Pekanbaru — Sistem integrasi sapi dan kelapa sawit (SISKA) kembali menjadi sorotan dalam forum internasional The 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026 di Pekanbaru, Rabu, 8 April 2026.
Dalam presentasinya, Associate Professor at Plant Production Systems group, Wageningen University, Maja Slingerland, menilai SISKA memiliki potensi kuat sebagai bentuk pertanian regeneratif di kawasan tropis, meski masih menyisakan sejumlah celah pengetahuan yang perlu dijawab melalui riset ilmiah.
Paparan Slingerland berangkat dari tantangan klasik Indonesia: tingginya ketergantungan pada impor daging sapi di tengah meningkatnya permintaan domestik. Menurut dia, integrasi ternak dalam perkebunan kelapa sawit bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produksi daging tanpa membuka lahan baru.
“Alih-alih memperluas padang penggembalaan yang berisiko mendorong deforestasi, kita bisa memanfaatkan lahan sawit yang sudah ada untuk penggembalaan sapi. Ini adalah konsep berbagi lahan,” ujarnya.
Konsep tersebut menjadi relevan karena baik padang rumput maupun perkebunan sawit selama ini kerap dikaitkan dengan perubahan tutupan hutan. Dengan menggabungkan keduanya dalam satu sistem, SISKA dinilai berpotensi menekan tekanan terhadap pembukaan lahan baru—selama produktivitas sawit dan ternak tetap terjaga.
Namun, di balik optimisme itu, Slingerland menekankan adanya dilema desain sistem. “Apakah kita ingin memaksimalkan produksi sawit, produksi sapi, atau mencari keseimbangan di antara keduanya? Ini masih menjadi pertanyaan besar,” katanya.
Tiga Model Integrasi
Dalam praktiknya, SISKA tidak berdiri dalam satu bentuk tunggal. Slingerland mengelompokkan sistem ini ke dalam tiga model utama: intensif, semi-intensif, dan ekstensif.
Pada sistem intensif, sapi dipelihara di kandang dengan pakan yang berasal dari limbah sawit seperti pelepah, gulma, atau tanaman pakan tambahan. Kotoran ternak kemudian dapat dikembalikan ke kebun sebagai pupuk organik. Sementara pada sistem semi-intensif, sapi digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari. Adapun sistem ekstensif memungkinkan sapi merumput sepanjang waktu di areal perkebunan.
Ketiga model tersebut, menurut dia, menawarkan pendekatan berbeda dalam mengelola hubungan antara tanaman dan ternak. “Ini bukan sekadar integrasi, tapi sistem campuran yang melibatkan pertukaran aktif antara produk tanaman dan ternak,” ujarnya.
Pelajaran dari Dunia
Slingerland juga memaparkan berbagai studi global untuk memperkaya perspektif SISKA. Di Brasil, misalnya, integrasi pohon dalam padang rumput terbukti mampu menurunkan suhu lingkungan dan mengurangi stres panas pada ternak. Dampaknya, produktivitas dan reproduksi sapi meningkat.
Selain itu, sistem terpadu tersebut berkontribusi pada peningkatan penyerapan karbon serta memperbaiki kondisi tanah. Sekitar 78 persen studi menunjukkan peningkatan biomassa mikroba dan keanekaragaman organisme tanah pada sistem terintegrasi dibandingkan monokultur.
Namun, tidak semua dampaknya positif. Naungan pohon dapat menurunkan produktivitas rumput jika tidak dikelola dengan baik. “Pemilihan jenis pohon, pola tanam, dan sistem penggembalaan menjadi kunci,” kata Slingerland.
Di Kolombia, pendekatan serupa menunjukkan manfaat tambahan berupa penurunan emisi gas rumah kaca per kilogram daging serta peningkatan biodiversitas. Meski begitu, negara tersebut tidak mengadopsi SISKA secara luas dalam bentuk penggembalaan di kebun sawit, antara lain karena kekhawatiran terhadap hama tertentu yang berkembang di bawah tegakan rumput.
Konteks Indonesia dan Malaysia
Lebih dekat ke Indonesia, praktik SISKA dinilai telah menunjukkan sejumlah manfaat nyata. Penggembalaan sapi di perkebunan sawit terbukti dapat mengurangi penggunaan herbisida. Studi di Malaysia menunjukkan bahwa kebun yang menerapkan penggembalaan memiliki penutup tanah yang lebih baik, erosi lebih rendah, serta kapasitas penyimpanan air yang lebih tinggi.
Selain itu, kehadiran ternak meningkatkan biodiversitas, termasuk populasi kumbang kotoran yang berperan penting dalam siklus nutrisi dan kesehatan tanah.
Namun, Slingerland mengingatkan bahwa narasi populer tentang manfaat SISKA tidak selalu sepenuhnya tepat. Misalnya, anggapan bahwa kotoran sapi dapat menggantikan pupuk kimia tidak berlaku dalam semua kondisi.
“Jika sapi hanya memakan gulma di kebun, maka kotorannya hanya mengembalikan nutrisi yang sudah ada. Tidak ada tambahan baru,” ujarnya. Tambahan nutrisi baru hanya terjadi jika sapi diberi pakan tambahan seperti bungkil inti sawit.
Dalam sistem intensif, potensi penggantian pupuk lebih besar—tetapi bergantung pada bagaimana kotoran dikelola dan dikembalikan ke lahan. “Ini bukan solusi otomatis, tetapi perlu manajemen yang tepat,” katanya.
Tantangan dan Celah Pengetahuan
Meski banyak bukti awal yang menjanjikan, Slingerland menegaskan bahwa SISKA masih menyisakan banyak pertanyaan ilmiah. Salah satunya adalah sejauh mana sistem ini benar-benar mampu meningkatkan kandungan karbon organik tanah dalam jangka panjang.
Di wilayah tropis, dekomposisi bahan organik berlangsung sangat cepat, sehingga menjaga keseimbangan karbon tanah menjadi tantangan tersendiri. “Kita membutuhkan data yang lebih akurat tentang berapa banyak biomassa dan kotoran yang benar-benar berkontribusi pada pembentukan karbon tanah,” ujarnya.
Selain itu, isu lain seperti dampak terhadap penyakit tanaman, termasuk penyebaran jamur Ganoderma, juga masih menjadi perdebatan. Begitu pula dengan efek penggembalaan terhadap pemadatan tanah dan siklus nutrisi.
Menurut Slingerland, pendekatan sistem yang komprehensif menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut. “Kita perlu membangun hubungan sebab-akibat yang jelas antara praktik regeneratif, dampak lingkungan, dan hasil produksi,” katanya.
Investasi untuk Masa Depan
Terlepas dari berbagai tantangan, Slingerland menilai SISKA tetap sebagai inovasi yang layak dikembangkan dan diinvestasikan. Ia menyebut sistem ini telah memenuhi kriteria pertanian regeneratif dari sisi praktik—seperti integrasi ternak, penggunaan input organik, dan pengurangan bahan kimia—serta sebagian dari sisi hasil, seperti peningkatan biodiversitas dan kesehatan tanah.
“SISKA secara definisi sudah termasuk pertanian regeneratif, meski belum sempurna dari semua aspek hasil,” ujarnya.
Ia pun mendorong kolaborasi riset antara lembaga internasional dan Indonesia untuk menutup kesenjangan pengetahuan tersebut. “Ilmuwan memiliki tugas untuk melampaui narasi dan menyediakan fakta. Dengan begitu, kita bisa memperkuat argumentasi untuk pengembangan SISKA atau bahkan menyempurnakannya,” kata dia.
Di tengah tekanan global terhadap keberlanjutan industri sawit, pendekatan seperti SISKA menawarkan jalan tengah antara produktivitas dan konservasi. Namun, seperti diingatkan Slingerland, jalan itu masih membutuhkan pijakan ilmiah yang lebih kokoh.






























