuat tidak dapat dibangun secara sendiri, tetapi melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Sementara di sektor hilir, Apical Group melanjutkan pengolahan sawit melalui rantai pasok yang terintegrasi serta pengembangan berbagai produk bernilai tambah.

Saat ini, sawit tidak hanya dimanfaatkan sebagai minyak goreng, tetapi juga berkembang menjadi berbagai produk turunan seperti oleochemical, functional fats hingga energi terbarukan seperti Sustainable Aviation Fuel.

“Manfaatnya menjangkau luas, dari kebutuhan rumah tangga hingga solusi transisi energi. Benar-benar dari dapur sampai avtur,” katanya.

Ia menambahkan, rangkaian proses tersebut menunjukkan bahwa sawit bukan sekadar satu produk, melainkan sebuah ekosistem terintegrasi yang mencakup pengelolaan kebun, pengolahan di pabrik, hingga menjadi produk yang sampai ke tangan konsumen secara bertanggung jawab. 

“Integritas dalam setiap tahapan tersebut menjadi kunci keberlanjutan industri sawit,” pungkasnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini