Pekanbaru — Sistem integrasi sapi dan kelapa sawit (SISKA) tak lagi sekadar konsep keberlanjutan. Dalam praktiknya, model ini dinilai mampu menghasilkan keuntungan ekonomi yang nyata di tingkat perkebunan, bahkan berpotensi berkontribusi terhadap defisit daging nasional yang selama ini sulit diatasi.
Hal itu disampaikan praktisi dan peneliti peternakan Australia, Richard Armstrong Slaney, dalam forum The 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026 di Pekanbaru, Rabu, 8 April 2026. Berdasarkan pengalaman proyek percontohan SISKA periode 2016–2020, ia menyebut sistem ini terbukti bekerja—baik dari sisi produksi maupun finansial.
“Di tingkat mikro, SISKA itu bekerja. Tapi keberhasilannya sangat tergantung pada manajemen dan disiplin operasional,” ujarnya.
Apalagi saat ini, Indonesia masih menghadapi persoalan klasik dalam penyediaan daging sapi. Pada 2026, defisit daging diperkirakan mencapai sekitar 2,4 juta ekor setara sapi per tahun. Kekurangan ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan sulit diatasi hanya dengan pendekatan konvensional.
Dalam konteks ini, SISKA dipandang sebagai salah satu pendekatan strategis. Dengan memanfaatkan lahan perkebunan sawit yang luas, sistem ini memungkinkan produksi sapi dilakukan tanpa perlu membuka lahan baru.
Namun, Slaney menegaskan bahwa SISKA bukan solusi instan. “Pertanyaannya bukan hanya apakah SISKA bisa membantu, tetapi bagaimana membuatnya berdampak signifikan terhadap skala nasional,” katanya.
Hitung-hitungan Bisnis
Dari sisi ekonomi, hasil uji coba menunjukkan angka yang cukup kompetitif. Biaya produksi sapi bakalan berbobot sekitar 320 kilogram berada di kisaran Rp 10,7 juta per ekor, atau sekitar Rp 33.600 per kilogram bobot hidup.
Angka ini, menurut Slaney, cukup bersaing dengan sapi impor, terutama jika memperhitungkan biaya tambahan seperti transportasi internasional dan fluktuasi nilai tukar.
“Produksi Australia memang lebih murah di hulu, tetapi ada biaya logistik dan risiko kurs. SISKA punya keunggulan karena tidak terpengaruh faktor tersebut dan tersedia sepanjang tahun,” ujarnya.
Lebih jauh, sebagian besar proyek SISKA mampu mencapai arus kas positif dalam waktu 2 hingga 4 tahun, dengan tingkat pengembalian investasi (IRR) berkisar 10–16 persen dalam jangka 10 tahun. Periode balik modal diperkirakan antara 8 hingga 10 tahun.
Dampak ke Perkebunan Sawit
Tak hanya menguntungkan dari sisi peternakan, SISKA juga memberikan manfaat langsung bagi perkebunan sawit. Integrasi sapi terbukti mampu menekan biaya penyiangan gulma dan mengurangi penggunaan herbisida.
Penghematan biaya pemeliharaan kebun diperkirakan mencapai 7 hingga 17 dolar Australia per hektare per tahun. Selain itu, penggunaan pupuk organik dari kotoran ternak juga menekan biaya pupuk hingga sekitar 25 dolar Australia per hektare.
Menariknya, produktivitas tandan buah segar (TBS) juga dilaporkan meningkat sekitar 4,1 persen. “Kebun menjadi lebih bersih, vegetasi lebih seragam, dan sekaligus menjadi sumber pakan,” kata Slaney.
Ia juga menepis kekhawatiran umum bahwa keberadaan sapi dapat merusak tanah atau menyebarkan penyakit Ganoderma. “Dalam sistem rotasi yang baik, tidak ada bukti bahwa sapi menyebabkan masalah tersebut,” ujarnya.
Kunci Sukses: Manajemen
Meski menjanjikan, tidak semua proyek SISKA berhasil. Slaney menyoroti bahwa faktor penentu utama bukan pada konsep, melainkan kualitas manajemen.
Proyek yang sukses memperlakukan usaha ternak sebagai unit bisnis utama, bukan sekadar kegiatan tambahan. Mereka memiliki manajemen menengah yang kuat, pencatatan data yang rutin, serta disiplin dalam pengambilan keputusan.
Sebaliknya, kegagalan sering terjadi karena manajemen yang tidak serius, nutrisi yang buruk, serta lemahnya pengelolaan reproduksi ternak. “Jika sapi kekurangan pakan pada fase kritis, dampaknya berantai—dari rendahnya tingkat kebuntingan hingga pertumbuhan yang buruk,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya seleksi ternak yang ketat. Sapi yang tidak produktif harus segera dieliminasi agar tidak membebani sistem. Selain itu, manajemen pejantan, fasilitas dasar, dan pencatatan data menjadi elemen krusial.
Peran dalam Rantai Pasok Nasional
Dalam skala yang lebih besar, SISKA dinilai memiliki posisi strategis dalam rantai pasok daging nasional. Sistem ini paling efektif pada tahap pembibitan dan pembesaran awal, memanfaatkan keunggulan lahan dan pakan di perkebunan.
Setelah mencapai bobot tertentu, sapi sebaiknya dipindahkan ke sentra penggemukan, terutama di Pulau Jawa yang merupakan pusat konsumsi daging nasional—sekitar 70 persen konsumsi berada di wilayah ini.
“Nilai tambah terbesar ada di integrasi hulu, sementara penggemukan lebih efisien dilakukan dekat pasar dan sumber pakan,” kata Slaney.
Namun, tantangan logistik menjadi faktor penting. Tingkat penyusutan bobot selama pengiriman (shrinkage) yang melebihi 5 persen dinilai tidak dapat diterima. Karena itu, diperlukan perbaikan sistem transportasi, termasuk pengembangan pelabuhan dan depo ternak.
Butuh Dukungan Kebijakan
Untuk mendorong skala yang lebih luas, Slaney menekankan perlunya dukungan kebijakan dari pemerintah. Insentif, kepastian regulasi, serta perbaikan infrastruktur logistik menjadi faktor kunci.
“Perusahaan perkebunan membutuhkan kepastian bahwa investasi mereka akan memberikan imbal hasil yang layak,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya stabilitas kebijakan antarwilayah, termasuk aturan distribusi ternak antar pulau. Perubahan kebijakan yang mendadak dapat merusak perencanaan jangka panjang dalam sistem terintegrasi seperti SISKA.
Dari Konsep ke Skala Nasional
Meski telah terbukti berhasil di sejumlah lokasi, volume produksi SISKA saat ini masih relatif kecil. Slaney menyebut, tanpa peningkatan skala, sistem ini hanya akan menjadi “konsep yang terasa baik” tanpa dampak nyata bagi pasar nasional.
Karena itu, ia mendorong kolaborasi antara perusahaan perkebunan, pelaku usaha peternakan, dan pemerintah untuk memperluas implementasi SISKA.
“SISKA bisa menjadi bagian dari solusi nasional, tetapi harus mampu bersaing di pasar volume—bukan hanya sebagai proyek percontohan,” ujarnya.
Di tengah tekanan untuk meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan, SISKA menawarkan jalan tengah yang menjanjikan. Namun, seperti diingatkan Slaney, keberhasilan sistem ini bukan ditentukan oleh ide besar, melainkan oleh eksekusi yang konsisten di lapangan.






























